Paperless, why not?

Tahun 1998, saya terbengong-bengong dengan berita bahwa pesawat terbesar di dunia pada saat itu, yaitu Boeing 777 yang berkapasitas 550 penumpang, ternyata didesain secara paperless. Jadi ya betul-betul nggak pakai kertas, tapi menggunakan berbagai macam aplikasi software komputer kayak CAD (Computer Aided Design), CAM (Computer Aided Manufacturing), dan CATIA (Computer Aided Three-dimensional Interactive Application). Istilah-istilah itu ya saya juga baru tahu sekarang setelah googling sekarang. hehe

Dan, saat ini, 14 tahun kemudian, barulah saya bisa melakukan hal serupa. Serupa?. Nggak ding, masih jauuuhhh sekaliii dibandingkan kehebatan para engineer Boeing yang bisa membuat design pesawat yang sangat sophisticated dengan tanpa menggunakan kertas. Whatever lah, yang jelas saya cukup senang bisa menyalahgunakan (baca : memanfaatkan) posisi yang saya punyai untuk menghemat kertas, begitulah intinya kira-kira.

Ceritanya, Alhamdulillah baru kali ini saya dipercaya jadi DPL (dosen pembimbing lapangan) bagi mahasiswa KKN di kampus saya. Capeknya jelas, bolak-balik semarang ke lokasi KKN dan keliling di sembilan desa jatah saya dari 15 desa yang ada di 1 kecamatan di sana cukup menguras energi. Anda tahu … KKN adalah sebuah kegiatan yang sarat dengan pelaporan. Dikit-dikit dilaporkan, hehe, saya malah jadi berpikir, jangan-jangan waktu 35 hari di sana, malah lebih banyak waktu untuk bikin laporannya daripada waktu untuk kegiatannya?.

Pada awal KKN, seluruh mahasiswa diminta untuk membuat LRK (Laporan Rencana Kegiatan), baru rencana itu lho… Di buku pedoman tertulis LRK harus diperbanyak 6 eksemplar. Setelah dilihat perinciannya, 6 eksemplar itu adalah untuk 1. LPPM, 2. Perangkat Desa, 3. Perangkat Kecamatan, 4. Pejabat terkait, 5. DPL, 6. Arsip Mahasiswa.

“Wah, nggak bener nih”, begitu pikir saya. Kalau cuman Rencana, paling yang perlu LPPM doang. Ya udah, akhirnya saya putuskan kepada mahasiswa untuk cukup mengumpulkan satu eks hardcopy saja, untuk LPPM. Desa dan kecamatan nggak usah, toh baru rencana (LRK). Sebetulnya DPL juga perlu buat penilaian, tapi saya pikir bisa dari soft file saja. Memang mengoreksi di file tentu lebih pening daripada membaca secara langsung di kertas, tapi nggak papa lah. Sayangnya, akhirnya ada 2 desa yang sudah terlanjur membuat 6 copy.

Lumayan lah menurut saya, bila setiap desa mempunyai LRK setebal 200 halaman, berarti penghematannya adalah 200 lembar x 15 desa x 5 copy = 15 ribu lembar kertas (30 rim). Belum menghitung biaya jilidnya. Angka itu akan bertambah 20x lipat, apabila kebijakan pengumpulan 1 hardcopy tersebut diterapkan pada seluruh mhs KKN dalam 1 periode saja.

Pada saat pengumpulan LPK (Laporan Pelaksanaan Kegiatan), angkanya akan lebih besar lagi, karena laporan dibuat tiap individu, bukan tiap desa. Untuk LPK saya tetapkan cukup membuat 3 hardcopy dari yang seharusnya 6 copy, 1 untuk LPPM, 1 untuk Desa, 1 untuk Kecamatan. Walau yang untuk kecamatan sebetulnya saya meragukan urgensinya. Tapi nggak papa lah, dikasih saja, nanti ndak malah marah kalau nggak dikasih, hehe. Untuk DPL lagi-lagi cukup soft copy saja. Bayangkan hitungannya, bila setiap mhs membuat laporan LPK individu + lampiran-lampirannya setebal 100 halaman.  Dalam 1 kecamatan ada 150 mhs. Penghematannya adalah : 150 mhs x 100 lembar x 3 eksemplar = 45 ribu lembar kertas. 90 rim sodara-sodara !! hampir seharga 3 juta rupiah. Dan ingat, angka itu akan membesar lebih dari 20x lipat, bila dikalikan jumlah seluruh mhs KKN dalam 1 periode saja yang ada lebih dari 3000 orang.

Begitulah, sebetulnya paperless atau tidak, bukan masalah teknologinya. Tidak perlu menggunakan software yang sangat canggih seperti yang dipakai para engineer Boeing itu untuk menjadi paperless. Paperless adalah masalah kemauan dan merubah kebiasaan, masalah keluar dari comfort zone yang sudah sangat terbiasa membaca kertas dan membolak-balik halaman daripada melihat pada layar monitor.

Jadi, kepada siapapun yang kebetulan memiliki posisi yang cukup strategis yang bisa menentukan kebijakan, cobalah untuk sedikit demi sedikit mengurangi jumlah print out yang diperlukan.

Sebagai dosen misalnya, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan di  lingkungan kita dan sebatas wewenang kita, misalnya memperbolehkan mahasiswa asistensi / konsultansi dengan menggunakan laptop. Hehe, pening memang, dan nggak puas karena nggak bisa corat-coret langsung. Lalu menentukan format pengumpulan tugas mahasiswa dengan bentuk file saja. Ah, saya senang sekali, kebetulan mulai semester ini saya juga mendapat amanat untuk menjadi dosen koordinator mata kuliah Tugas Akhir. Seperti halnya KKN, tugas akhir adalah salah satu mata kuliah dengan pemborosan kertas luar biasa. Mudah-mudahan ada sesuatu yang bisa saya lakukan di situ.

Sebagai profesional misalnya, bisakah kita berusaha untuk memberikan hasil pekerjaan berupa file kepada klien. Mungkin ada yang mau, ada yang tidak. Eh, kalau yang ini sih alasan saya buat menekan cost printing saja. hahaha

Nggak usah muluk-muluk dikaitkan dengan green movement dan penyelamatan pohon segala. Dengan paperless, Anda akan menghemat uang anda sendiri dengan lebih sedikit membeli kertas dan mengisi ulang tinta, betul ?. Kalau mau lebih teoritis dikit bisa dilihat di sini nih http://www.globalheal.com/2010/07/01/how-to-go-paperless-a-step-by-step-guide/

Memang, keluar dari comfort zone memang susah, apalagi bila lingkungan tidak mendukung. Keputusan saya di atas bukannya tanpa konsekuensi. Bisa saja saya tidak dipakai lagi sebagai DPL di periode berikutnya karena dianggap melanggar ketentuan yang telah tertulis di buku panduan. Bila nanti saya sebagai koordinator Tugas Akhir memutuskan untuk menghilangkan keharusan mahasiswa mengumpulkan hardcopy naskah LP3A sebanyak jumlah dosen, bisa jadi dosen-dosen yang lain akan menolak. Walaupun, nggak mungkin kebaca juga sebetulnya.

Misalnya Anda pada posisi yang kebetulan tidak bisa menentukan kebijakan pada orang lain, paling tidak lakukanlah pada diri kita sendiri. Contoh paling gampang, gunakan kedua sisi kertas sebelum membuangnya.

Jangan ragu-ragu saudaraku.

faman ya’mal mitsqola dzarrotin khoiroy yaroh, waman ya’mal mitsqola dzarrotin syarroy yaroh”.

(Qur’an Surat Az-Zalzalah (99) ayat 7 – 8)

7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, 8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Advertisements

GREEN itu KAPITALIS !!!

Image

Frase yang diceletukkan oleh salah seorang rekan dosen tersebut cukup menohok pikiran saya. Memang kalimat itu terucap bukan dalam sebuah forum ilmiah resmi, tapi terceplos ketika sedang sarapan rame-rame dalam perjalanan menuju tempat KKN mahasiswa.

“ Ya, Green itu adalah Kapitalis”.

Bagaimana mungkin, Gerakan Go Green yang seakan menjadi sebuah kata suci dan didengungkan banyak orang di mana-mana dianalogikan dengan Kapitalis? Kira-kira kalo nggak salah arti kata Kapitalis adalah hanya membela kepentingan golongan yang punya modal. Karena biasanya yang punya modal itu adalah hanya segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari, maka otomatis segala hal yang hanya mementingkan sebagian kecil orang akan dicap sebagai hal yang negatif, termasuk kapitalis.

Padahal, saat ini, semua bisa dikatakan berlomba-lomba menyebut atau melabeli diri atau produknya dengan green. Bila kita sudah punya stempel green, seakan-akan kita sudah cool.. sudah keren, entah itu produk, entah itu perusahaan, atau apapun. Saya sendiri di kampus, kebetulan barusan menyelenggarakan sebuah seminar dengan label ‘sustainable’, yang berarti ‘keberlanjutan’, ya masih kong kalikong dengan ‘green’ lah.

“Innamal a’malu binniyat”. Ya memang semua itu memang kembali kepada niatnya ya.

Apakah pihak-pihak yang rame-rame mengejar label green tersebut betul-betul ingin berperan serta pada usaha penyelematan lingkungan, atau hanya supaya dagangannya laku?. Dan memang entah mengapa, bangsa ini luar biasa latah, paling latah nomor satu sedunia kayaknya, begitu ada suatu trend, semua orang – tidak peduli konsumen ataupun produsen – langsung mengikuti trend tersebut, entah tahu apa tidak maksud sebetulnya dari trend tersebut.

Memang betul ternyata, GREEN adalah KAPITALIS bila :

  • Green itu dimonopoli. Artinya hanya ada satu pihak yang merasa bahwa dirinya lah yang berhak untuk menentukan (baca : mensertifikasi… ups) sesuatu itu bisa diberi label green apa tidak.
  • Green itu harus pakai titel. Artinya, hanya orang-orang yang sudah mendapatkan pelatihan tertentu yang lagi-lagi diselenggarakan oleh pihak yang sama dengan yang disebut di atas, mendapatkan titel atau gelar yang berhak menentukan apakah segala sesuatu itu green apa tidak
  • Green itu eksklusif. Artinya hanya produk-produk yang telah menggunakan material tertentu yang berlabel green yang boleh disebut sebagai produk yang Green, sementara material yang berlabel green tersebut juga adalah milik konco-konconya sendiri, yang mirisnya, sebagian besar adalah material impor.

Susah ya ?. Pokoknya gampangnya gini aja deh… Green itu seharusnya milik semua orang, siapa saja boleh mengaku green, dan tidak boleh ada suatu pihak yang mengklaim memiliki green secara eksklusif, “Cuman saya yang boleh disebut Green, dan green menurut pengertian sayalah yang benar, green menurut orang lain itu salah”.

Dan daripada repot-repot menilai dan mengurusi orang lagi… saya mengajak diri saya sendiri dan setiap orang (heee, kayak khotbah Jum’at ya), untuk memulai dari diri kita sendiri.

Nggak usah susah payah untuk mendefinisikan green, setiap usaha kita yang membuat bumi ini bisa bertambah panjang umurnya, seberapapun kecilnya, sudah bisa disebut sebagai green.

Atau kalau bisa juga lakukan hal-hal ini : Reduce, Reuse, Repair, Recycle, Replacement (saya nggak tahu ini definisi dari siapa, ini ngepek dari gantungan kunci pintu lab saya… serius hehe).

REDUCE,  artinya mengurangi. Ya mengurangi apa saja lah yang tidak diperlukan. Pemakaian air, pemakaian listrik, mengurangi makan (nah ini wajib buat saya.. hehe) maksudnya menggurangi membuang makanan gitu. Mubazir.

REUSE, artinya menggunakan kembali segala hal yang masih bisa digunakan, kalau kertas baru dipakai satu sisi, ya jangan langsung dibuang, tapi manfaatkan sebaliknya untuk corat-coret atau ngeprint draft, Yang agak rumit dikit ya misal pemanfaatan grey water untuk flashing toilet atau menyiram tanaman.

REPAIR, artinya cobalah memperbaiki dahulu barang yang sudah rusak, jangan langsung dibuang. kalau sepatu atau sandal jebol ya nggak usah langsung beli lagi lah, coba bawa dulu ke tukang sol, siapa tahu masih bisa dibenerin. Karena pembuatan setiap produk pasti mengkonsumsi energi. Sumber energi biasanya masih didominasi oleh bahan bakar fosil (gas, batubara, minyak) yang unrenewable.

RECYCLE,  sudah jelas maksudnya, dukunglah apapun upaya untuk me-recycle segala jenis sampah.

Ada sedikit cerita lucu mengenai recycle ini. Pernah suatu ketika saya menginap di salah satu hotel di Bandungan, karena ada tugas pelatihan dari kampus selama 3 hari. Kebetulan kamarnya bentuknya kayak cottage-cottage gitu. Tidak jauh di depan sampah berderet rapi tempat sampah warna-warni dengan tulisannya masing-masing. Sampah organik, sampah kaca, sampah plastik, sampah logam, dll. “Wah kereeeen hotel ini”, begitu pikir saya. Saya pun dengan semangat memilah-milah jenis sampah sesuai jenisnya, bahkan sempat berpikir keras mengenai pisau cukur instant, mau dibuang ke bak yang mana, karena ada plastiknya dan ada logamnya… hehehe, lebay memang. Setelah seluruh sampah dikategorikan dan dibuang ke baknya dengan tulisan yang sesuai, saya segera menuju aula tempat pelatihan. Selang berapa lama, ternyata ada barang saya yang ketinggalan di kamar, sehingga sayapun harus kembali ke kamar lagi. Ndilalah… pas kebetulan petugas pengambil sampah sedang mengambil sampah dari bak warna-warni tadi dan dibawa ke tempat pembuangan sementara.

Yang membuat saya melongo adalah, ternyata petugas pengambil sampah tersebut hanya membawa satu buah gerobak sampah biasa. Ya, hanya satu gerobak sampah biasa. Dengan tampang innocent dia membuka tutup tempat sampah warna-warni tersebut satu persatu, dan menuangkan isinya dalam gerobak sampah kebanggaannya. Ya ampuun. Sudah susah-susah dipilah, ternyata pas mbuang dicampur lagi… hehehe. Jadi pihak manajemen hotel tsb memasang tempat sampah warna-warni hanya demi mengejar gengsi belaka, bahwa mereka tidak ketinggalan gerakan green tadi.

REPLACEMENT, mungkin artinya meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Hal ini mirip dengan ‘S’ kedua pada konsep ‘5S’ nya jepang yang terkenal itu, Seiri, Seiton (bukan syaithon lho), Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Kalo bahasa Inggris jadi ‘5S’ Short, Straighten, Shine, Standardize, Sustain. Kalo bahasa Indonesia jadi ‘5R’ Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.  Hehehe. Orang  indonesia memang paling jago bikin jargon-jargon kayak gini. Nanti kapan-kapan akan saya posting mengenai hal tersebut. Pada intinya hal-hal tersebut diterapkan pada tempat kerja, sehingga membuat kerja kita lebih efisien.

Hehe, saya paling susah untuk menerapkan hal tersebut kayaknya. Saking pelupanya, saya tidak pernah punya ballpoint atau pensil, yang berumur lebih dari 3 hari. Saking jengkelnya, saya pernah beli ballpoint gendut yang tutupnya ada talinya itu lho, dan talinya saya kalungkan di leher. Hari pertama aman, ballpoint masih pada tempatnya. Eh, hari kedua, saya dapati tinggal tutup dan talinya yang tergantung pada leher saya, sementara ballpointnya sudah tak tentu rimbanya. Kalau nggak kehilangan, ya sebaliknya, perbendaharaan alat tulis saya tiba-tiba meningkat dengan pesat karena ballpoint atau alat tulis milik rekan kerja atau mahasiswa yang terbawa oleh saya… hehehe, maaf ya, … nggak sengaja.

OK, begitulah.

Bila kita masih belum peduli dengan bumi yang akan ditinggali oleh anak-cucu kita nanti, paling tidak lihatlah kalam Illahi di bawah ini, tentang beberapa larangan untuk berlaku boros, berlebih-lebihan dan merusak bumi.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS Al-A’raf:31)

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS Al-Isra:26-27)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari”. (QS Al-Baqarah:11-12)

Wah Subhanallah… ayat yang terakhir ini, … benar-benar kena deh, orang-orang yang berkoar-koar tentang green, tapi sebetulnya merekalah yang membuat kerusakan di muka bumi. Ah, baru sadar….., header blog saya pun green juga. mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang latah tersebut.

* maaf, gambarnya nggak ada hubungannya, saya iseng saja karena saya penganut aliran sufi… hehe… ‘suka film’.

KKN untuk Siapa toh ?

KKN yang akan saya ceritakan di sini bukan Korupsi Kolusi Nepotisme, tapi KKN yang kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyata. Memang ada yang mlesetin jadi Kisah Kasih Nyata, saking seringnya terjadi cinlok di lokasi. Bahkan ada yang lain lagi yang pernah saya baca di blog seseorang. KKN adalah singkatan Kali-Kali Nyantol… hehehe.

Okelah. Pasti sudah tahu semua tentang KKN yang saya maksud. Suatu kuliah wajib 3 sks yang mewajibkan mahasiswa untuk tinggal di suatu tempat (harusnya di desa tentu, atau tempat manapun yang membutuhkan kehadiran mahasiswa), selama 35 hari. Harapannya, tentu selama di sana mahasiswa diharapkan bisa mempraktekkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang ditinggali.

Tapi pada postingan ini, saya tidak ingin bicara mengenai pelaksanaan KKN dari sudut pandang mahasiswa. Tapi saya ingin cerita mengenai KKN dari sudut pandang pengelolanya…

Kebetulan saya diberi amanat untuk jadi salah satu DPL (dosen pembimbing lapangan). Saya sih seneng-seneng saja, walapun agak ironis. lho kenapa ? karena, seumur hidup, saya sendiri belum pernah ikut KKN sebelumnya… hehe. Ya dulu sewaktu saya kuliah di Bandung, kebetulan di kampus saya waktu itu, KKN bukan mata kuliah wajib, tapi mata kuliah pilihan, hanya 2 sks pulak. Tentu saja, saya dan teman-teman berbondong-bondong untuk tidak ikut KKN. hehe. Itu dulu, nggak tahu kalau sekarang.

Ok, singkat cerita, tadi siang, kami selaku DPL mendapat undangan untuk rapat koordinasi KKN di kampus. Saya datang terlambat hampir 1 jam karena setelah jumatan ada judisium sidang sinopsis untuk anak-anak yang sedang ambil tugas akhir.

Awal-awal rapat, materi rapatnya masih oke, seputar metoda penilaian mahasiswa, dll. Baguslah buat saya yang masil nol besar pengalaman sebagai DPL.

Menjelang sore, tema rapat berganti menjadi perencanaan kunjungan pejabat undip ke lokasi KKN. Kalau nggak salah mahasiswa undip diterjunkan ke 4 kabupaten gitu. masing-masing kabupaten tentu ada pembagian ke kecamatan-kecamatan.

Saya mulai mengernyitkan dahi ketika masing-masing kecamatan dan kabupaten berlomba-lomba memaparkan program expo-nya masing-masing. Expo adalah suatu acara yang dibuat di akhir masa KKN, bentuk acaranya bisa macam-macam, tapi tujuannya adalah membuat suatu exhibisi bagi program KKN yang sudah dilaksanakan di daerah-daerah tersebut.

Yang membuat saya merasa ada yang kurang pas adalah mengapa untuk expo saja dibuat sedemikian hebohnya. Dengan harapan ketika pejabat undip meninjau ke sana, akan disambut dengan acara semeriah mungkin. Apakah itu esensi dari KKN? Apakah suatu program dianggap berhasil apabila sudah mendapat apresiasi dari pejabat, dan berhasil dimuat di koran atan media?.

Oke, publikasi dan ceremonial memang perlu. Kita nggak mungkin lepas dari itu. Pada expo juga banyak sisi positifnya, misalkan publikasi bagi berbagai potensi unggulan daerah.  Tapi kalau menurut saya, publikasi tersebut harus diarahkan kepada sasaran dan pasar yang tepat, kalangan investor dan pengusaha misalnya, dan bukan bagi kepentingan pejabat kampus yang ingin meninjau keberhasilan pelaksanaan program KKN yang dilakukan oleh mahasiswanya.

Bapak-Bapak pejabat pengurus KKN yang sangat saya hormati, saya mohon maaf, bila saya yang masih bau kencur dan baru pertama kali menjadi DPL ini berani bicara seperti ini.

Dan buat adik-adik mahasiswa peserta KKN di manapun juga, yang sudah bersusah payah dan bekerja keras untuk menyelenggarakan expo di tempat KKN masing-masing, two thumbs up, saya hargai dengan tulus. Terima kasih, sudah membuat acara expo sedemikian meriah sehingga mengangkat nama kampus.

Tetapi saya rasa, masyarakat desa lebih membutuhkan sebuah bentuk bantuan yang lebih nyata selain expo. Kecuali memang expo tersebut bisa menghubungkan mereka dan potensi-potensi unggulan yang mereka punyai dengan kalangan investor atau pengusaha yang bisa mengembangkan usaha mereka. Tetapi saya rasa kok kurang pada tempatnya, bila acara expo tersebut hanya ditujukan untuk pejabat-pejabat kampus. Seharusnya yang diundang adalah Bapeda, Kadin, perbankan dan koperasi, dan dinas-dinas terkait yang berkepentingan.

Penyampaian informasi dan publikasi bagi suatu kegiatan memang penting, tetapi bagaimanapun penyampaian informasi dan publikasi tersebut, tidak seharusnya menjadi lebih penting daripada kegiatan yang akan disampaikan.

Sekali lagi saya minta maaf, ini hanya pendapat saya pribadi yang sangat subyektif.

***

menjelang rapat berakhir, saya iseng-iseng sms ke Korcam (mahasiswa Koordinator Kecamatan) di lokasi.

‘Dik, dana yang dialokasikan untuk mengadakan expo di kecamatan kita kira-kira habis berapa ?’

‘kira-kira 6 jutaan pak. iuran dari mahasiswa’

‘ooo… lha terus, dana yang habis untuk program/kegiatan mahasiswa di masyarakat kira-kira habis berapa’

‘2 juta-an pak’

???

silahkan diartikan sendiri.

Bertemu 6 Orang Hebat Tadi Sore

Seperti biasa, saya memilih pulang sehabis maghrib dari kampus. Selain supaya nggak buru-buru di jalan ngejar sholat maghrib, waktu-waktu antara jam 4 hingga maghrib adalah waktu paling nyaman buat ngerjain ini-itu di kampus, tanpa diganggu mahasiswa. Hehe niatnya sih kerja,.. tapi nyatanya malah browsing mulu…

Dari kampus Undip tembalang, saya meluncur jam setengah 7-an lah.. kampus sudah sepi, nggak ada tanda-tanda kehidupan, baru ingat, oh ya, ini memang belum musimnya mahasiswa pada masuk, masih pada liburan di kampuang masing-masing kayaknya.

Sebetulnya kalo ditarik garis lurus, rumah saya di Sekaran cukup dekat dengan Kampus di Tembalang. Tapi kalau saya mengikuti garis lurus tsb malah jadi nggak sampe rumah, karena nyemplung jurang .. hehe. Jadinya ya harus menempuh rute seperti biasa, tembalang, turun ke jatingaleh, nyebrang lewat bendan (depan unika dan untaq), nyebrang kaligarang di jembatan besi trus naik ke atas lagi ke Sekaran, tempatnya kampus UNNES.

Setelah menyeberang jembatan besi itulah, tiba-tiba sudut mata saya menangkap sekelebatan bayangan orang yang berdiri di tepi jalan sambil mengacungkan jempol. Tentu dia mengacungi jempol bukan dengan maksud memuji saya, tapi maksudnya sudah jelas mau menumpang. Agak mendadak saya menginjak rem. Ya maaf saja deh, buat motor di belakang saya yang harus ngepot menghindari bemper saya yang berhenti agak mendadak.

Saya lihat lewat spion, anak tadi bersama beberapa temen-temennya dengan beberapa tumpukan barang bawaan. Seumuran mahasiswa saya kayaknya. Hmmm… saya pikir ini pasti mahasiswa UNNES yang habis KKN atau habis acara apaan gitu yang minta tebengan ke arah kampus UNNES ke atas. Saya sampai situ jam 7 lebih dikit lah. Jam segitu mungkin memang sudah nggak ada angkot lagi ke arah UNNES.

Saya buka jendela kiri, anak yang nyegat tadi berlari-lari kecil mendekat.

‘Pak, boleh numpang sampai UNNES’…?

‘ bener tebakan saya’, kata saya dalam hati, ‘eh… berapa orang Dik ?’

‘ 5 orang pak’

‘ Ya udah naik aja… barangnya banyak ya? taruh belakang saja, tapi lewat pintu tengah aja ya, karena pintu belakang agak rusak’, kata saya.

‘Wah, terima kasih pak’, katanya sambil nyengir.

Dia memanggil teman-temannya untuk memasukkan barang-barang, sementara mereka sendiri ikut naik. Ternyata mereka ada 6 orang. Oh jadi maksudnya anak tadi, dia sendiri sama 5 orang temennya. 3 cewek dan 3 cowok. Sebetulnya terbersit sedikit was-was di hati saya. Jaman kayak gini gitu loh… jangan-jangan mereka ada niatan nggak baik. Kalau mau ngerebut mobil gampang aja tuh, 3 lawan 1 kalau yang cewek nggak diitung, dan posisi saya yang nggak menguntungkan karena saya yang setir. Tapi saya tepis kekuatiran di hati saya. Gak papa wes, yang penting niatnya baek mau nolong. Saya lirik wajah mereka satu-satu, kayaknya anak baik-baik. Yang cewek ada 2 yang berjilbab.

1 orang duduk di depan di sebelah saya, 1 orang di belakang bareng barang-barang, 4 orang tumpang tindih di jok tengah.  Tapi mereka nggak ngeluh sama sekali, mungkin sudah untung dapat tebengan pikir mereka.

‘Sudah naik semua?, ya udah jalan sekarang. Habis kegiatan apa dik? KKN ya?. Mereka diam saja nggak njawab.

Saya tanya lagi, ‘Mahasiswa UNNES kan? Jurusan apa dik?.

akhirnya ada satu yang njawab, ‘Bukan Pak, kami habis dari nawar-nawarin barang,… door to door’.

Oh ternyata…

Mereka bukan mahasiswa yang habis kegiatan, tapi adalah rombongan sales yang nawarin barang dengan jalan kaki, dari rumah ke rumah. Ooo… saya baru ngeh,pantesan mereka bawa banyak sekali kardus panjang-panjang seukuran kompor gas, ya memang itu yang mereka jual…. kompor gas dan peralatan rumah tangga yang lain.

‘O… gitu ya.. ya udah nggak papa’. ‘Mau ke mana Dik?, tanya saya lagi.

‘ke Unnes Pak’. masih dijawab sama anak yang tadi juga.

‘OK, kebetulan rumah saya juga deket UNNES’.

Beberapa anak menyahut, ‘terima kasih ya pak atas tumpangannya’.

Selain itu, di sepanjang jalan, mereka lebih banyak diem, kecuali anak yang jawab pertanyaan saya tadi, sesekali bertanya basa-basi, dan menjawab juga kalau saya yang gantian tanya. Sebetulnya saya agak dongkol juga, kenapa pada diem begitu? Padahal udah dikasih tebengan juga. Serasa jadi supir taksi nih kalo kayak gini caranya. Akhirnya saya ikutan diem juga.

Setelah lama saling membisu, pas sampai di daerah Trangkil, mobil jalan agak pelan karena tanjakan, kebetulan pas lewat lampu jalan, sehingga saya bisa melihat sekilas wajah anak yang duduk di sebelah saya dan di belakang saya. Seketika saya langsung mengenali arti yang sama dari wajah-wajah mereka.

Wajah-wajah kelelahan…

Ya, … ternyata mereka diam karena kelelahan,… sebagian bersandar sambil memejamkan mata, sebagian lagi melek, tapi dengan pandangan kosong.

Ya Allah, seketika kedongkolan saya lenyap, dan menyesal karena sudah suudzon dengan mereka. Saya tidak bisa membayangkan, seberat apa kehidupan yang harus mereka jalani seharian ini. ke mana-mana membawa kompor. Memang kompor gas nggak begitu berat juga, tapi ya tetep ogah kalau saya harus nenteng kompor gas 2 unit ke mana-mana seharian.

Akhirnya saya pun juga diam. Memberi kesempatan kepada mereka untuk istirahat sejenak.

Sekitar 15 menit kemudian, hampir sampai di UNNES. Jarak antara mereka nyegat tadi hingga ke UNNES sekitar 7 kilo-an kali. Tapi memang agak lama, karena jalannya nanjak, naik ke gunung.

‘Nah, dah hampir sampai nih, kalian mau turun di mana di UNNESnya ?’

‘Eh di mana ya? di mana aja deh pak”.

‘Lho, gimana toh?, lha kalian mau turun di mana maunya?’. ‘Kost nya di mana ?’ tanya saya lagi.

‘Kami mau ke Mapagan pak… Ungaran’.

‘Ha, Mapagan ???’.

Nama daerah yang mereka sebut itu masih sekitar 10 kilometer jauhnya dari UNNES.

‘Lha kenapa tadi bilangnya mau ke UNNES ?”, tanya saya.

‘Ya biasanya kalau orang naik dari Jembatan Besi ke atas, ya mau ke UNNES pak, jarang yang sampai Mapagan, makanya tadi kami bilang saja mau numpang ke UNNES”.

‘Lha nanti dari sini sampai Mapagan, kalian mau naik apa?’.

‘Ya biasa pak, … cari tebengan lagi… hehehe’.

Ya Allah,…saya bener-bener tambah kaget. Berarti, waktu mereka menghentikan saya tadi, mereka masih berada hampir 20 kilo dari tujuan, malam-malam. Bawa barang jualan banyak, dan bener-bener hanya mengandalkan tebengan untuk sampai ke tujuan.

‘Wah ya nggak bisa gitu… udahlah, saya antar saja sampai ke sana’.

‘Wah terima kasih banyak pak’. Mereka hanya menjawab  singkat saja. Tapi saya merasa bahwa mereka betul-betul lega karena sudah tidak perlu lagi memikirkan cara untuk sampai ke tempat tujuan lagi malam itu.

Singkat cerita, hampir sampai Mapagan, tempat tujuan mereka.

‘Nah, Mapagan-nya sebelah mana mess-nya?.

‘Eh nggak ke mess kok pak… ini mau ke kantor dulu… meeting dulu, melaporkan hasil jualan siang tadi, baru habis itu pulang ke mess.’

??? …..

padahal waktu itu sudah hampir jam 8 malam.

***

Ya Allah, sungguh pelajaran yang sangat berharga yang aku peroleh sore tadi. Bukan mereka yang beruntung bertemu denganku, tapi sungguh… aku yang beruntung bertemu dengan mereka. Engkau tunjukkan kepadaku, pejuang-pejuang kehidupan yang betul-betul harus berusaha sangat keras untuk mencukupi kebutuhan hidup hari-demi hari. Sementara aku begitu sering tidak bersyukur atas segala kemudahan dalam kehidupan yang telah Engkau berikan kepadaku.

Mudahkanlah usaha mereka Ya Allah. Berkahilah rezeki mereka. Sungguh Engkau maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau sebaik-baik pemberi risqi. Berilah mereka kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi kesulitan hidup ini.

” Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malamitu ia diampuni oleh Allah” . (HR.Ahmad)