Memilih Bahan Konstruksi Dinding (Bagian 1)

 

Dewasa ini kita mengenal berbagai macam material yang bisa dipergunakan sebagai bahan konstruksi dinding. Selain batu-bata yang sudah dipergunakan sejak jaman kolonial, saat ini tersedia batako, beton ringan, beton pra cetak, dan berbagai material alternatif lainnya. Bahkan bambu plester dan styrofoam sudah mulai dipergunakan sebagai material penyusun dinding, walaupun masih sebatas proyek percontohan. Tentu masing-masing material di atas mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Kita perlu mengetahui sifat masing-masing material untuk dapat memperoleh aspek manfaatnya secara optimal. Kita bahas satu-satu ya…

Pembahasan ini kita batasi pada material yang berfungsi sebagai bahan pengisi dinding (non struktural). 

Batu Bata

Batu bata adalah material yang mungkin paling lama dikenal dan hingga saat ini paling jamak dipergunakan sebagai bahan pengisi dinding. Sebelum ditemukannya sistem struktur rangka, yang mengandalkan kekuatan balok dan kolom sebagai penopang kekuatan struktur, batu bata dipergunakan sebagai bahan pembuat struktur dinding pendukung (tanpa kolom dan balok). Karena kekuatan sistem struktur dinding pendukung bertumpu pada penampang dinding, untuk mendapatkan lebar dinding yang cukup, maka batu bata disusun secara melintang dengan panjang batu bata pada lebar dinding. Itulah yang disebut dengan dinding satu bata. Sedangkan teknik penyusunan batu bata yang kita kenal saat ini disebut dengan dinding setengah bata. Hal tersebut dimungkinkan karena batu bata pada saat ini hanya sebagai material pengisi dinding.

Untuk memperoleh permukaan yang halus dan kekuatan dinding yang lebih baik, pasangan batu bata dilapisi dengan plester dan aci di kedua sisinya. Plester dan aci juga berfungsi untuk menahan rembesan air dari luar.

Dinding batu bata mempunyai kelebihan sebagai berikut :

  • Memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap kekakuan struktur
  • Merupakan insulasi yang baik terhadap panas dan suara.
  • Mudah dalam pengaplikasian berbagai macam finishing, seperti cat dan wallpaper
  • Mudah dalam penempelan furniture dan aksesoris.

 

Tetapi dinding batu bata juga mempunyai beberapa kelemahan

  • Bahan bata yang mempunyai ukuran tidak presisi
  • Waktu pengerjaan yang lama
  • Stok material di pasaran tergantung musim, karena sebagian besar masih diproduksi secara tradisional.

 

Kualitas dan kekuatan dinding pasangan batu bata tergantung pada beberapa aspek :

  1. Kekuatan batu bata sebagai material penyusun. Kita mengenal berbagai jenis batu bata di pasaran. Mulai dari yang berukuran kecil hingga besar, mulai dari yang mempunyai permukaan yang halus hingga kasar. Pilihlah batu bata yang cukup kuat (tidak mudah patah) dan mempunyai tingkat kekasaran permukaan yang sedang. Permukaan yang terlalu halus akan mempengaruhi daya rekat antara batu bata dan adukan. Di pasaran memang tersedia batu bata dengan permukaan yang sangat halus yang diperuntukkan bagi dinding batu bata ekspose.
  2. Teknik penyusunan bata. Susunlah bata secara selang-seling untuk mendapatkan kekuatan yang optimal. sebaiknya jangan gunakan batu bata yang telah patah, kecuali patahan setengah yang memang diperlukan untuk bagian tepi. Dalam sekali pemasangan, batu bata maksimal bisa dipasang hingga ketinggian 1m. Setelah itu pemasangan harus dilakukan di bagian dinding yang lain untuk memberikan kesempatan bagi pasangan untuk mengering.
  3. Gunakan jidar (acuan) dengan bahan aluminium untuk mendapatkan pemasangan bata yang lebih presisi. Pemakaian jidar dengan kayu sebaiknya dihindari karena tidak terjamin kelurusannya. Teknik pemasangan bata sangat mempengaruhi tebal tipisnya plesteran. apabila pemasangan bata presisi, maka plesteran akan bisa lebih tipis, yang berarti lebih menghemat bahan, juga sebaliknya. Jidar harus di lot dengan timbangan/bandul karena menjadi acuan secara vertikal. Untuk mendapatkan acuan horizontal dipergunakan benang yang diikatkan di antara 2 jidar vertikal. Acuan benang biasanya diperoleh dengan selang yang berisi air untuk memperoleh posisi vertikal yang sama dengan hukum fisika bejana berhubungan. Jangan lupa, bekalilah tukang dengan water pas untuk mengukur kedataran batu bata yang dipasang. Memang pasangan batu bata tidak akan kelihatan setelah dinding diplester dan diaci, tetapi pemasangan yang lebih baik tentu akan bisa memberikan kekuatan dinding yang lebih baik.
  4. Kekuatan material pasangan. Material untuk pasangan bata menggunakan campuran semen dan pasir yang telah diayak. Gunakan campuran semen : pasir sebesar 1:3 untuk trasraam dan campuran 1:4 atau 1:5 untuk dinding biasa. Dinding trasraam terdapat di kamar mandi, dan bagian bawah dari seluruh dinding dengan jarak 50cm dari sloof. Karena memiliki semen lebih banyak, campuran trasraam ini lebih kedap air daripada adukan pasangan dinding biasa. Fungsinya untuk mencegah rembesan air dari dalam tanah masuk ke dalam dinding. Gunakan semen yang berkualitas baik serta pasir yang bersih. Ada cara mudah untuk mengetahui kualitas pasir. Celupkan saja segenggam pasir ke dalam air. Semakin keruh air yang diperoleh, berarti kualitas pasir semakin jelek karena bercampur lumpur dan tanah.
  5. Plesteran. Pasangan bata dilapisi dengan plesteran setebal 2-3cm. Bahan plesteran sama seperti pasangan, yaitu capuran semen dan pasir ayak. Untuk plesteran bisa mempergunakan campuran dengan semen yang lebih sedikit daripada pasangan, yaitu dengan perbandingan 1:5 atau 1:6 antara semen dengan pasir. Seperti halnya pasangan, kualitas semen dan pasir akan sangat mempengaruhi kualitas plesteran yang dihasilkan. Oh ya, jangan lupa untuk membasahi dinding bata yang akan diplester, supaya pengeringan kedua material yang berbeda tersebut bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan.
  6. Acian. Sebagai lapisan terakhir untuk mendapatkan permukaan dinding yang halus, dinding bata dilapisi dengan acian setebal 3-5mm. Bahan acian adalah semen yang dicampur dengan air. Tentu saja kualitas semen lah yang paling menentukan kualitas acian. Seperti halnya plesteran, jangan lupa untuk membasahi dinding yang telah diplester dengan air, supaya acian tidak terlalu cepat kering. Apabila acian terlalu cepat mengering akan terjadi retak-retak rambut pada permukaan dinding. Tunggu plesteran hingga 3-4 hari sampai mengering betul, barulah bisa dilakukan aplikasi finishing seperti cat dan wallpaper.

Demikianlah sedikit tips untuk memperoleh kualitas dinding rumah yang baik. Penting untuk mengikuti langkah-langkah pemasangan dinding bata secara benar, karena bila terjadi kesalahan dalam pemasangan dinding bata, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain membongkar dinding tersebut bukan ? Semoga bermanfaat.

 ImageImage

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

(Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip)

Tulisan Untuk Rubrik Bale, Suara Merdeka

Eksis dengan Bata Ekspose

Walaupun saat ini style minimalis – modern yang banyak mempergunakan material kaca, metal, dan beton seakan menjadi mainstream, tetapi hingga saat ini batu bata masih merupakan material yang paling dominan digunakan dalam suatu konstruksi bangunan rumah tinggal. Umumnya memang bata hanya dipergunakan sebagai bahan pengisi dinding yang nantinya tidak akan terlihat, karena tertutup finishing dinding seperti plester dan aci. Tetapi boleh saja kita memilih untuk menampilkan bata tersebut tanpa finishing, inilah yang biasa disebut bata ekspose. Bukan tidak mungkin, tampilan bata ekspose yang natural, etnik, dan sedikit tidak rapi, malah bisa mencuri perhatian di tengah-tengah tampilan bangunan saat ini yang cenderung seragam, modern, rapi, dan steril.

Tehnik pembuatan

Secara prinsip, untuk memperoleh ekspresi bata ekspose ada beberapa tehnik yang bisa dilakukan :

  1. Yang pertama adalah menggunakan batu bata biasa sebagai bahan pengisi dinding. Lalu dinding diplester seperti biasa. Yang membedakan adalah plesteran dinding tersebut dibentuk dengan pola seperti pasangan bata, lalu difinishing dengan cat. Tehnik yang sama dengan hasil yang jauh lebih baik bisa diperoleh dengan menggunakan materi batu bata yang dihancurkan sebagai bahan plesteran.
  2. Yang kedua, adalah menggunakan keramik/tile khusus dari bahan terakota yang berukuran seperti bata. Keramik terakota tersebut ditempelkan pada dinding bata biasa yang telah diplester dengan teknik yang sama seperti cara pemasangan keramik dinding biasa.
  3. Cara yang ketiga, yang merupakan cara paling sulit, tetapi juga memberikan hasil akhir yang paling ekspresif adalah menggunakan bata khusus bata ekspose sebagai bahan penyusun dinding.

Aspek yang harus diperhatikan

Untuk memperoleh dinding bata ekspose yang baik (dengan tehnik yang ketiga), ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Pemilihan bata. Tidak sembarang bata dapat dipergunakan. Bata yang bisa dipergunakan adalah bata yang memang diperuntukkan bagi dinding bata ekspose. Bata jenis ini biasanya mempunyai permukaan yang lebih halus, ukuran yang lebih presisi, dan lebih kuat dari batu bata biasa. Umumnya dikenal dengan Bata Bali. Ada pula jenis bata ekspose yang berongga udara di dalamnya. Pemilihan bata juga harus memperhatikan fisik bata, keseragaman warna, dan kematangan pembakaran. Sebaiknya bata yang retak atau patah tidak dipergunakan.
  2. Adukan. Gunakan adukan yang penuh pada setiap barisan bata. Gunakan semen yang berkualitas baik pada campuran adukan pemasangan bata. Kualitas dan campuran adukan harus konsisten, sehingga akan dihasilkan warna dan kekuatan yang relatif seragam setelah adukan mengering. Kualitas semen yang dipergunakan sangat penting. Karena tidak mempergunakan plesteran dan acian, maka kekuatan dinding bata ekspose hanya bertumpu pada dua hal, kualitas bata dan kualitas adukan. Campuran adukan sebaiknya dipergunakan 1 : 3 (semen : pasir), dengan ketebalan adukan 2-3cm.
  3. Kerapihan pemasangan. Berbeda dengan pasangan bata biasa yang hanya perlu memperhatikan kelurusan dan kerapihan pada satu arah saja (arah vertikal yang membentuk tebal dinding), maka pemasangan bata pada dinding bata ekspose harus memperhatikan kerapihak pada tiga arah. Dua arah selain arah tebal dinding tadi, adalah arah tampilan vertikal dan horizontal. Pola pemasangan memang tidak melulu harus seperti pola pada pemasangan bata konvensional. Anda bebas berkreasi dalam pola pemasangan bata. Namun, pola apapun yang dipakai, kuncinya tetap pada kerapihan pemasangan bata, kecuali Anda memang menghendaki pola yang tidak beraturan. Ketinggian maksimal dalam satu tahap pemasangan adalah 1-1,5m.
  4. 4.       Tenaga dan Alat. Tenaga yang berpengalaman mutlak diperlukan pada pembuatan dinding bata ekspose. Gunakan batang aluminium sebagai jidar (acuan pemasangan). Penggunaan jidar dari kayu sebaiknya dihindari, karena tidak terjamin kelurusannya.
  5. 5.       Pemasangan utilitas. Penggunaan tehnik bata ekspose yang menyeluruh pada bangunan menyulitkan pemasangan instalasi utilitas, misalnya jaringan kabel, pipa air bersih, dan pipa air kotor. Pilihannya adalah, mengekspose sekalian jaringan utilitas tersebut, atau menyembunyikannya pada bagian sudut-sudut dinding atau bagian dinding yang tidak menggunakan tehnik bata ekspose.

Biaya

Dari aspek-aspek di atas, lalu timbul pertanyaan, ‘dari aspek biaya, apakah pemilihan penggunaan tehnik bata ekspose memerlukan biaya yang lebih murah daripada dinding bata biasa ?’. Jawabannya adalah, ‘belum tentu’, bahkan cenderung ‘tidak’. Semua tergantung dari kualitas dinding bata ekspose yang ingin kita hasilkan. Memang dinding bata ekspose tidak memerlukan komponen material plester dan aci. Tetapi ada beberapa biaya tambahan yang perlu kita keluarkan bila memilih tehnik bata ekspose tersebut, yaitu :

  • Harga material bata yang lebih mahal. Satu buah bata ekspose berharga sekitar Rp. 1.700,- s/d Rp. 2.500.-. Bandingkan dengan harga bata press biasa yang hanya seharga Rp.500,- s/d Rp. 700,- per buah.
  • Ongkos tukang yang lebih mahal, tentu tukang yang lebih terampil akan membawa konsekuensi biaya tenaga kerja yang lebih besar.
  • Waktu yang lebih lama. Ketelitian yang diperlukan dalam pemasangan bata ekspose membuat waktu pengerjaan lebih lama bila dibandingkan dengan pemasangan bata biasa yang tidak perlu terlalu teliti.

Perawatan

Indonesia adalah daerah dengan iklim tropis dengan kelembaban yang tinggi. Sedangkan tehnik bata ekspose tentu akan menghasilkan terkstur permukaan yang sangat kasar yang merupakan tempat ideal bagi tumbuhnya lumut dan jamur. Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya lumut dan jamur maka permukaan bata ekspose – terutama yang berada di eksterior- perlu dilapisi dengan coating. Coating yang dipergunakan bisa sama dengan coating yang dipergunakan untuk melapisi batu alam. Saat ini tersedia banyak sekali coating di pasaran dengan berbagai ekspresi akhir yang dikehendaki, ada yang doff (alami , tidak mengkilat), gloss (mengkilat, memiliki efek basah), serta semi gloss yang berada di antara keduanya. Penggunaan coating tersebut bisa diulang setiap 6 bulan sekali. Pilihan lain adalah melapisi bata ekspose tersebut dengan cat tembok biasa, tetapi bila finishing tersebut yang dipilih, maka warna natural bata dan semen akan tertutup, dan kita hanya akan memperoleh tekstur sesuai dengan pola pemasangan bata.

Aspek estetis dan arsitektural

Di mana kita bisa mengaplikasikan dinding bata ekspose pada bangunan ?. Terserah Anda, Anda bisa mengaplikasikannya secara penuh pada seluruh bangunan atau hanya pada ruang-ruang tertentu, atau pada bidang-bidang dinding tertentu yang menjadi aksen pada suatu ruangan, atau bahkan hanya pada suatu elemen saja, misalnya kolom.

Lalu, style arsitektural apa yang cocok dengan pemakaian dinding bata ekspose?. Apakah harus bangunan dengan style tradisional dan etnik saja yang boleh memakai dinding bata ekspose?. Tidak juga, sebetulnya style apapun cocok-cocok saja dengan aplikasi dinding bata ekspose. Bila pada bangunan dengan style tradisional dan etnik dinding bata ekspose cenderung diaplikasikan pada seluruh bangunan. Pada style yang lebih modern dinding bata ekspose hanya dipergunakan sebagai aksen.

Memang, bila dilihat uraian di atas, penggunaan tehnik bata ekspose terkesan repot dalam pembuatan, biaya yang lebih mahal, serta perawatan yang lebih susah bila dibandingkan dengan dinding bata biasa. Tapi, setelah selesai, semua kerepotan itu akan terbayar tuntas, karena dinding bata eskpose akan memiliki kesan yang sangat unik, natural, etnik, dan mempunyai aksen estetis yang sangat kuat.

Anda akan sepakat dengan saya setelah melihat contoh-contoh rumah tinggal berikut ini yang menggunakan dinding dengan tehnik bata ekspose. (sumber gambar : arsindociptakarya.com; astudioarchitect.com; 88db.com; beritabagus.net; universalforum.info; wadero-architect.blogspot.com)

 


 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

Seperti dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka 24 Juni 2012 hal 28

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 909 other followers