KKN untuk Siapa toh ?

KKN yang akan saya ceritakan di sini bukan Korupsi Kolusi Nepotisme, tapi KKN yang kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyata. Memang ada yang mlesetin jadi Kisah Kasih Nyata, saking seringnya terjadi cinlok di lokasi. Bahkan ada yang lain lagi yang pernah saya baca di blog seseorang. KKN adalah singkatan Kali-Kali Nyantol… hehehe.

Okelah. Pasti sudah tahu semua tentang KKN yang saya maksud. Suatu kuliah wajib 3 sks yang mewajibkan mahasiswa untuk tinggal di suatu tempat (harusnya di desa tentu, atau tempat manapun yang membutuhkan kehadiran mahasiswa), selama 35 hari. Harapannya, tentu selama di sana mahasiswa diharapkan bisa mempraktekkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang ditinggali.

Tapi pada postingan ini, saya tidak ingin bicara mengenai pelaksanaan KKN dari sudut pandang mahasiswa. Tapi saya ingin cerita mengenai KKN dari sudut pandang pengelolanya…

Kebetulan saya diberi amanat untuk jadi salah satu DPL (dosen pembimbing lapangan). Saya sih seneng-seneng saja, walapun agak ironis. lho kenapa ? karena, seumur hidup, saya sendiri belum pernah ikut KKN sebelumnya… hehe. Ya dulu sewaktu saya kuliah di Bandung, kebetulan di kampus saya waktu itu, KKN bukan mata kuliah wajib, tapi mata kuliah pilihan, hanya 2 sks pulak. Tentu saja, saya dan teman-teman berbondong-bondong untuk tidak ikut KKN. hehe. Itu dulu, nggak tahu kalau sekarang.

Ok, singkat cerita, tadi siang, kami selaku DPL mendapat undangan untuk rapat koordinasi KKN di kampus. Saya datang terlambat hampir 1 jam karena setelah jumatan ada judisium sidang sinopsis untuk anak-anak yang sedang ambil tugas akhir.

Awal-awal rapat, materi rapatnya masih oke, seputar metoda penilaian mahasiswa, dll. Baguslah buat saya yang masil nol besar pengalaman sebagai DPL.

Menjelang sore, tema rapat berganti menjadi perencanaan kunjungan pejabat undip ke lokasi KKN. Kalau nggak salah mahasiswa undip diterjunkan ke 4 kabupaten gitu. masing-masing kabupaten tentu ada pembagian ke kecamatan-kecamatan.

Saya mulai mengernyitkan dahi ketika masing-masing kecamatan dan kabupaten berlomba-lomba memaparkan program expo-nya masing-masing. Expo adalah suatu acara yang dibuat di akhir masa KKN, bentuk acaranya bisa macam-macam, tapi tujuannya adalah membuat suatu exhibisi bagi program KKN yang sudah dilaksanakan di daerah-daerah tersebut.

Yang membuat saya merasa ada yang kurang pas adalah mengapa untuk expo saja dibuat sedemikian hebohnya. Dengan harapan ketika pejabat undip meninjau ke sana, akan disambut dengan acara semeriah mungkin. Apakah itu esensi dari KKN? Apakah suatu program dianggap berhasil apabila sudah mendapat apresiasi dari pejabat, dan berhasil dimuat di koran atan media?.

Oke, publikasi dan ceremonial memang perlu. Kita nggak mungkin lepas dari itu. Pada expo juga banyak sisi positifnya, misalkan publikasi bagi berbagai potensi unggulan daerah.  Tapi kalau menurut saya, publikasi tersebut harus diarahkan kepada sasaran dan pasar yang tepat, kalangan investor dan pengusaha misalnya, dan bukan bagi kepentingan pejabat kampus yang ingin meninjau keberhasilan pelaksanaan program KKN yang dilakukan oleh mahasiswanya.

Bapak-Bapak pejabat pengurus KKN yang sangat saya hormati, saya mohon maaf, bila saya yang masih bau kencur dan baru pertama kali menjadi DPL ini berani bicara seperti ini.

Dan buat adik-adik mahasiswa peserta KKN di manapun juga, yang sudah bersusah payah dan bekerja keras untuk menyelenggarakan expo di tempat KKN masing-masing, two thumbs up, saya hargai dengan tulus. Terima kasih, sudah membuat acara expo sedemikian meriah sehingga mengangkat nama kampus.

Tetapi saya rasa, masyarakat desa lebih membutuhkan sebuah bentuk bantuan yang lebih nyata selain expo. Kecuali memang expo tersebut bisa menghubungkan mereka dan potensi-potensi unggulan yang mereka punyai dengan kalangan investor atau pengusaha yang bisa mengembangkan usaha mereka. Tetapi saya rasa kok kurang pada tempatnya, bila acara expo tersebut hanya ditujukan untuk pejabat-pejabat kampus. Seharusnya yang diundang adalah Bapeda, Kadin, perbankan dan koperasi, dan dinas-dinas terkait yang berkepentingan.

Penyampaian informasi dan publikasi bagi suatu kegiatan memang penting, tetapi bagaimanapun penyampaian informasi dan publikasi tersebut, tidak seharusnya menjadi lebih penting daripada kegiatan yang akan disampaikan.

Sekali lagi saya minta maaf, ini hanya pendapat saya pribadi yang sangat subyektif.

***

menjelang rapat berakhir, saya iseng-iseng sms ke Korcam (mahasiswa Koordinator Kecamatan) di lokasi.

‘Dik, dana yang dialokasikan untuk mengadakan expo di kecamatan kita kira-kira habis berapa ?’

‘kira-kira 6 jutaan pak. iuran dari mahasiswa’

‘ooo… lha terus, dana yang habis untuk program/kegiatan mahasiswa di masyarakat kira-kira habis berapa’

‘2 juta-an pak’

???

silahkan diartikan sendiri.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: