Kyoto – Kota para Dewa

Kyoto berasal dari kata ‘kyoto-shi’ yang berarti ‘capital city’. Kyoto memang pernah menjadi Ibukota Kekaisaran Jepang hingga tahun 1869 ketika ibukota dipindahkan ke Tokyo pada era Restorasi Meiji. Restorasi Meiji, adalah sebuah rangkaian gerakan reformasi yang terjadi di Jepang pada tahun 1868. Gerakan ini berpengaruh sangat besar perhadap kondisi sosial dan politik di Jepang. Sebagai bekas ibukota kekaisaran, tidak heran bila di Kota Kyoto banyak sekali terdapat peninggalan bersejarah berupa kuil.

Hanya satu hari kami mengunjungi Kyoto dalam rangkaian 9 hari kunjungan kami ke Jepang dalam rangka penelitian yang didanai oleh Sumitomo Foundation. Tetapi dalam satu hari itu, Kota Kyoto telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan, terutama bagi kami, akademisi yang tertarik pada bangunan-bangunan bersejarah yang bernilai arsitektur tinggi.

Pada perang dunia kedua, Kyoto sebetulnya ditargetkan menjadi salah satu sasaran yang hendak di bom atom oleh Amerika, karena dianggap sebagai pusat intelektual dan kebudayaan Jepang. Barulah pada saat-saat terakhir, sasaran Kyoto digantikan oleh Nagasaki. Oleh sebab itu, Kyoto terkenal dengan banyaknya peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur tradisional Jepang. Sebanyak 20 % dari kekayaan budaya bangsa Jepang tersimpan di Kota Kyoto, dan terdapat 17 kuil di kota ini yang merupakan UNESCO World Heritage Site Historic Monuments.

Kyoto terletak di bagian tengah Pulau Honshu, saat ini menjadi ibukota dari Kyoto Prefectur (propinsi), dengan jumlah penduduk mendekati 1,5 juta jiwa. Pada tahun 2012, kota ini memperoleh rangking 11 kota dengan kualitas hidup terbaik di seluruh dunia, berdasarkan peringkat yang dikeluarkan oleh Monocle Magazine. Secara geografis, tokyo terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh pegunungan di ketiga arahnya, yaitu Higashiyama, Kitayama and Nishiyama dengan ketinggian di atas 1000 meter dpl.

Pencapaian dan Transportasi

Kami mencapai Kyoto dari kota Kobe. Dengan sekali naik kereta kami telah sampai di Kyoto Station. Kyoto Station adalah sebuah bangunan ultra modern yang menjadi stasiun kereta api utama Kota Kyoto. Dari stasiun ini, kita bisa mempergunakan bis jika hendak menuju ke berbagai penjuru kota Kyoto. Ingin menjelajahi kota seharian ? Beli saja tiket bis terusan seharga 500 yen (sekitar Rp.60rb) yang bisa dipergunakan untuk berganti-ganti bis ke mana saja selama masih pada hari yang sama. Seperti standar angkutan umum di Jepang, bis kota di sana sangat nyaman, bisa diakses oleh difabel, serta mempunyai priority seat seperti yang pernah kita ulas di artikel jalan-jalan yang terdahulu.

Antrian penumpang yang akan naik bis pun sangat tertib, tidak saling berebut, serta mendahulukan setiap penumpang yang hendak keluar. Ketertiban memang menjadi ciri utama masyarakat Jepang. Walaupun mereka berjalan sangat cepat dan selalu terkesan terburu-buru, tetapi mereka sama sekali tidak mau menyerobot antrian. Bahkan di dalam eskalator-eskalator di dalam stasiun pun seakan-akan terbagi menjadi 2 lajur. Salah satu lajur, biasanya sebelah kanan, adalah tempat orang yang naik eskalator sambil diam karena eskalator memang sudah bergerak sendiri ke atas, tetapi lajur yang lain memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin naik eskalator sambil tetap berjalan, karena ingin lebih cepat sampai. Lucu juga kalau diamati.

Ginkaku-ji Temple

Kuil yang kami kunjungi pertama kali adalah Ginkaku-ji Temple. Seperti banyak terdapat pada berbagai aliran agama dan kepercayaan di Dunia, area lereng gunung adalah area yang dianggap lebih sakral, dan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada area yang lebih rendah atau pantai. Maka tidak heran apabila banyak kuil yang terletak di pegunungan.

Ginkaku-ji sendiri berarti ‘Temple of the Silver Pavilion’. Kuil ini dibangun oleh Ashikaga Yoshimasa yang merupakan shogun ke delapan dari Ashikaga Shogunate (wilayah kekuasaan shogun) pada tahun 1460 yang ingin membuat rumah dan taman untuk tempat peristirahatan.

