Keramik yang Bikin Cantik (bagian 2)

Seperti diulas pada tulisan sebelumnya, teknik pemasangan yang benar sangat mempengaruhi hasil akhir pemasangan keramik. Keramik dengan kualitas menengah yang dipasang dengan baik dan benar, akan memberikan hasil yang lebih baik daripada keramik kualitas terbaik yang dipasang secara sembarangan. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk mengetahui tata cara pemasangan keramik yang tepat.

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum membeli keramik

Sebelum Anda membeli keramik untuk lantai rumah Anda, sebaiknya perhatikan dulu hal-hal penting berikut ini :

  • Luas dan lay out ruang yang akan dilapisi keramik karena akan menentukan jumlah, jenis, ukuran, varian warna, dan aksesoris (kalau ada) keramik yang harus dipesan.
  • Pola pemasangan keramik, paralel atau diagonal. Kebutuhan keramik untuk pemasangan paralel sangat berbeda dengan pemasangan diagonal. Pemasangan diagonal akan membutuhkan keramik lebih banyak. Itu artinya kita harus memesan keramik lebih banyak.
  • Area permukaan yang akan dilapisi keramik, ruang basah atau kering, ruang luar atau dalam, lantai biasa atau bagian khusus seperti tangga misalnya. Untuk area basah dan area tangga memerlukan keramik dengan tekstur yang tidak licin. Untuk keramik pada bagian ujung anak tangga diperlukan keramik step tile atau nose yang tidak licin dan memang khusus didesain untuk anak tangga.
  • Desain arsitektur dan interior rumah. Untuk rumah bergaya modern dengan perabot simpel, tentu lebih pas memilih keramik dengan motif dan warna yang netral, bukan keramik dengan warna dan motif yang ramai. Untuk ruang kecil sebaiknya pilih keramik berukuran kecil atau sedang dengan warna-warna terang, meskipun biaya pemasangannya lebih mahal. Keramik berukuran besar di ruang kecil membuat ruang terkesan sempit meskipun pemasangan lebih mudah dan murah.
  • Konsistensi suplai keramik baik dalam jumlah, jenis, ukuran, maupun warnanya. Ini penting agar kalau suatu waktu butuh pengganti, mudah mendapatkannya, sehingga keramik di ruangan tidak belang. Biasanya produsen keramik yang besar memiliki konsistensi produksi yang lebih baik daripada produsen keramik yang kecil. Idealnya memang kita melebihkan pembelian keramik 1 atau 2 dus untuk cadangan apabila ada kebutuhan keramik untuk perbaikan.

Alat-alat yang diperlukan

Berikut alat-alat yang diperlukan bila kita hendak memasang keramik :

  • Selalu gunakan pakaian dan peralatan yang aman. Kenakan kacamata pengaman, sarung tangan kulit tebal, dan pakaian kerja overall, terutama saat membongkar ubin keramik yang lama. Pecahan keramik dan serpihan lain dapat menyebabkan luka jika Anda tidak hati-hati.
  • Bak air untuk merendam keramik sebelum dipasang.
  • Pita pengukur, tile spacer, pengukur siku, dan water pas / bubble level.
  • Palu, pisau plamur (putty knife), dan cetok (lebih baik yang bertakik), dan rubber grout float.
  • Pemotong ubin dan tang ubin. Pemotong keramik ada dua macam, yang manual dan yang mekanis. Sebaiknya gunakan pemotong yang mekanis, karena pemotong manual sulit untuk membuat potongan yang tidak persegi atau potongan dalam ukuran yang kecil.
  • Material Mortar/perekat. Anda bisa menggunakan semen biasa ataupun mortar khusus dan semen instan.
  • Tiling grout dan sealant untuk mengisi nat keramik. Nat keramik bisa diisi dengan semen biasa atau Tiling grout khusus tersedia dalam berbagai warna sehingga Anda dapat memilih yang cocok dengan desain Anda.

Teknik Pemasangan Keramik

Teknik pemasangan keramik terbagi atas 6 tahap penting:

1. Tahap Persiapan untuk Kondisi Permukaan

  • Hal paling awal yang harus dipersiapkan adalah kematangan cor beton yang akan menjadi base atau fondasi keramik. Jangan memulai dengan cor beton yang belum matang, sebab kondisi ini akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
  • Jika Anda benar-benar yakin betonnya sudah cukup umur, buat permukaan cor beton menjadi kasar. Anda dapat menggunakan sapu penggaruk sebagai alat bantu.
  • Pastikan permukaan beton bebas dari partikel menonjol yang kemungkinan akan mengganggu. Cara yang biasa digunakan para tukang adalah mengetuk-ngetuk partikel yang menonjol dengan palu atau baji.
  • Setelah semua partikel yang menonjol dikelotok, bersihkan kotoran tersebut dengan air. Agar efisien, semprot saja dengan selang air.

2. Tahap Pengerjaan Lapisan Screed

  • Tahap ini baru dapat dimulai jika permukaan beton yang dibersihkan benar-benar kering.
  • Pasang Screed secara merata pada seluruh permukaan.
  • Agar lapisan screed benar-benar kering, amankan dengan diberi lapisan penutup.
  • Periksa permukaannya untuk mengetahui rongga dibawahnya. Agar lebih mudah mendeteksi adanya rongga, ketuk-ketuk permukaan tersebut dengan alat.
  • Jangan lupa tandai jalur-jalur instalasinya.

3. Tahap Persiapan Pemasangan Keramik

  • Agar keramik terpasang lurus dan rata, buatlah semacam garis panduan meletakkan keramik. Biasanya garis ini dibuat dengan benang yang diikat dari ujung ke ujung pada permukaan yang akan dipasang keramik.
  • Jika pemasangan keramik menggunakan adukan semen sebagai bahan perekat, sebaiknya basahi dulu keseluruhan permukaannya agar lembab.
  • Jika bahan perekat yang dipakai adalah adhesive (perekat siap pakai yang tidak perlu dicampur atau diaduk seperti pada saat membuat adukan semen), ikuti petunjuk pada label produk tersebut.
  • Jangan pernah menggunakan adhesive yang sudah kadaluarsa. Perekat yang sudah kadaluarsa pasti berkurang daya rekatnya.
  • Pasang adhesive pada permukaan yang akan dipasangi keramik dengan bantuan rubber float.

4. Tahap Pemasangan Keramik

  • Jangan melakukan pemasangan keramik dengan pencahayaan kurang. Pencahayaan yang tidak memadai dapat mengganggu kelurusan keramik yang akan dipasang.
  • Jika bahan perekat yang dipakai adalah adukan semen, terlebih dahulu rendam keramik yang akan Anda pasang dalam seember air.
  • Jika bahan perekat yang dipakai adalah adhesive, bersihkan bagian dasar/sisi bawah keramik.
  • Setelah keramik terpasang dipermukaan, ketuk perlahan-lahan permukaan keramik dengan bantuan alat untuk memastikan keramik tersebut benar-benar merekat sempurna.
  • Jangan lupa memeriksa kesejajaran/kelurusan serta kerataan level keramik dipermukaan.
  • Bersihkan permukaan keramik dengan kain lap kering atau spoons.

5. Tahap Pemasangan Nat

  • Isi spasi antar keramik dengan grout (bahan pengisi celah). Gunakan bantuan rubber float.
  • Bersihkan sisa grout yang masih menempel pada permukaan keramik dengan lap atau spons basah.

6. Tahap Proteksi

  • Tutup permukaan lantai keramik yang baru saja dipasang dengan tripleks, kain terpal, atau plastik agar mengering dengan sempurna.
  • Beri petunjuk atau –jika perlu—pasangi rambu yang bertuliskan lantai keramik di area tersebut baru dipasang. Dengan demikian diharapkan tidak ada orang yang melewati atau menginjaknya.
  • Keramik membutuhkan waktu untuk memuai dan menyusut hingga akhirnya mencapai kestabilan. Tunggu beberapa saat agar keramik benar-benar merekat dengan sempurna

Demikian sedikit petunjuk untuk pemasangan keramik. Semoga bisa bermanfaat dan hasil terbaik bagi pemasangan keramik di rumah Anda. Selamat mencoba !! (Sumber gambar : homedesign.net; newsviva.com; puricitayam.com; sinergys.blogspot.com; thetradesnetwork.blogspot.com; ideaonline.co.id).


Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) Naskah asli Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka tanggal 26 Agustus 2012

Advertisements

Keramik yang Bikin Cantik (bagian 1)

Secara psikologis, bila kita memasuki suatu ruangan, maka secara otomatis ada 2 hal yang akan langsung kita lihat. Pertama kali kita akan menoleh ke bawah untuk melihat lantainya, lalu selanjutnya kita akan melihat ke atas ke arah plafon. Melalui 2 hal itulah kita akan menilai ‘kualitas’ finishing sebuah ruangan. Maka, wajar saja bila kita memberikan perhatian khusus pada finishing lantai.

Salah satu bahan finishing lantai yang paling banyak dipergunakan adalah keramik. Keramik memang tidak hanya diaplikasikan pada lantai, tetapi pada artikel ini, kita akan membahas khusus mengenai keramik lantai. Jaman dahulu, jenis dan ukuran keramik lantai belumlah terlalu banyak, namun saat ini tidaklah demikian. Setiap memasuki suatu supermarket bahan bangunan, kita akan dikejutkan dengan banyaknya pilihan keramik, baik jenis, warna, motif, maupun harga yang memiliki variasi sangat banyak.

Jenis Keramik

Menurut jenisnya kita mengenal berbagai macam jenis keramik yang banyak dipergunakan, antara lain :

  • Keramik Teraso. Teraso banyak dipergunakan pada jaman dahulu sebagai bahan penutup lantai. Dewasa ini teraso dengan motif-motif lama banyak diburu orang karena memiliki nuansa etnik yang sangat kuat, sehingga banyak dipergunakan pada bangunan gallery atau restoran yang menggunakan style klasik. Biasanya, teraso memiliki ukuran 20x20cm, tetapi teraso dapat juga dipergunakan dalam bentuk yang dihancurkan dan dicetak langsung pada area yang dikehendaki. Harga keramik teraso adalah Rp.40rb s/d 60rb per m2.
  • Keramik biasa. Keramik ini adalah jenis yang paling banyak kita temui, bahkan tersedia hingga ke toko-toko bahan bangunan kecil yang tersebar di berbagai tempat. Keramik jenis ini membunyai base berupa keramik yang terbuat dari tanah liat yang dipanaskan dalam suhu tinggi. Barulah di atas base coklat tersebut ditampahkan lapisan warna dan motif sesuai desain. Untuk keramik lantai ukuran yang tersedia mulai 30×30, 40×40, 50×50, 60×60, dan 80x80cm. Motif tersedia dalam banyak pilihan yang bisa dibilang hampir tak terbatas. Harganya pun bervariasi, mulai dari harga Rp. 24rb s/d 35rb per m2 untuk keramik ukuran kecil (30x30cm), harga Rp 60rb s/d 80rb per m2 untuk keramik ukuran sedang (50x50cm), hingga harga Rp 120rb s/d 200rb per m2 untuk keramik ukuran besar (80x80cm).
  • Homogenous Tile. Keramik jenis ini biasa disebut granit tile. Yaitu tiruan granit yang dibuat di pabrik. Berbeda dengan keramik biasa, keramik jenis ini mempunyai lapisan yang sama pada seluruh bagian keramik. Bedanya hanyalah, bagian bawahnya dibuat kasar untuk kekuatan menempelnya media perekat, sementara pada bagian atas dipoles halus dan diberi lapisan pelindung. Granit tile ini biasanya hanya tersedia pada ukuran besar, 60×60 s/d 100x100cm. Harganya lebih mahal dari keramik biasa, yaitu berkisar antara Rp.180rb  s/d 400rb per m2.
  • Granit Alam.  Granit alam tidak dibuat di pabrik, melainkan diperoleh dari penambangan. Setelah ditambang, granit alam dibelah setebal kira-kira 2cm, dan dipotong-potong sesuai ukuran. Kita bisa saja memesan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, misalnya 1m x 2m. Tetapi tentu saja semakin besar ukuran yang kita pesan, akan semakin mahal harganya dan ukuran ini juga terbatasi oleh transportasi ke lokasi. Harga granit alam lokal berkisar antara Rp 195rb. s/d 450rb per m2. Bandingkan dengan granit impor yang harganya bisa mencapai Rp.270rb s/d 1,95 juta per m2.

 

Berdasarkan jenis permukaannya, keramik dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

  • Keramik polish. Yaitu keramik yang mempunyai finishing atau lapisan pelindung yang mengkilap. Keramik ini biasanya lebih licin, dan dipergunakan di dalam ruangan, atau pada daerah kering.
  • Keramik unpolish. Keramik jenis ini juga mempunyai finishing atau lapisan pelindung pada bagian keramik yang paling atas. Bedanya adalah, pada keramik unpolish ini lapisan pelingdungnya berwarna doff. Keramik jenis ini lebih tidak licin, dan biasanya dipergunakan di bagian eksterior atau bagian yang basah. Tetapi karena perkembangan trend desain, saat ini banyak pula keramik jenis unpolish ini yang dipergunakan di dalam bangunan.

 

Berdasarkan jenis tepinya, keramik dibedakan menjadi :

  • Keramik non cutting. Seperti kita tahu, bahwa keramik diperoleh dari pemanasan dengan suhu tinggi yang dilakukan di pabrik. Pada keramik non cutting ini, keramik yang telah jadi tidak memperoleh perlakuan tambahan dalam hal ukuran, dan langsung dipacking untuk dipasarkan. Bila kita perhatikan keramik jenis ini, seakan-akan mempunyai batas pinggir tipis yang berwarna putih.
  • Keramik cutting. Proses pembuatan keramik cutting sama persis dengan keramik jenis non cutting. Bedanya adalah, sebelum dipacking dan dipasarkan, keramik jenis cutting melalui proses pemotongan dengan tujuan menghilangkan bagian pinggirnya. Dengan proses tersebut diperoleh keramik yang seakan-akan tidak memiliki pinggir, sehingga memiliki tampilan yang mirip dengan granit tile dan granit alam.

 

Perbedaan aplikasi kedua jenis keramik ini adalah pada nat antar keramik. Karena merupakan hasil pembakaran murni, keramik non cutting mempunyai penyimpangan ukuran yang lebih besar daripada keramik cutting yang memiliki kepresisian ukuran yang lebih baik karena merupakan hasil pemotongan. Penyimpangan ukuran tersebut diwadahi oleh nat antar keramik. Sehingga keramik non cutting akan memiliki nat yang lebih besar (lebar nat di atas 3mm) dibandingkan dengan keramik cutting dan granit tile (lebar nat 1mm)

 

Keramik yang bermotif pun memiliki aturan tersendiri dalam pemasangannya. Biasanya motif keramik sudah diatur sedemikian rupa oleh produsen, supaya bisa sambungan motif antar keramik bisa bertemu bila dipasang dengan posisi yang tepat. Ada keramik-keramik dengan pola khusus yang disebut dengan pola mozaik. Keramik mozaik ini ada dua macam, yaitu mozaik yang terbentuk dari potongan keramik berbagai warna dan motif (bentuk potongan mengikuti pola mozaik), dan ada pula mozaik yang terbentuk dari motif cetakan/printing di atas keramik persegi (mozaik terndiri dari beberapa keramik persegi). Yang kedua tentu berharga yang lebih murah dari yang pertama, karena proses pembuatannya lebih mudah. Keramik mozaik ini dipasang pada bagian-bagian lantai yang memerlukan aksen, misalnya pada teras depan atau pada bagian tengah ruangan-ruangan yang penting.

 

 

 

 

Kualitas Keramik

 

Hasil produksi keramik dalam suatu pabrik tentu tidak akan selalu sama. Karena itu, produsen keramik mengelompokkan keramik hasil produksinya dalam beberapa kualitas. Kualitas itu dinyatakan dalam kode KW (KW I s/d KW III). Hati-hati ketika membeli keramik, karena kode KW ini selalu tercantum dalam dos keramik. KW I adalah yang paling baik, KW III adalah kualitas yang paling buruk.

 

Pemasangan Keramik

 

Sebaik apapun kualitas keramik yang Anda pilih, hasil akhir pemasangan keramik sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

  • Kualitas keramik itu sendiri. Keramik dengan KW II dan KW III akan memiliki beberapa cacat, diantaranya ukuran yang tidak seragam, tidak siku, menggembung/tidak datar, beberapa  gempil pada bagian pinggirnya, serta cacat pada penyemprotan motif atau lapisan pelapis akhir keramik.
  • Ketrampilan tenaga. Kualitas tukang sangat mempengaruhi hasil akhir pemasangan keramik. Bisa jadi keramik KW II yang dipasang oleh tukang berpengalaman, akan memberikan hasil akhir yang lebih baik daripada keramik KW I yang dipasang oleh tukang yang kurang berpengalaman.
  • Bahan. Pemilihan semen yang baik sebagai bahan perekat keramik juga akan sangat mempengaruhi hasil akhir.

 

Demikian, dengan tulisan ini saya harap sudah cukup untuk bekal Anda dalam memilih keramik yang akan Anda pasang untuk mempercantik rumah Anda. Mengenai teknik-teknik dan cara pemasangan keramik selengkapnya, akan saya ulas di tulisan mendatang. Selamat memilih keramik. (Sumber gambar : probohindarto.wordpress.com; atjehmarket.blogspot.com; normanconstruction.com; natascha88.blogspot.com; lifestyle.okezone.com; ajsinterior.blogspot.com; newsviva.com).

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

Naskah asli yang dikirim ke Redaksi harian Suara Merdeka, untuk dimuat di rubrik ‘Bale’ Harian Suara Merdeka 12 Agustus 2012 hal.28

 

Kyoto – Kota para Dewa

Kyoto berasal dari kata ‘kyoto-shi’ yang berarti ‘capital city’. Kyoto memang pernah menjadi Ibukota Kekaisaran Jepang hingga tahun 1869 ketika ibukota dipindahkan ke Tokyo pada era Restorasi Meiji. Restorasi Meiji, adalah sebuah rangkaian gerakan reformasi yang terjadi di Jepang pada tahun 1868. Gerakan ini berpengaruh sangat besar perhadap kondisi sosial dan politik di Jepang. Sebagai bekas ibukota kekaisaran, tidak heran bila di Kota Kyoto banyak sekali terdapat peninggalan bersejarah berupa kuil.

Hanya satu hari kami mengunjungi Kyoto dalam rangkaian 9 hari kunjungan kami ke Jepang dalam rangka penelitian yang didanai oleh Sumitomo Foundation. Tetapi dalam satu hari itu, Kota Kyoto telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan, terutama bagi kami, akademisi yang tertarik pada bangunan-bangunan bersejarah yang bernilai arsitektur tinggi.

Pada perang dunia kedua, Kyoto sebetulnya ditargetkan menjadi salah satu sasaran yang hendak di bom atom oleh Amerika, karena dianggap sebagai pusat intelektual dan kebudayaan Jepang. Barulah pada saat-saat terakhir, sasaran Kyoto digantikan oleh Nagasaki. Oleh sebab itu, Kyoto terkenal dengan banyaknya peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur tradisional Jepang. Sebanyak 20 % dari kekayaan budaya bangsa Jepang tersimpan di Kota Kyoto, dan terdapat 17 kuil di kota ini yang merupakan UNESCO World Heritage Site Historic Monuments.

Kyoto terletak di bagian tengah Pulau Honshu, saat ini menjadi ibukota dari Kyoto Prefectur (propinsi), dengan jumlah penduduk mendekati 1,5 juta jiwa. Pada tahun 2012, kota ini memperoleh rangking 11 kota dengan kualitas hidup terbaik di seluruh dunia, berdasarkan peringkat yang dikeluarkan oleh Monocle Magazine. Secara geografis, tokyo terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh pegunungan di ketiga arahnya, yaitu Higashiyama, Kitayama and Nishiyama dengan ketinggian di atas 1000 meter dpl.

Pencapaian dan Transportasi

Kami mencapai Kyoto dari kota Kobe. Dengan sekali naik kereta kami telah sampai di Kyoto Station. Kyoto Station adalah sebuah bangunan ultra modern yang menjadi stasiun kereta api utama Kota Kyoto. Dari stasiun ini, kita bisa mempergunakan bis jika hendak menuju ke berbagai penjuru kota Kyoto. Ingin menjelajahi kota seharian ? Beli saja tiket bis terusan seharga 500 yen (sekitar Rp.60rb) yang bisa dipergunakan untuk berganti-ganti bis ke mana saja selama masih pada hari yang sama. Seperti standar angkutan umum di Jepang, bis kota di sana sangat nyaman, bisa diakses oleh difabel, serta mempunyai priority seat seperti yang pernah kita ulas di artikel jalan-jalan yang terdahulu.

Antrian penumpang yang akan naik bis pun sangat tertib, tidak saling berebut, serta mendahulukan setiap penumpang yang hendak keluar. Ketertiban memang menjadi ciri utama masyarakat Jepang. Walaupun mereka berjalan sangat cepat dan selalu terkesan terburu-buru, tetapi mereka sama sekali tidak mau menyerobot antrian. Bahkan di dalam eskalator-eskalator di dalam stasiun pun seakan-akan terbagi menjadi 2 lajur. Salah satu lajur, biasanya sebelah kanan, adalah tempat orang yang naik eskalator sambil diam karena eskalator memang sudah bergerak sendiri ke atas, tetapi lajur yang lain memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin naik eskalator sambil tetap berjalan, karena ingin lebih cepat sampai. Lucu juga kalau diamati.

Ginkaku-ji Temple

Kuil yang kami kunjungi pertama kali adalah Ginkaku-ji Temple. Seperti banyak terdapat pada berbagai aliran agama dan kepercayaan di Dunia, area lereng gunung adalah area yang dianggap lebih sakral, dan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada area yang lebih rendah atau pantai. Maka tidak heran apabila banyak kuil yang terletak di pegunungan.

Ginkaku-ji sendiri berarti ‘Temple of the Silver Pavilion’. Kuil ini dibangun oleh Ashikaga Yoshimasa yang merupakan shogun ke delapan dari Ashikaga Shogunate (wilayah kekuasaan shogun) pada tahun 1460 yang ingin membuat rumah dan taman untuk tempat peristirahatan.

Area masuk Ginkaku-ji Temple adalah jalan setapak yang di kiri dan kanannya banyak sekali terdapat toko-toko tradisional yang menjual berbagai cinderamata khas Jepang, dan tidak ketinggalan restoran tradisional Jepang. Yang sangat unik pada restoran tradisional Jepang adalah pajangan tiruan berbagai menu yang mereka punyai di depan restoran. Tiruan tersebut dibuat sangat mirip dengan masakan yang sesungguhnya, sehingga sekilas kita akan mengira bahwa makanan sungguhan yang dipajang di depan restoran.

Ginkaku-ji terkenal dengan paviliun utamanya yang terdiri dari dua lantai, serta sand garden, sebuah taman yang terbuat dari pasir, yang diberi alur secara khusus. Di tengah-tengah taman tersebut terdapat kerucut yang terbentuk dari pasir yang melambangkan Gunung Fuji.

Pengunjung diarahkah untuk mendaki bukit melalui jalan setapak menuju area keluar Ginkaku-ji Tempel. Kondisi vegetasi alami di sekitar jalan setapak tersebut sangat indah. Suhu Kota Kyoto yang pada saat kami ke sana berkisar 36-38 derajad celcius sama sekali tidak terasa pada saat kami berada di taman kuil ini. Dingin dan sejuk rasanya. Konon, bila kita mengunjungi kuil ini pada bulan Oktober – November, panorama yang terlihat akan jauh lebih indah lagi, karena daun-daun yang saat ini berwarna hijau, akan mulai berubah warna menjadi kuning dan merah pada bulan-bulan tersebut. Tentu saja tidak ketinggalan mekarnya bunga khas Jepang yang legendaris, yaitu Bunga Sakura.

Kiyomizu-dera Temple

Kuil yang kami kunjungi berikutnya adalah Kiyomizu-dera Tempel. Kuil ini terletak di area yang jauh lebih tinggi dari Ginkaku-Ji Temple. Dari tempat pemberhentian bis, kita harus berjalan kaki pada jalan setapak yang cukup terjal. Lagi-lagi di area kiri dan kanan jalan setapak ini dipenuhi dengan toko cinderamata dan restoran tradisional jepang. Ramai sekali ketika kami sampai di sana, padahal saat ini adalah musim panas yang dengan matahari yang sangat menyengat, bahkan untuk ukuran kita orang Indonesia. Kondisi jalan setapak yang terjal dan jauh, ramainya pengunjung, dan panasnya cuaca hampir membuat kami menyerah dan mengurungkan niat untuk terus berjalan hingga ke kuil yang berada di atas gunung. Tapi cerita tentang keindahan alam dan bangunan di kuil tersebut membuat kami meneruskan perjalanan ke atas setelah beristirahat sebentar. Setelah berjalan kaki cukup lama, kira-kira 30-40 menit, kami sampai di gerbang kuil tersebut. Ternyata memang benar, seluruh jerih payah kita mencapai tempat ini akan terbayar tuntas begitu kita sampai di kuil Kiyomizu-dera ini dan disambut gerbang berwarna merah yang sangat besar.

Kompleks kuil ini dibangun pada tahun 798 Masehi, dengan bangunan utama mulai dibangun pada tahun 1633 Masehi berdasarkan perintah dari Tokugawa Iemitsu, shogun ketiga dari Tokugawa Dynasty. Bangunan utama kuil ini sangat menarik, karena dibangun di lereng bukit yang sangat terjal. Kita akan merasa seakan-akan melayang apabila berada di beranda kuil ini.

Seperti halnya dengan taman di Ginkaku-ji Temple tadi, kita akan dijanjikan panorama yang jauh lebih indah lagi seandainya kita berkunjung ke sana pada bulan Oktober – November, yaitu pada saat musim gugur tiba.

Gion Area

Gion adalah sebuah distrik yang dibangun di abad pertengahan di depan Yasaka Shrine. Jaman dahulu, area ini terkenal sebagai pusat Geisha. Pada area ini terdapat banyak sekali peninggalan bangunan-bangunan rumah tinggal tradisional jepang yang masih terpelihara hingga saat ini. Sehingga tidak heran bila begitu banyak orang yang berwisata di area ini dengan tujuan untuk mengamati arsitektur tradisional jepang.

Demikian sekilas kunjungan kami ke Negeri Sakura Jepang, semoga bisa memberikan sedikit gambaran tentang kondisi di sana. Tentu saja kami sangat berharap bisa ke sana lagi lain waktu, terutama di musim gugur.

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip.

Note : Artikel asli yang dikirim ke Redaksi Harian Suara Merdeka, untuk dimuat di Rubrik ‘Jalan-Jalan’. Suara Merdeka 12 Agustus 2012 , halaman 32

Kyoto Station

Kyoto Station

Resto tradisional di sekitar Ginkaku-ji Temple

Ginkaku-ji Entrance

Ginkaku-ji Temple

Ginkaku-ji Temple

Kiyomizu-dera Temple

Kiyomizu-dera Temple

Kiyomizu-dera Temple

Yasaka Shrine

Gion Area