Tips Desain 3 : Transisi

Transisi adalah perubahan yang berangsur-angsur dari dua kondisi yang berbeda secara ekstrim. Dari teratur ke tidak teratur, dari gelap ke terang, dari besar ke kecil. Urutannya bisa dibolak-balik. seringkali, penggunaan elemen transisi dalam desain bisa menghasilkan desain yang unik, menarik, dan eye catching tentunya.  Transisi biasanya biasanya hanya diaplikasikan pada elemen-elemen bangunan non struktural. Sementara elemen struktural bangunan tersebut tetap sama dan homogen. Ok. Tidak perlu penjelasan terlalu lama, dengan melihat contoh-contoh bangunan di bawah, Anda akan langsung tahu apa yang saya maksud dengan transisi.

Gambar di atas adalah Fukoku Tower di Osaka, Japan. Dengan transisi bagian bawah bangunan seakan-akan tidak beraturan dan berangsur-angsur teratur semakin ke atas. Tapi bila anda lihat potongan dan denahnya, ternyata lempeng-lempeng saja bukan ?

Sedangkan gambar di atas adalah 56 leonard street, sebuah apartemen yang terletak di new york. Kebalikannya, leonard street ini memiliki bagian bawah bangunan yang relatif teratur, sementara bagian atasnya semakin tidak teratur.

Gambar di atas adalah William Beaver building, condominium di NYC juga. Transisi dilakukan pada warna facad bangunan.

Gambar di atas adalah Red Apple di Rotterdam. Transisi dilakukan pada ukuran kolom yang berwarna merah, semakin ke bawah, kolom semakin besar. Sayang sekali tidak ada gambar kerjanya, sehingga kita tidak bisa tahu apakah transisi tersebut diaplikasikan benar-benar pada elemen struktural ataukah hanya kamuflase.

Ada yang tahu benda apa ini? hahaha, betuul, itu adalah proyek sayembara sumarecon saya yang gagal itu. Konsepnya adalah bagian bawah berwujud tidak teratur /chaos (yang melambangkan kondisi awal), dan semakin ke atas, seiring dengan putaran waktu akan semakin teratur dan diakhiri dengan bundaran sempurna yang melambangkan kesempurnaan. Lengkapnya bisa dilihat di blog saya yang lain ya. (www.septanabp.blogspot.com).

Ok demikian tips desain tentang repetisi, tips berikutnya nyusul ya.

Advertisements

Maket, Season 2

II . ELEMEN ATAP

Oke, lanjut lagi tentang maketnya.

Kali ini saya akan membahas tentang atap ya. Langsung saja. Bahan-bahan yang biasa dipakai untuk atap bangunan dalam maket adalah :

1. ATAP ACRYLIC.

Di pasaran memang dijual bahan atap khusus maket dari bahan Acrylic. Sudah ada cetakan pola gentengnya dengan berbagai skala, sudah berwarna pulak. Kayak gini nih bahannya :

Tapi terus terang, saya tidak pernah menggunakan bahan atap jenis ini. kenapa ?

  • Motongnya super duper susah. pernah nyoba motong acrylic setebal 2mm? kalau belum, coba dulu sannaaa (nada iklan mie instan). Susah sekali. Lebih dari 10 tarikan cutter dengan kondisi perut kenyang belum tentu bisa terpotong. Dan dijamin, sejak hari kedua memakai bahan ini sudah ada plester yang tertempel di buku ketiga jari telunjuk anda karena lecet kena tekanan cutter.
  • Warna yang available, biasanya merah ngejreng. Mana mau arsitek dikasih warna merah ngejreng kayak gitu, jadi pasti akan diwarna lagi pakai cat. Nah kalau memang mau diwarna lagi, buat apa beli bahan yang sudah ada warnanya.
  • Harganya muahaal. (ini alasan yang utama sebenarnya, hahaaa). Kan sebagai perusahan maket yang mengutamakan profit saya harus berusahan menekan cost produksi seminimal mungkin 🙂

2. BAHAN SINGLE FACE / CORRUGATED PAPER.

Sungguh sangat beruntung bagi para maketor, di dunia packing furniture ada bahan yang dikenal dengan nama single face (kadang disebut corrugated paper). Apanya twoface yang di Batman? nggak ada hubungannya. Kalau anda iseng nyobek-nyobek kardus bekas, anda perhatikan. Bahan kardus biasanya terdiri dari dua lembar kertas coklat yang di tengahnya terdapat kertas coklat lagi yang bergelombang kayak asbes. Nah, single face persis seperti itu, tapi tanpa lapisan pinggir yang kedua.

Ini nih gambarnya.


Single face dijual dalam bentul lembaran atau gulungan. Ada yang berwarna sih. Tapi seperti saya katakan tadi, nggak mungkin mau arsitek dikasih warna-warna dasar kayak gitu. Jadi biasanya saya memilih warna coklat kardus yang nantinya bisa saya warnai sesuka saya.

Bagaimana cara pakainya sebagai atap maket?

  • Potong dulu sesuai bidang atap yang dibutuhkan. Misal atap limasan, ya berarti anda potong 4 buah berbentuk segi tiga.
  • Pola genteng yang vertikal sudah ada, terbentuk dari permukaan single face yang bergelombang. Lalu bagaimana cara membuat pola genteng horizontalnya. Gampang, anda ambil penggaris dan cutter, lalu buatlah irisan horizontal dengan jarak tertentu sesuai ukuran skala genteng pada maket anda. Irisan yang anda buat adalah pada muka bergelombangnya, bukan pada muka yang halusnya. Tapi hati-hati, jangan ditekan terlalu keras. Ingat, anda hanya perlu membuat pola horizontal, bukan memotong. Tapi kadang pola dengan potongan cutter kurang terlihat karena cutternya terlalu tajam. Bila demikian, gunakan ujung jarum (jarum apa saja, jarum pentul, jarum jahit) untuk membuat pola horizontal tadi. Dijamin anda akan cengar-cengir kegirangan melihat hasilnya.
  • Setelah seluruh bidang atap jadi, yaudah tinggal dilem membentuk atap. Jangan lupa pakai ‘lem dewa’ (lem putih hahaa). Anda masih ingat postingan saya tentang lem kemarin? lem putih ketika kering akan bersifat doft, jadi nggak keliatan kalau udah finish.

Bagaimana untuk maket yang lebih detail dengan skala yang lebih kecil, 1 : 50 misalnya? hehee, jangan kuatir. Single face di pasaran ada dua macam, ada yang gelombang kecil, ada yang gelombang besar. Dua ukuran itu kayaknya cukup deh untuk mengakomodasi berbagai skala maket.

3. SEDOTAN KECIL, SEDOTAN BESAR, PEMBOLONG KERTAS, DAN KERTAS DUPLEK.

Wah, buat apa pula kegunaan sedotan kecil (sedotan seukuran sedotan minuman kotak), sedotan besar (sedotan biasa), pembolong kertas, dan kertas duplek pada maket? Weitsss… tunggu dulu, inilah bedanya pendekar maket yang sudah advance dengan tingkat pemula (maaf ya…. songong dikiiit).

  • Sedotan kecil dan besar untuk membuat bubungan. Ya bubungan. Maketor sejati tidak akan puas hanya dengan bidang atap doang tanpa bubungan. Jadi, anda potong sedotan kecil atau sedotan besar itu (sedotan kecil untuk maket skala besar, sedotan kecil untuk maket skala besar) sesuai panjang bubungan pada atap maket anda. Lalu anda BELAH 3/4 nya. Belah? ya, dibelah, karena bubungan yang berbentuk lingkaran sempurna akan jelek dan sulit ditempel pada bagian atas pertemuan bidang atap. Oia, jangan sembarangan memilih sedotan ya. jangan yang murah dan warna warni itu, tapi pilihlah yang agak mahal yang warna putih. Bulatnya akan lebih sempurna. Kalau sedotan kecil dari mana? seperti saya katakan di atas tadi, belilah minuman kotak banyak-banyak.
  • Pembolong kertas buat apa ?. Ya tentu untuk membolongi kertas. Ya, tapi kertasnya yang udah dibolongi buat apa? Bukan kertas yang sudah dibolonginya yang akan kita pakai. Tapi sisa-sisa nya berupa kertas bulet-bulet kecil yang biasanya tersimpan di bawah pembolong kertas itu. Buat apa kertas-kertas berbentuk lingkaran dengan diameter 5-6mm itu? ya untuk menutup ujung bubungan yang pakai sedotan besar tadi? memangnya anda pernah lihat bubungan rumah bolong gitu ? enggak kan ?. Lalu kalau bubungannya pakai sedotan yang kecil bagaimana nutupnya, kan kebesaran kalau pakai kertas limbah pembolong tadi. Sedotan yang kecil cukup anda sumbat dengan lem putih. beres.
  • Kertas duplek. Kertas duplek untuk membuat lisplank. hehehe. (maketor advance po rak?). ya tinggal dipotong saja sesuai skala yang diperlukan, tempel dengan lem putih.

4. CAT PILOX

Kalau maket anda monochrome warna coklat, ya nggak perlu dicat. (dindingnya pakai duplex coklat). Tapi, kalau anda menghendaki warna lain, gunakan cat pilox. Jangan cat kuas ya. Modal dikit laah. Setelah model atap anda tertempel dan lem mengering sempurna. Tinggal finishing akhir aja dengan cat pilox. Bagian ngecat atap inilah yang luar biasa menyenangkan. Menyenangkan karena memang hasilnya akan berubah jadi bagus sekali. Dan kedua, biasanya saya memasang atap adalah benar-benar pada bagian terakhir suatu proses pembuatan maket. Artinya kalau saya sudah memasang atap, artinya ya maket saya sudah hampir selesai, dan tinggal menunggu invoice nya tentu saja. Hahaa.

5. ACRYLIC TIPIS.

Saya tidak pernah mau mempergunakan sampul mika sebagai bahan atap-atap yang transparan, misal skylight, canopy polycarbonate, dll. Kenapa? sampul mika terlalu tipis, dan nanti jadinya pasti melengkung walaupun sedikit. Nggak elite banget. Jadi, rogohlan kocek sedikit, belilah bahan acrylic yang paling tipis. Saya lupa, 0,5mm kali ya? tapi yang jelas jauh lebih tebal daripada mika sampul buku itu, dan bentuknya tidak akan menjadi deformasi.

Kalau polycarbonate biasanya ada garis-garisnya kan? nah semoga anda belum membuang jarum yang anda pakai untuk membentuk pola horizontal pada atap tadi. Dengan jarum itulah anda akan membuat pola garis-garis polycarbonate tadi. Kurang kerjaan ? nggak… worth it kok.

Okeee… sekian dulu ya. Wah jarang nih posting sekaligus 2 malam berturut-turut. Jangan kuatir, episode maket masih banyak,

Maket, Season 1

Alhamdulillah, malam ini saya diingatkan oleh teman kecil saya, ternyata saya udah lama nggak posting ya… heheee.

Oke, kali ini saya akan posting tentang maket. Jangan salah ya, gini-gini saya termasuk maketor handal pada jaman kuliah dulu. Bukan bermaksud sombong (yaaa dikiiiit bolehlah ya) dulu maket saya termasuk most wanted di ITB, bahkan berhasil menembus pasar Itenas dan Unpar yang anak-anaknya terkenal jago bikin maket. Bahkan di akhir-akhir masa kuliah saya sempat punya perusahaan maket sendiri dengan karyawan anak-anak STM. Dan masterpiece saya pada waktu itu adalah membuat maket proyek sebuah perusahaan tambang di Jakarta. Maketnya segedhe gajah (hehe, nggak ding, lebay). Dulu bangga, sekarang miris, karena ternyata saya ikut andil dalam penghancuran sebuah pulau untuk area tambang. Ya sudahlah, namanya juga dibayar #ups. hahaaaa.

Sayang sekali foto-foto maket-maket buatan saya dulu nggak berhasil saya temukan.

Ok, cukup mengenang kejayaan masa lalunya. Sekarang saya akan berusaha mengingat -ingat cara-cara bikin maket yang saya tahu. Walaupun ini adalah cara-cara yang saya pakai lebih 15 tahun yang lalu, mudah-mudahan masih bisa diterapkan pada abad 21 ini

Oia, sebelumnya salut buat dept 1 HMA Amoghasida yang sudah membuat pelatihan maket hari Sabtu (revised) kemarin. Heboh dan gegap gempita suaranya kedengeran dari atas.

KOMPONEN PERTAMA : LEM

Nggak sembarang lem bisa dipakai, karena setiap jenis lem diciptakan untuk kegunaan yang berbeda-beda. Maketor mengenal berbagai jenis lem bisa diibaratkan seorang chef yang mengenal berbagai macam bumbu. Lho ?

1. LEM PUTIH.

Dulu mereknya cuman satu, Fox. Sekarang ada beberapa kayaknya. Kegunaan utamanya sebetulnya adalah untuk mengelem kayu. Warnanya putih, tapi kalau sudah kering akan menjadi bening. Pasti tahu lah yaw jenis lem yang saya maksud. Lem jenis ini adalah lem utama yang saya pakai untuk membuat maket.

Beberapa kelebihannya yang menurut saya luar biasa adalah:

  • Ketika kering, lem ini akan berwarna bening doft (tidak glossy / mengkilat) bandingkan dengan lem UHU yang ketika kering akan berwarna bening mengkilat. Karena doft, maka lem ini tidak akan kelihatan berlepotan pada maket, dan ini penting sekali buat estetika maket.
  • Hampir bisa melekatkan segalanya, kecuali styrofam, matras (bahan kayak sendal jepit yang sering dipakai untuk membuat kontur), vynil, kaca.
  • Kadar air relatif sedikit dibandingkan lem kertas biasa. Beberapa jenis kertas yang tipis akan  melengkung apabila direkatkan dengan lem kertas biasa, tetapi tidak bila menggunakan lem ini.

Kelemahannya adalah :

  • Harus nunggu kering dulu baru bisa dilepas, dan itu lumayan lamaaa. Kalau waktu panjang sih gakpapa, kalau waktu mepet menjelang deadline sidang ya harus rela niupin supaya cepet kering. Ya udah, itu aja kelemahannya sih.

2. LEM KUNING

Dulu dikenal dengan nama lem Castol, atau lem Aica-aibon. Hehe, nggak tahu apa mereknya sekarang. Yang jelas warnanya kuning, berbau menyengat, berbahan dasar bensin. Daaan, lem ini sebetulnya adalah lem yang dipakai oleh para tukang reparasi sepatu. Sepatu ? iya. Jadi ya memang kegunaan utama lem ini untuk menempelkan material-material maket yang terbuat dari matras, karet, vinyl. Terutama matras (bahan sendal jepit) untuk membuat kontur, asyik banget ditempelin pakai lem ini. Karakter lem ini adalah (jadi satu aja ya kelebihan dan kekurangannya) :

  • Cara menempelkan bahan dengan lem ini jauh-jauh berbeda dengan kebanyakan lem lainnya. Kalau lem yang lain, hanya perlu diaplikasikan ke salah satu surface yang akan ditempelkan, dan kedua permukaan yang akan ditempelkan harus disatukan ketika lem masih basah, lalu tunggu hingga kering. Nah, lem kuning ini kebalikannya. Lem ini harus diaplikasikan kepada kedua surface material, lalu, biarkan sampai kering. Ya, saya masih inget betul petunjuk di kemasannya – semakin kering semakin baik hasilnya -. Lalu setelah kedua permukaan kering betul, barulah ditempelkan pada posisi yang tepat. Harus sekali jadi pada posisi yang tepat, karena sekali menempel, jangan harap bisa dilepaskan lagi tanpa merusak bahannya.
  • Lem ini menggunakan bahan dasar bensin, sehingga sangat korosif terhadap material tertentu. Jangan sekali-sekali menggunakan lem ini untuk menempel styrofoam. Dijamin 2000% pasti hancur.
  • Lem kuning ini sangat oke sekali untuk menempel segala material yang berpori.

3. LEM UHU.

Dahulu, lem UHU identik dengan hanya 1 jenis lem. Warnanya bening, baunya tajam, dan rasanya dingin (karena berbahan dasar alkohol). Tahu kan jenis lem yang saya maksud ?

Karena sifatnya yang mengkilat setelah kering, saya jarang menggunakan lem UHU kecuali untuk satu hal, yaitu menempelkan kertas kalkir. Ya, kertas kalkir adalah salah satu jenis kertas yang paling sensitif terhadap air, sehingga kertas kalkir akan menggulung atau paling tidak berkerut ketika ditempelkan dengan menggunakan lem selain lem UHU. Sedangkan kertas kalkir digunakan untuk apa ? kertas kalkir biasanya untuk jendela. Mengenai jendela dan bukaan pada maket akan dibahas nanti ya.

4. SUPERGLUE

Dulu merek yang terkenal adalah alteco. nggak tahu sekarang. Gunanya adalah untuk menempelkan bahan maket yang sama sekali tidak berpori, sehingga tidak akan bisa bila ditempelkan dengan lem jenis lain. Bahan yang tidak berpori misalnya kaca, besi, metal. Besi ? iya, Anda belum pernah bikin maket struktur ?.

5. DOUBLE TAPE

Pernah mencoba menempelkan styrofoam? susah bukan ? karena partikelnya yang mudah lepas menyebabkan styfoam sulit untuk melekat dengan kuat dan mudah lepas lagi. memang ada lem khusus styrofoam yang berupa cairan berwarna bening, tapi lem styrofoam hanya efektif untuk menempelkan styrofoam dengan styrofoam. Untuk menempelkan styrofoam dengan material yang lain, tripleks alas bingkai misalnya, saya lebih prefer menggunakan doble tape untuk menempelkan styrofoam. Double tape juga saya gunakan untuk menempel kertas-kertas dalam bidang lebar untuk mengemat lem,

6. SOLDIR.

Ini memang bukan lem. Gunanya pasti udah tahu semua. untuk melekatkan elemen-elemen yang terbuat dari besi. Tapi tidak rekomended bila elemen besinya menyambung ke material lain yang mudah meleleh. Di SMU tentu anda diajari bahwa besi adalah konduktor panas yang baik bukan? jadi panas soldir yang merambat melalui besi akan melelehkan material yang lain tersebut. Saya hanya pernah satu kali menggunakan soldir pada saat membuat maket, yaitu ketika membuat space beam untuk stadion olah raga, tugas akhir anak Unpar. Oia… ati-ati keslomot ya…

Ada satu bahan lagi yang sebetulnya bisa digunakan untuk tempel-menempel, yaitu ‘upo’ (butiran nasi = bahasa jawa). Ya, ibu saya dahulu sering menggunakan upo untuk menempel kertas atau amplop. Upo ini sangat krusial pada proses pembuatan maket. Pada maket upo berguna untuk menempel apa ?

Anda salah, upo tidak saya gunakan untuk menempel, tapi upo dalam jumlah cukup banyak ( 1 piring misalnya) akan saya makan ketika saya lapar setelah membuat maket. Tentu dengan lauk yang layak (pecel lele misalnya) . hahaaa

***

Wew, baru satu komponen udah segini ya? padahal masih banyak aspek pada maket yang ingin saya bahas, antara lain BUKAAN, ATAP, BAHAN DINDING, POHON, RUMPUT, JALAN, PEDESTRIAN, MOBIL, LAMPU JALAN, ELEMEN AIR, MASSA EKSISTING, dan tentu saja ALAT-ALAT untuk membuat maket. Tapi karena ini sudah jam setengah 2 pagi, dan saya ngajar besok pagi, ….  break dulu ya. Next time pasti diteruskan lagi. Insya Allah.

Tips Desain 2 : Repetisi

Ohya, sebelum kita mulai, saya sampaikan dulu. Semua tips-tips desain yang saya muat di blog ini bukanlah teori-teori ilmiah . Semuanya hanyalah konsep-konsep ‘jalanan’, artinya ya hanya yang terpikir dan terlintas dalam pikiran saya sendiri. Jadi sama sekali bukan dari teori atau buku-buku tertentu. Sumbernya ya campuran, ada yang mungkin berasal dari buku-buku yang dulu pernah saya baca, object-object yang pernah saya lihat, ataupun tidak berasal dari manapun dan murni imajinasi saya sendiri (baca = karangan) hehe. Saya hanya ingin share saja kepada siapapun. Kalau ingin konsep-konsep perancangan yang ilmiah dan textbook, ya jangan tanya sama saya… heheee. Saya nggak tahu, saya kan dosen struktur. tanya saja Pak Bharoto, Pak Pipiek, atau Pak Malik.

Ok kita lanjut ya.

Semua orang tahu repetisi adalah pengulangan. Dalam desain arsitektur, repetisi sangat sering digunakan. Yang diulang bisa macam-macam. bisa suatu elemen bangunan, kelompok elemen bangunan, warna tertentu, besaran sudut tertentu, ataupun bentuk geometris tertentu, Dari repetisi ini timbulah suatu irama.

Faktanya adalah : suatu obyek akan terlibat lebih baik, lebih compact, lebih menarik, bila ada banyak kesamaan-kesamaan yang diulang pada obyek tersebut, daripada apabila obyek tersebut terdiri dari banyak komponen dengan karakter yang sama sekali berbeda.

Hal ini, yang menjadi kesalahan umum banyak mahasiswa arsitektur. Misalnya mereka mendesain sebuah bangunan dengan 10 buah bukaan/jendela. Mereka mengira dengan lebih banyak desain jendela, akan menjadi lebih menarik, sehingga ke-10 jendela tersebut didesain ke-10-10 nya, sehingga bangunan tersebut mempunyai 10 jenis desain jendela. Padahal tidak demikian, semakin banyak ragam desain elemen pada suatu obyek, malah akan menjadi semakin terlihat tidak padu dan berantakan. Misal sebuah bangunan mempunyai 10 bukaan, cukup desain 2-3 jenis bukaan, lalu aplikasikanlah 2-3 macam desain tersebut dalam ke-10 bukaan yang ada, Itu yang disebut repetisi.

Pemakaian sudut juga demikian, Seandainya kita hendak mengaplikasikan sebuah besaran sudut pada suatu desain, pakailah SATU ATAU DUA MACAM SUDUT SAJA. Saya tulis pakai huruf kapital nih, karena penting banget. sudut tersebut bisa diaplikasikan dalam denah, tampak, elemen bangunan, atau sudut atap. Jangan sampai ada sudut atap yang berbeda-beda pada suatu desain bangunan. Kecuali pada saat itu sedang menerapkan konsep hierarki atau transisi, yang akan kita bahas di postingan yang lain.

Ok, cukup bla-blanya ya, langsung ke gambar saja.

Gambar di bawah ini contoh repetisi pada elemen bangunan :

Kalau gambar yang di bawah ini adalah repetisi kelompok elemen bangunan (repetisi suatu bagian dalam bangunan)

Lihat gambar di bawah ya. harmony tercipta karena hanya ada 2 macam jendela, kotak dan melengkung, yang melengkung sebagai aksen, sementara jendela kotak dengan ukuran, bentuk, dan jumlah yang sama diaplikasikan di berbagai tempat. Anda bisa bayangkan bila jendelanya didesain beda-beda semua? Wah nama di depan gedungnya ‘harmony’ pulak. hehe

Nah, kalau yang di bawah adalah repetisi sudut. Besaran sudut yang ada pada desain bangunan ini adalah sudut yang sama. Bayangkan seandainya sudutnya beda-beda semua. Taruhan goceng…. pasti jelek 🙂

Repetisi dapat juga diterapkan pada pengulangan pola pada berbagai level desain. Misalnya lihat gambar di bawah ini, pola curve dengan sudut-sudut yang round diterapkan mulai pada fasad/muka bangunan, tapak/halaman, hingga interior. Coba bayangkan seandainya polanya beda-beda, fasad seperti itu, tapak/halamannya kotak-kotak, lalu interiornya menyudut-nyudut. hiiii.. nggilani.

Yang harus diingat adalah, repetisi tidak boleh berlebihan, harus ada break, variety, dan aksen. Binatang apa itu? Insya Allah akan kita bahas pada tips-tips berikutnya. kalo saya lupa diingetin ya.

Tips Desain 1 : Kontras

(khusus mahasiswa lho, arsitek senior nggak boleh baca, hahaa malu)

Segala sesuatu akan tampak bila ada pembandingnya.  Perbedaan antara sesuatu yang dibandingkan dengan pembandingnya biasa disebut kontras. Semakin besar nilai kontrak… eh kontras-nya (maaf, biasa mroyek sih) maka obyek yang dibandingkan akan semakin menonjol.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa obyek yang kontrasnya lebih besar, akan kelihatan LEBIH MENARIK, daripada obyek yang kontrasnya lebih kecil. Tapi harus diingat, di sini saya tidak bermaksud membandingkan antara obyek yang kontrasnya tinggi dengan obyek yang kontrasnya nol (monochrome), karena boleh jadi, obyek yang monochrome akan punya kekuatan tersendiri yang akan dibahas di tips desain yang lain. Maksud saya dengan kalimat di atas adalah : daripada membuat suatu obyek dengan kontras yang nanggung, lebih baik buatlah obyek dengan kontras yang tinggi sekalian.

Banyak terapan kontras dalam desain. Antara lain :

1.       Kontras Solid-Void.

Ini mungkin adalah konsep yang paling sering diterapkan dalam desain. Dengan menerapkan solid void selang-seling pada desain, akan menciptakan efek yang bagus. Solid bisa berarti bidang atau material yang masif, sementara void bisa berarti kosong, atau material yang menyiratkan kekosongan, misalnya kaca.

Nggak percaya ? silahkan lihat gambar di bawah ini.

Pada gambar di atas, framenya adalah solid, sementara massa bangunan di tengah adalah void.

Pada gambar di atas, solid-void diterapkan pada dinding dan bukaan horizontal

Yang ini juga mirip nih

Pada desain ini, bagian bawah yang warna kuning adalah solid, fasad bangunan yang lain adalah void.

Yang ini, siripnya solid, bukaannya  void

Nah, yang ini malah 1 masa solid, 1 masa bangunan yang lain yang void, bagus khan ?

2. Kontras dengan Konteks.

Artinya adalah bila ingin membuat suatu desain yang menonjol, buatlah desain yang sangat berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Tapi jangan salah, seperti kontras vs monochrome di atas, kebalikan kontras dengan lingkungan adalah blended (menyatu dengan lingkungan). Nah, blended ini juga bisa memunculkan kekuatan tersendiri. Kapan-kapan kita bahas yang blended ini ya.

maksud saya dengan konsep kontras yang kedua ini adalah, daripada membuat kontras yang nanggung, desainlah suatu obyek yang luar biasa berbeda dengan lingkungan sekitarnya.

Lihat gambar-gambar di bawah ini ya.

Yang ini Swiss Re HQ, di London, bentuknya kontras banget dengan bangunan di sekitarnya.

Buat sufi ini sih nggak asing lagi. Buat yang pernah nonton The Da Vinci Code pasti tahu Museum Louvre di Paris ini.

Yang ini nggak tahu bangunan apa dan di mana, hehe

Yang ini keren juga, Broadcasting Place di Leeds, Inggris. Lihat, kontras banget dengan bangunan lama di sudutnya ya ?

Nih, bahkan oom Frank Lloyd Wright pun sudah sejak dulu pakai konsep kontras dengan konteks. Falling Water – Kauffman House

3. Kontras pada Gambar Presentasi

Ketika saya kuliah tingkat 1 dulu, saya ingat betul apa kata dosen saya waktu itu.”Kalau ingin gambarmu menarik, buatlah GELAP-TERANG”. dan wejangan dosen saya ini masih saya pegang teguh sampai saat ini. Setiap ada kesempatan, saya selalu mencoba membuat gambar saya gelap-terang. Dengan apa gambar kita bisa gelap terang ? yak betul, dengan SHADOW/BAYANGAN. Shadow atau bayangan bisa diterapkan pada gambar :

  • Site plan, pada bayangan masa bangunan dan pohon. Dengan bayangan ini, gambar siteplan yang semula datar-datar saja, bisa terlihat sangat menarik. Fungsi shadow pada site plan adalah untuk : membedakan ketinggian bangunan, membedakan atap datar, atap miring, dan atap melengkung.
  • Tampak bangunan, dengan shadow, jadi terlihat jelas, mana bagian bangunan yang maju dan mana yang mundur.

Dulu waktu kuliah, saya bahkan berani memberi shadow pakai spidol snowman besar yang item itu. hehe, nekad ya?

Ah, konsep yang ini susah nyari contoh image, bayangin sendiri aja ya, pokoknya gitu deh.

Du u andersten ?

Arsitek (tidak) harus bisa gambar ?

Kali ini kita bahas lagi tentang arsitek ya. Udah jadi perdebatan umum, di kalangan arsitek tentunya, mengenai anggapan bahwa seorang arsitek harus punya skill gambar yang bagus. Katanya, bila seorang arsitek nggak bisa nggambar bagus, nggak bakalan deh bisa jadi arsitek top. Apa memang bener begitu ?

Perdebatan itu sendiri tercermin dalam sistem seleksi untuk masuk ke dalam suatu sekolah arsitektur yang beda-beda pula. Ada sekolah arsitektur yang mensyaratkan tes gambar pada ujian masuknya, ada pula yang tidak. Wah, untungnya kampus almamater saya dulu nggak ada seleksi kayak ginian, kalo ada, nggak yakin juga bisa lulus. Heheee.

Setiap orang tentu berhak punya pendapat sendiri-sendiri. Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa untuk bisa masuk ke dalam suatu sekolah arsitektur tidak perlu ada seleksi skill menggambar (mudah-mudahan itu bukan excuse karena saya nggak bisa gambar ya?)

Kalau menurut pendapat saya, kemampuan gambar itu penting buat seorang arsitek, tapi bukan segalanya. Sejauh yang saya tahu dan saya alami, dalam menjalankan tugasnya, seorang arsitek akan melakukan 2 hal besar.

Yang pertama, adalah ide / gagasan itu sendiri. Artinya, seorang arsitek harus bisa menghasilkan suatu ide / gagasan terbaik dalam tugasnya merancang suatu built environment sebagai tempat hidup manusia. Beruntung, di kampus saya tidak akan kekurangan ide, karena paling tidak saya catat paling sedikit ada 4 orang ‘ide’ di sana. (hahaha, buat yang tahu, keep secret aja ya 🙂 )

Yang kedua, arsitek harus bisa menyampaikan ide/gagasan tersebut kepada orang lain, baik klien, maupun pihak-pihak lain yang terkait dalam proses perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan pembangunan.

Kalau menurut saya, seorang arsitek ya harus punya dua-duanya. Nggak bisa kalau cuman salah satu. Sehebat apapun idenya tidak akan terealisasikan secara maksimal bila tidak bisa tersampaikan kepada orang lain. Saya pernah mengalami hal tersebut, saya merasa punya ide yang cukup menarik untuk sayembara summarecon bekasi tempo hari. Tetapi saya sampai desperate, karena saya hanya bisa membayangkan ide tersebut di kepala saya, tanpa mampu memvisualisasikan ide itu karena keterbatasan skill freehand dan skill computer grafis saya. Beruntung, pada detik-detik terakhir, ada 2 mahasiswa yang mampu membantu memodelkan dalam sketch up. Eh, idenya menarik gitu? Nggak juga sih, nyatanya kalah… hahaha. Kalau penasaran kayak apa barangnya liat di sini ya http://septanabp.blogspot.com/2012/02/sayembara-summarecon.html. Tapi sebaliknya, sehebat apapun skill grafis dan teknis presentasinya, lama-lama akan ditinggalkan orang juga bila ide/gagasannya terlalu dangkal.

Nah, kemampuan menggambar seorang arsitek adalah penunjang untuk bagian yang kedua tadi. Tentu bahagia sekali seorang arsitek yang dianugerahi talenta menggambar yang hebat. Sayangnya, tidak semua orang begitu, termasuk saya. Untuk menghasilkan suatu gambar yang ‘cukup bagus’, baik secara manual ataupun computerize, mungkin saya perlu 3-4 kali revisi. Terus terang saja, saya sangat iri dengan kemampuan beberapa teman yang dengan sekali corat-coret saja sudah langsung bisa menghasilkan gambar yang bagus, indah, dan proporsional. Mbok disuruh nggambar sampai jumpalitan dan revisi 10x saya tidak akan mungkin bisa menghasilkan gambar sebagus itu. Tapi apa mau dikata, nggak setiap orang dilahirkan dengan bakat seniman seperti itu.

Lalu, buat yang senasib dengan saya, apa yang harus kita lakukan ?

  • Perkuat kemampuan software. Hari gini gitu loh. Banyak sekali software yang akan bisa membantu kita untuk memvisualisasikan ide. Mulai dari software permodelan seperti autoCAD, archiCAD, sketch Up, dll. Lalu software untuk rendernya Vray, 3D max, dll. Lalu sofware rekayasa grafis seperti corel dan photoshop. Saya selalu bilang kepada mahasiswa, Fardhu Ain hukumnya bagi mahasiswa arsitektur untuk bisa AutoCAD, Sketch Up, dan Photoshop. Minimal tiga itu deh.
  • Asah terus sense of art. Itu bisa dilatih dan dipelajari kok. Komposisi, harmoni, proporsi, baik untuk bentuk, warna, tekstur, dll.
  • Tetap latih kemampuan freehand. Justru karena kita lemah di freehand, bukan terus berarti kita malah meninggalkan freehand sama sekali. Justru kita harus semakin banyak melatif freehand kita. Karena itu saya selalu ‘memaksa’ mahasiswa tingkat 1-2 untuk mengerjakan tugas dengan teknik manual dan tidak boleh menggunakan komputer. Saya juga masih ingat betapa dulu saya ‘disiksa’ dosen-dosen saya di semester-semester awal kuliah untuk berlatih menulis huruf teknik. Ya, seperti anak TK, disuruh A,B,C,D sampai Z, serta angka 1-10 begitu berlembar-lembar, Lalu menggambar tekstur berbagai material (kayu, kaca, beton, besi) dll pada berbagai bentuk geometris (bola, kotak, limas, dll). Yang paling menyiksa adalah tugas untuk memenuhi 1 lembar kertas A2 dengan garis lurus manual dengan tinta, masing-masing garis jaraknya harus konstan 2 mili, dan tidak boleh nyoret atau berpotongan. Kalau ada yang nyoret, ya udah, ulang lagi. Heheee. Walaupun itu semua sekarang jarang saya pakai lagi, tapi itu membentuk sense of art saya. Terima kasih guru-guruku.

Saya penasaran, kira-kira arsitek-arsitek yang te-op-pe-be-ge-te itu kira-kira pada jago nggambar nggak ya? Saya tersenyum lebar setelah googling. Ternyata gambar-gambar sketsa arsitek-arsitek tersebut banyak yang ‘biasa-biasa saja’, nggak beda jauh sama gambar saya… hehee. Mau lihat ?

Yang ini sketsanya Frank Gehry – Guggenheim Museum

Yang ini adalah sketsanya Le Corbusier – Villa Savoye

Kalau ini Michael Graves – Portland Building

Haa, bahkan Zaha Hadid pun gambarnya kayak gini… hahaha. phaeno science center

Satu lagi, Richard Meyer – Jubilee Church

Nah kalau yang ini contoh arsitek-arsitek TOP yang memang seniman dan jago gambar

Frank Lloyd Wright – falling water

Paul Rudolph – wisma dharmala

Tapi harus diingat ya, yang di atas tadi adalah arsitek-arsitek kawakan yang sudah punya puluhan tim pendukung yang akan membantunya memvisualisasikan coretan-coretan ‘jelek’ itu ke dalam gambar presentasi yang indah. Lha kalau kita, mau suruhan siapa ? hahaha.

Jadi kembali ke judul di atas. Apa jawabannya? Menurut saya, kalau yang dimaksud itu adalah seorang arsitek harus bisa nggambar yang buaaaagusss dan ndakik-ndakik kayak seniman itu, tentu jawabannya adalah TIDAK. Tetapi kalau yang dimaksud bahwa seorang arsitek harus bisa memvisualisasikan ide/gagasan yang ada dalam pikirannya, tentu jawabannya adalah IYA.

ARSITEK : everything or nothing?

ini maksudnya arsitek... bukan charlie's angels

18 tahun yang lalu, ketika saya mulai kuliah, bangga sekali rasanya, bisa kuliah di Jurusan Arsitektur Rasanya ketika itu saya cinta mati dengan arsitektur (pilihan pertama dan pilihan kedua saya ketika UMPTN dulu (sekarang SNMPTN ya ?) sama-sama jurusan arsitektur, hanya di beda PTN di kota yang berbeda). Nggak heran, kebetulan dari dulu saya adalah penganut aliran sufi (baca : suka film). Dan pada film-film holywood, sering… hampir selalu, digambarkan arsitek adalah sosok yang keren, hebat, dan tentu saja… kaya… J

Yang saya tahu ya :

  • Tom hanks, (Sleepless in Seatle)
  • Keanu Reeves, (The Lake House)
  • Yang terakhir, Leonardo di Caprio (Inception ,2010)

Karena penasaran, saya lalu googling tentang facts tersebut, ternyata memang ada banyak. Hehehe. Ini linknya kalo penasaran juga  http://www.archdaily.com/33366/fictional-architects-in-movies/

Begitu kuliah dimulai, wah jauh lebih bangga lagi. Ternyata di arsitek diajarin segala macam. Mulai dari itung-itungan yang sangat rumit buat saya yang nilai matematika pas-pasan (mektek), sejarah, filosofi, psikologi manusia, manajemen (manajemen proyek), ekonomi, dan tentu saja unsur seninya.

Coba bandingkan dengan Kedokteran Gigi (maaf sebut jurusan, cuman bercanda kok). Mereka dari masuk kuliah sampai lulus kan cuman nguplek-uplek gigi manusia yang jumlahnya cuman 32 itu. Coba kalau dibagi rata 8 semester, brarti dalam satu semester mereka cuman ngulik-ulik 4 biji gigi doang. Hahaha.  (Saya ngaku deh, joke ini kulakan dari Prof. Eko Budihardjo di seminar IAI kemarin).

Walaupun defisit jam tidur dibandingkan dengan teman-teman jurusan lain, tapi saya tetap bangga. Bedanya kentara jelas ketika ada bola di TV. Mereka nongkrongin pertandingan di depan TV, dari pertama sampai peluit terakhir, sementara saya sambil gambar tugas di atas meja gambar (th 1994) di dalam kamar, buka pintu lebar-lebar (serasa dengar radio deh) dan baru keluar kamar bila suara sorak-sorai yang pada nonton mulai heboh. Hehe

Tapi, menginjak tahun-tahun terakhir, terus terang mulai ada rasa bimbang. Saking banyaknya yang dipelajari, malah bingung, sebetulnya di jurusan Arsitek itu apa yang dipelajari ya ? Apakah dengan mempelajari segala hal itu, kita tidak akan jadi orang yang nanggung ?. Kita belajar gaya dan itungan sampai njengking pun, pasti kalah sama orang sipil lah. Kita belajar perilaku penghuni bangunan pun akan kalah sama anak psikologi. Kita belajar ekonomi proyek, tentu akan kalah njelimet dibandingkan anak ekonomi.  Kita belajar art dan keindahan pun, akan kalah oleh anak jurusan seni. Lalu ngapain kita harus mempelajari itu semua ?

Hehe, tenang saja, yang bingung bukan kita aja kok. Kalau diperhatikan dari nama jurusan dan fakultasnya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan arsitektur, para petinggi kampus pun ‘bingung’ untuk menempatkan Jurusan arsitektur di fakultas apa sebetulnya. Ada yang memberi nama ‘Jurusan Teknik Arsitektur’, ada yang memberi nama ‘Jurusan Arsitektur’ saja. Ada yang meletakkan Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik, ada yang di dalam fakultas yang berhubungan dengan Seni, bahkan ada yang meletakkan arsitektur sebagai sebuah fakultas sendiri :

  • Undip Semarang : Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik
  • UGM Yogyakarta : Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik
  • ITB Bandung : Dulu Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, sekarang menjadi Prodi Arsitektur dalam Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) . http://sappk.itb.ac.id/
  • Tri Sakti Jakarta : Fakultas Arsitektur, lansekap, dan teknologi bangunan
  • Unika Soegijapranata Semarang : Fakultas Arsitektur dan Desain
  • UNS Surakarta : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik
  • Unpar : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik
  • ITS Surabaya : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik Sipil dan Desain

Sebagai perbandingan, sedikit yang ada di luar, dari berbagai negara yang berbeda :

  • Melboune University : Architecture department dalam Faculty of Architecture, Building, and Planning
  • University of Tokyo : Architecture department dalam Faculty of Engineering
  • Massachusetts Institute of Technology : Architecture Dept dalam School of Architecture & Planning.

Hehe, macem-macem ya ? Begitulah. Lalu kembali ke topik yang tadi, apakah memang perlu kita sebagai arsitek harus tahu segala macem ilmu yang kita pelajari di atas tadi ? apakah memang kita perlu belajar mekanika, sejarah, psikologi, ekonomi, manajemen, seni, dan lain-lain itu ?

Percaya nggak percaya, jawabannya adalah PERLU !!!,  pakai huruf kapital, di-bold, dikasih underline, dan diberi tanda seru paling sedikit tiga biji J

Mengapa ?

Karena tugas utama seorang arsitek adalah mensintesa, men-sari-kan, dan membuat suatu kondisi lingkungan buatan (baca : build environment) bagi tempat hidup manusia. Karena manusia itu sendiri adalah sebuah, eh suatu (?) makhluk yang kompleks, tentu untuk menciptakan lingkungan buatan bagi manusia perlu background knowledge dari berbagai aspek bidang kehidupan manusia, yaitu ya segala bidang-bidang ilmu yang kita pelajari tadi.

Tentu saja, itu bila kita ingin menciptakan suatu lingkungan buatan yang mendekati ideal bagi manusia. Nggak bisa kalau hanya didekati dari satu bidang ilmu saja. Misal, kita hanya menggunakan kekuatan perhitungan bangunan saja. Boleh jadi bangunan kita akan kuat meski ada gempa 10 skala Richter (Naudzubillahi min dzalik ya, jangan sampai terjadi), tetapi, indahkah bangunan itu, nyamankah dihuni, ekonomis kah ? belum tentu. Demikian halnya bila suatu desain bangunan hanya didekati dari aspek estetisnya. Mungkin hasilnya akan indah dilihat, tetapi kuatkah bangunan tersebut, nyamankah dihuni, dan ekonomiskah? Jawabannya juga sama, belum tentu.  Apalagi bila yang dijadikan pertimbangan adalah faktor ekonomi saja, bisa jadi hasil akhirnya akan murah dari segi biaya, tapi tidak kuat, tidak fungsional, tidak nyaman, dan tidak indah.

Tentu kita pernah melihat sebuah bangunan yang terlihat kuat tapi tidak bagus, terlihat mahal tapi tidak indah, terlihat indah tapi tidak nyaman. Itulah yang terjadi bila seorang arsitek (atau jangan2 malah tidak didesain oleh arsitek) hanya mempunyai background knowledge yang tidak untuh.

Jadi yang perlu kita lakukan, adalah mengendapkan seluruh background knowledge tersebut dalam bawah sadar kita (jangan terlalu dalem ngendapinnya lho, ntar susah dikeluarkan lagi. Hehe) dan biarlah masing-masing bagian pengetahuan yang diperlukan akan menjalankan tugasnya ketika kita sedang dihadapkan pada tugas utama kita sebagai arsitek : meng-create suatu lingkungan buatan bagi manusia untuk hidup di dalamnya.

Jadi, buat yang sedang menempuh sekolah arsitektur, enjoy saja dalam mempelajari seluruh bidang ilmu yang diajarkan. Tidak perlu menguasai semuanya, nggak akan bisa deh. Tahu saja sudah cukup kok. Semoga, ketika lulus nanti semuanya akan menjadi arsitek yang utuh, profesional, dan melahirkan banyak mahakarya yang bermanfaat buat banyak orang. Bisa terkenal seperti Ridwan Kamil dah. Saya ingat betul ketika dulu saya dengan bengong mengamati Tugas Akhirnya dia yang mengambil project Apartemen Bawah Air. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat II apa III gitu. Bang Emil cuman bilang, “ Udah, nggak usah ‘gumun’, nanti juga nyampe kok”. Eh… tapi mas, kok sampe sekarang nggak nyampek-nyampek ya? Hahaha.

Tidak ingin menjadi arsitek ketika lulus nanti ? nggak masalah, justru dengan spektrum ilmu yang sangat luas itu, lulusan jurusan arsitektur akan memiliki pilihan lapangan kerja yang luar biasa banyak. Dia akan bisa menjadi seorang birokrat yang baik di pemerintahan, karena terbiasa berpikir komprehensif dan problem solver. Dia akan bisa jadi manager yang baik dalam bidang apapun, karena terbiasa berpikir sistematis, kompleks, dan terbiasa bekerja sebagai teamwork. Bahkan, dia akan bisa menjadi penjual yang baik, karena terbiasa berpresentasi dan mengungkapkan gagasannya. Insya Allah.

Meminjam theme-nya film Negeri 5 Menara yang sedang ngetrend, “Man Jadda Wajada”. Pokoknya berusaha sebaik-baiknya sajalah, maka pasti akan berhasil dengan baik.

* eh, gambar di atas maksudnya arsitek lho, bukan charlie’s angels. hehe