Area masuk Ginkaku-ji Temple adalah jalan setapak yang di kiri dan kanannya banyak sekali terdapat toko-toko tradisional yang menjual berbagai cinderamata khas Jepang, dan tidak ketinggalan restoran tradisional Jepang. Yang sangat unik pada restoran tradisional Jepang adalah pajangan tiruan berbagai menu yang mereka punyai di depan restoran. Tiruan tersebut dibuat sangat mirip dengan masakan yang sesungguhnya, sehingga sekilas kita akan mengira bahwa makanan sungguhan yang dipajang di depan restoran.

Ginkaku-ji terkenal dengan paviliun utamanya yang terdiri dari dua lantai, serta sand garden, sebuah taman yang terbuat dari pasir, yang diberi alur secara khusus. Di tengah-tengah taman tersebut terdapat kerucut yang terbentuk dari pasir yang melambangkan Gunung Fuji.

Pengunjung diarahkah untuk mendaki bukit melalui jalan setapak menuju area keluar Ginkaku-ji Tempel. Kondisi vegetasi alami di sekitar jalan setapak tersebut sangat indah. Suhu Kota Kyoto yang pada saat kami ke sana berkisar 36-38 derajad celcius sama sekali tidak terasa pada saat kami berada di taman kuil ini. Dingin dan sejuk rasanya. Konon, bila kita mengunjungi kuil ini pada bulan Oktober – November, panorama yang terlihat akan jauh lebih indah lagi, karena daun-daun yang saat ini berwarna hijau, akan mulai berubah warna menjadi kuning dan merah pada bulan-bulan tersebut. Tentu saja tidak ketinggalan mekarnya bunga khas Jepang yang legendaris, yaitu Bunga Sakura.

Kiyomizu-dera Temple

Kuil yang kami kunjungi berikutnya adalah Kiyomizu-dera Tempel. Kuil ini terletak di area yang jauh lebih tinggi dari Ginkaku-Ji Temple. Dari tempat pemberhentian bis, kita harus berjalan kaki pada jalan setapak yang cukup terjal. Lagi-lagi di area kiri dan kanan jalan setapak ini dipenuhi dengan toko cinderamata dan restoran tradisional jepang. Ramai sekali ketika kami sampai di sana, padahal saat ini adalah musim panas yang dengan matahari yang sangat menyengat, bahkan untuk ukuran kita orang Indonesia. Kondisi jalan setapak yang terjal dan jauh, ramainya pengunjung, dan panasnya cuaca hampir membuat kami menyerah dan mengurungkan niat untuk terus berjalan hingga ke kuil yang berada di atas gunung. Tapi cerita tentang keindahan alam dan bangunan di kuil tersebut membuat kami meneruskan perjalanan ke atas setelah beristirahat sebentar. Setelah berjalan kaki cukup lama, kira-kira 30-40 menit, kami sampai di gerbang kuil tersebut. Ternyata memang benar, seluruh jerih payah kita mencapai tempat ini akan terbayar tuntas begitu kita sampai di kuil Kiyomizu-dera ini dan disambut gerbang berwarna merah yang sangat besar.

Kompleks kuil ini dibangun pada tahun 798 Masehi, dengan bangunan utama mulai dibangun pada tahun 1633 Masehi berdasarkan perintah dari Tokugawa Iemitsu, shogun ketiga dari Tokugawa Dynasty. Bangunan utama kuil ini sangat menarik, karena dibangun di lereng bukit yang sangat terjal. Kita akan merasa seakan-akan melayang apabila berada di beranda kuil ini.

Seperti halnya dengan taman di Ginkaku-ji Temple tadi, kita akan dijanjikan panorama yang jauh lebih indah lagi seandainya kita berkunjung ke sana pada bulan Oktober – November, yaitu pada saat musim gugur tiba.

Gion Area

Gion adalah sebuah distrik yang dibangun di abad pertengahan di depan Yasaka Shrine. Jaman dahulu, area ini terkenal sebagai pusat Geisha. Pada area ini terdapat banyak sekali peninggalan bangunan-bangunan rumah tinggal tradisional jepang yang masih terpelihara hingga saat ini. Sehingga tidak heran bila begitu banyak orang yang berwisata di area ini dengan tujuan untuk mengamati arsitektur tradisional jepang.

Demikian sekilas kunjungan kami ke Negeri Sakura Jepang, semoga bisa memberikan sedikit gambaran tentang kondisi di sana. Tentu saja kami sangat berharap bisa ke sana lagi lain waktu, terutama di musim gugur.

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip.

Note : Artikel asli yang dikirim ke Redaksi Harian Suara Merdeka, untuk dimuat di Rubrik ‘Jalan-Jalan’. Suara Merdeka 12 Agustus 2012 , halaman 32

Kyoto Station

Kyoto Station

Resto tradisional di sekitar Ginkaku-ji Temple

Ginkaku-ji Entrance

Ginkaku-ji Temple

Ginkaku-ji Temple

Kiyomizu-dera Temple

Kiyomizu-dera Temple

Kiyomizu-dera Temple

Yasaka Shrine

Gion Area

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: