Arsitek (tidak) harus bisa gambar ?

Kali ini kita bahas lagi tentang arsitek ya. Udah jadi perdebatan umum, di kalangan arsitek tentunya, mengenai anggapan bahwa seorang arsitek harus punya skill gambar yang bagus. Katanya, bila seorang arsitek nggak bisa nggambar bagus, nggak bakalan deh bisa jadi arsitek top. Apa memang bener begitu ?

Perdebatan itu sendiri tercermin dalam sistem seleksi untuk masuk ke dalam suatu sekolah arsitektur yang beda-beda pula. Ada sekolah arsitektur yang mensyaratkan tes gambar pada ujian masuknya, ada pula yang tidak. Wah, untungnya kampus almamater saya dulu nggak ada seleksi kayak ginian, kalo ada, nggak yakin juga bisa lulus. Heheee.

Setiap orang tentu berhak punya pendapat sendiri-sendiri. Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa untuk bisa masuk ke dalam suatu sekolah arsitektur tidak perlu ada seleksi skill menggambar (mudah-mudahan itu bukan excuse karena saya nggak bisa gambar ya?)

Kalau menurut pendapat saya, kemampuan gambar itu penting buat seorang arsitek, tapi bukan segalanya. Sejauh yang saya tahu dan saya alami, dalam menjalankan tugasnya, seorang arsitek akan melakukan 2 hal besar.

Yang pertama, adalah ide / gagasan itu sendiri. Artinya, seorang arsitek harus bisa menghasilkan suatu ide / gagasan terbaik dalam tugasnya merancang suatu built environment sebagai tempat hidup manusia. Beruntung, di kampus saya tidak akan kekurangan ide, karena paling tidak saya catat paling sedikit ada 4 orang ‘ide’ di sana. (hahaha, buat yang tahu, keep secret aja ya🙂 )

Yang kedua, arsitek harus bisa menyampaikan ide/gagasan tersebut kepada orang lain, baik klien, maupun pihak-pihak lain yang terkait dalam proses perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan pembangunan.

Kalau menurut saya, seorang arsitek ya harus punya dua-duanya. Nggak bisa kalau cuman salah satu. Sehebat apapun idenya tidak akan terealisasikan secara maksimal bila tidak bisa tersampaikan kepada orang lain. Saya pernah mengalami hal tersebut, saya merasa punya ide yang cukup menarik untuk sayembara summarecon bekasi tempo hari. Tetapi saya sampai desperate, karena saya hanya bisa membayangkan ide tersebut di kepala saya, tanpa mampu memvisualisasikan ide itu karena keterbatasan skill freehand dan skill computer grafis saya. Beruntung, pada detik-detik terakhir, ada 2 mahasiswa yang mampu membantu memodelkan dalam sketch up. Eh, idenya menarik gitu? Nggak juga sih, nyatanya kalah… hahaha. Kalau penasaran kayak apa barangnya liat di sini ya http://septanabp.blogspot.com/2012/02/sayembara-summarecon.html. Tapi sebaliknya, sehebat apapun skill grafis dan teknis presentasinya, lama-lama akan ditinggalkan orang juga bila ide/gagasannya terlalu dangkal.

Nah, kemampuan menggambar seorang arsitek adalah penunjang untuk bagian yang kedua tadi. Tentu bahagia sekali seorang arsitek yang dianugerahi talenta menggambar yang hebat. Sayangnya, tidak semua orang begitu, termasuk saya. Untuk menghasilkan suatu gambar yang ‘cukup bagus’, baik secara manual ataupun computerize, mungkin saya perlu 3-4 kali revisi. Terus terang saja, saya sangat iri dengan kemampuan beberapa teman yang dengan sekali corat-coret saja sudah langsung bisa menghasilkan gambar yang bagus, indah, dan proporsional. Mbok disuruh nggambar sampai jumpalitan dan revisi 10x saya tidak akan mungkin bisa menghasilkan gambar sebagus itu. Tapi apa mau dikata, nggak setiap orang dilahirkan dengan bakat seniman seperti itu.

Lalu, buat yang senasib dengan saya, apa yang harus kita lakukan ?

  • Perkuat kemampuan software. Hari gini gitu loh. Banyak sekali software yang akan bisa membantu kita untuk memvisualisasikan ide. Mulai dari software permodelan seperti autoCAD, archiCAD, sketch Up, dll. Lalu software untuk rendernya Vray, 3D max, dll. Lalu sofware rekayasa grafis seperti corel dan photoshop. Saya selalu bilang kepada mahasiswa, Fardhu Ain hukumnya bagi mahasiswa arsitektur untuk bisa AutoCAD, Sketch Up, dan Photoshop. Minimal tiga itu deh.
  • Asah terus sense of art. Itu bisa dilatih dan dipelajari kok. Komposisi, harmoni, proporsi, baik untuk bentuk, warna, tekstur, dll.
  • Tetap latih kemampuan freehand. Justru karena kita lemah di freehand, bukan terus berarti kita malah meninggalkan freehand sama sekali. Justru kita harus semakin banyak melatif freehand kita. Karena itu saya selalu ‘memaksa’ mahasiswa tingkat 1-2 untuk mengerjakan tugas dengan teknik manual dan tidak boleh menggunakan komputer. Saya juga masih ingat betapa dulu saya ‘disiksa’ dosen-dosen saya di semester-semester awal kuliah untuk berlatih menulis huruf teknik. Ya, seperti anak TK, disuruh A,B,C,D sampai Z, serta angka 1-10 begitu berlembar-lembar, Lalu menggambar tekstur berbagai material (kayu, kaca, beton, besi) dll pada berbagai bentuk geometris (bola, kotak, limas, dll). Yang paling menyiksa adalah tugas untuk memenuhi 1 lembar kertas A2 dengan garis lurus manual dengan tinta, masing-masing garis jaraknya harus konstan 2 mili, dan tidak boleh nyoret atau berpotongan. Kalau ada yang nyoret, ya udah, ulang lagi. Heheee. Walaupun itu semua sekarang jarang saya pakai lagi, tapi itu membentuk sense of art saya. Terima kasih guru-guruku.

Saya penasaran, kira-kira arsitek-arsitek yang te-op-pe-be-ge-te itu kira-kira pada jago nggambar nggak ya? Saya tersenyum lebar setelah googling. Ternyata gambar-gambar sketsa arsitek-arsitek tersebut banyak yang ‘biasa-biasa saja’, nggak beda jauh sama gambar saya… hehee. Mau lihat ?

Yang ini sketsanya Frank Gehry – Guggenheim Museum

Yang ini adalah sketsanya Le Corbusier – Villa Savoye

Kalau ini Michael Graves – Portland Building

Haa, bahkan Zaha Hadid pun gambarnya kayak gini… hahaha. phaeno science center

Satu lagi, Richard Meyer – Jubilee Church

Nah kalau yang ini contoh arsitek-arsitek TOP yang memang seniman dan jago gambar

Frank Lloyd Wright – falling water

Paul Rudolph – wisma dharmala

Tapi harus diingat ya, yang di atas tadi adalah arsitek-arsitek kawakan yang sudah punya puluhan tim pendukung yang akan membantunya memvisualisasikan coretan-coretan ‘jelek’ itu ke dalam gambar presentasi yang indah. Lha kalau kita, mau suruhan siapa ? hahaha.

Jadi kembali ke judul di atas. Apa jawabannya? Menurut saya, kalau yang dimaksud itu adalah seorang arsitek harus bisa nggambar yang buaaaagusss dan ndakik-ndakik kayak seniman itu, tentu jawabannya adalah TIDAK. Tetapi kalau yang dimaksud bahwa seorang arsitek harus bisa memvisualisasikan ide/gagasan yang ada dalam pikirannya, tentu jawabannya adalah IYA.

Leave a comment

3 Comments

  1. Postingannya buat saya percaya diri nih~😀

    Reply
  2. Frisca Delfia

     /  January 28, 2013

    Semakin semangat masuk jurusan arsitektur🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: