Unsur Air dalam Bangunan

Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari air. Manusia membutuhkan air untuk berbagai kebutuhan. Dalam Astrologi Cina, unsur air dikenal sebagai salah satu dari lima unsur pembentuk alam semesta, selain kayu, api, tanah, dan besi. Tubuh manusia pun sebagian besar terdiri dari air. Manusia selalu merasa senang, tenang, dan nyaman apabila berada di dekat unsur tersebut. Tidak heran apabila manusia selalu berusaha untuk memasukkan unsur air di lingkungan tempat ia berada, termasuk ke dalam rumah tinggal.

Manfaat unsur air pada bangunan

Secara umum ada beberapa manfaat unsur air pada suatu rumah tinggal, antara lain :

  1. Secara psikologis, suara gemericik air akan memberikan efek yang menenangkan bagi manusia.
  2. Menurunkan suhu pada microclimate. Unsur air yang diletakkan di sekitar bangunan akan mendinginkan udara / angin yang akan masuk ke dalam bangunan, sehingga suhu di dalam rumah akan lebih sejuk.
  3. Meningkatkan aspek estetis. Keberadaan kolam yang didesain dengan menarik, akan meningkatkan kualitas visual bagi penghuni rumah.
  4. Peluang budidaya dan pengembangan hobi. Dengan adanya kolam ikan hias di rumah akan memberikan manfaat besar bagi yang memiliki hobi memelihara atau membiakkan ikan hias misalnya, bahkan tidak mungkin akan bisa memberikan penghasilan tambahan yang cukup signifikan.

 

Unsur air di dalam Feng Shui

 

Istilah Feng Shui sendiri secara harfiah berarti ‘angin’ (Feng) dan ‘air’ (Shui). Jadi, air memegang peranan penting dalam desain rumah tinggal yang menggunakan pertimbangan Feng Shui. Ada beberapa aturan dasar penerapan unsur air dalam bangunan yang baik menurut Feng Shui :

 

Pertama, air yang alami, seperti danau, sungai, teluk, memiliki pengaruh yang jauh lebih signifikan dibandingkan dengan air buatan manusia (kolam, akuarium, selokan, air mancur). Terbentuknya gunung, bukit, sungai, teluk, merupakan akumulasi dari kekuatan energi (Qi) yang ada. Jadi, jika di lingkungan bangunan terdapat air yang alami (natural), dan yang buatan manusia, maka yang alami harus diperhatikan terlebih dahulu keberadaannya.

 

Kedua, unsur air (kolam) tidak boleh berada di titik tengah rumah. Dalam ilmu metafisika China, bagian tengah rumah mewakili organ tubuh jantung (elemen Api), maka keberadaan air di tengah rumah akan menekan Api, sehingga dapat menyebabkan kerugian.

 

Ketiga, kolam harus bersih. Kolam yang kotor, menjadi sumber energi Yin, yang tidak baik untuk penghuni bangunan. Bau yang tidak sedap serta pemandangan yang kotor/ acak-acakan, lambat laun akan memberikan pengaruh negatif.

 

Keempat, suara gemericik yang ditimbulkan kolam jangan sampai mengganggu kamar tidur. Kamar tidur membutuhkan energi yang statis (tenang), supaya penghuni bisa beristirahat dengan baik. Jika terdapat suara air yang mengganggu, penghuni akan sering mengalami gangguan kesehatan, terutama pusing/ sakit kepala. Oleh karenanya, tidak baik meletakkan kolam (air mancur/ terjun) di sekitar kamar tidur.

 

Kelima, air mancur di depan rumah/ bangunan, harus masuk ke arah dalam bangunan. Qi harus ditarik masuk ke dalam bangunan. Sementara jika air terjun mengarah keluar, berarti menghalangi energi (Qi) yang hendak masuk ke dalam bangunan.

 

Keenam, dalam segala kondisi, hindari peletakan air di sektor Selatan, Barat, Barat Laut, Timur Laut.

‘Air Baik’ dan ‘Air Jahat’

Pada Feng Shui, air yang baik disebut Sheng Qi, dan air yang jahat disebut Sha Qi. Pada dasarnya ada lima perbedaan utama Sheng Qi dan Sha Qi. Sheng qi adalah air mengalir perlahan, berkelok-kelok dan lebar, lembut, tenang, bersih dan terus menerus mengalir. Sedangkan Sha qi adalah mengalir kencang, lurus dan sempit, kasar, bergemuruh, bau, dan tergenang (mandeg). Walaupun unsur air  tersebut memiliki lokasi yang tepat pada sebuah bangunan, namun jika bersifat jahat (Sha qi), maka pengaruh negatiflah yang akan didapatkan.

Pertimbangan Teknik dan Arsitektural

Terlepas dari kepercayaan terhadap Feng Shui tersebut, secara ilmu teknik dan arsitektural, pembuatan kolam atau air mancur haruslah direncanakan dengan baik. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan kolam, yaitu :

  1. Pertimbangkan ketersediaan lahan. Jangan sampai kolam yang dibangun justru akan menghabiskan sisa lahan dan mengurangi kenyamanan beraktivitas.
  2. Pertimbangkan ketersediaan sumber air. Hal ini berkaitan dengan besaran kolam yang akan Anda buat. Apabila Anda tinggal di daerah yang sulit dengan air, sebaiknya jangan membuat kolam dengan volume air yang terlalu banyak.
  3. Pertimbangkan keamanan. Bagi Anda yang memiliki anak yang masih kecil (balita), faktor keamanan mutlak harus diperhatikan. Berilah pagar pembatas yang cukup kokoh dan kuat apabila Anda tetap ingin membuat kolam di rumah.
  4. Pertimbangan maintenance dan perawatan. Sediakan saluran pembuangan untuk pengurasan dan pembersihan secara berkala. Buatlah gambar as build drawing (gambar berdasarkan kondisi terbangun) untuk mengetahui jaringan dan lokasi pipa-pipa yang tertanam. Akan sangat memudahkan bila sewaktu-waktu Anda memerlukan perbaikan atau penggantian pipa yang bocor.
  5. Untuk kolam yang menggunakan batu alam sebagai finishing, aplikasikan coating yang tepat sesuai jenis batu dan nuansa estetis yang diinginkan. Kondisi lembab karena air adalah kondisi ideal bagi jamur dan lumut untuk tumbuh di batu alam.
  6. Rencanakan konstruksi dengan baik. Pilihlah semen yang baik dengan campuran yang tepat untuk menghasilkan konstruksi kolam yang kuat dan tidak bocor.

 

Demikian sedikit tips bila Anda ingin membuat suatu kolam yang akan menjadi tempat idaman seluruh anggota keluarga ketika berkumpul di rumah di sore hari. Selamat bermain air…

(sumber materi dan gambar : teojaya.herobo.com; architectaria.com; rajakamar.com; flickr.com; ideaonline.co.id; bestlandscapingandgardening.com; indahcahyaniii.blogspot.com; solusiproperti.com)

 

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

Naskah Asli yang dikirim ke Redaksi Harian Suara Merdeka untuk dimuat di Rubrik Bale Hari Minggu tgl 28 Okt 2012

Advertisements

basic software skill buat (mahasiswa) arsitek

Masih ingat posting saya dulu tentang arsitek yang nggak harus bisa gambar? Nah, kali ini saya akan bahas dikit mengenai tools-tools dasar (baca : software) yang bisa membantu seorang arsitek yang kebetulan nggak punya skill freehand / sketsa (termasuk saya), untuk dapat mewujudkan ide-idenya.

Saya sama sekali bukan ahli software, skill saya tentang software-software yang akan saya bahas di bawah ini pun hanya sedalam kulit kacang. Ya nggak nol puthul juga sih, tapi hanya sekedar bisa, jauh dari lancar, apalagi mahir. Lha kok berani-beraninya nulis tentang software?. Ya nggak papa, tulisan ini bukan untuk mereka yang sudah expert dalam software-software ini. Tapi justru bagi mereka yang baru pertama kali kenalan dengan software. Karena saya bukan expert, harapannya bahasa dan pembahasan saya justru pembahasan yang sangat dasar dan tidak membingungkan. Jadi kata-kata ‘basic’ di atas harus digarisbawahi yaa. Buat yang sdh expert brb pindah baca yg lain aja deh ya. Drpd kecewa entar, ‘kok cuman gitu aja’. hehee

Ok, langsung saja, ada 3 software yang menurut saya sangat penting buat arsitek jaman sekarang. Sebagai ilustrasi saya sertakan proses pengerjaan desain sebuah bangunan yang menggunakan ketiga software tersebut.

yang pertama adalah AutoCAD.

Karena saya sama sekali nggak bisa nyeket (kasian ya?) jarang sekali saya melakukan pekerjaan sketsa terlebih dahulu dalam mendesain. Sketsa manual hanya saya lakukan apabila saya pas nggak ada kerjaan dan tidak bisa mengakses laptop tercinta. Apabila saya pas pegang laptop hampir pasti saya akan langsung menggunakan AutoCAD untuk melakukan sketsa desain. Ada beberapa tips yang biasa saya terapkan ketika menggunakan AutoCAD :

1. Gunakan background putih, jangan yang hitam, supaya anda bisa memperkirakan seperti apa tampilan gambar ketika nanti akan diprint. (menu : tools/option/display/color)

2. Gambar yang baik dan informatif adalah gambar yang tidak plain, artinya ketebalan semua garis tidak sama. Hal tersebut berlaku untuk gambar manual ataupun gambar dengan komputer. Terserah berapapun layer yang anda gunakan, tetapi, gunakan hanya 5 macam garis (5 macam warna dan lineweight, bisa diatur di layer properties manager). Saya sendiri juga hanya selalu menggunakan 5 layer tersebut :

  • Layer 1, warna hitam (warna no.7), lineweight 0,25. Untuk garis/obyek dengan ketebalan rata-rata, dinding misalnya.
  • layer 2, warna abu tua (warna no.8), lineweight 0,09 atau 0,13. Untuk garis/obyek yang nanti ketika diprint pengin keluarnya agak tipis, misal perabot, pohon, pedestrian, dll.
  • layer 3, warna abu muda (warna no.9), lineweight 0,00. Untuk garis/obyek yang nanti ketika diprint pengin hasilnya tipiiiis banget. Misal dimensi, pola lantai, arsiran material, arsiran rumput, arsiran atap, dll.

Kenapa warnanya harus gradasi begitu? ya supaya otomatis, supaya tampilan di layar monitor semirip mungkin dengan hasil print outnya nanti. Jadi ketika menggambar, otomatis kita sudah akan langsung ‘men-setting’ kira-kira hasil print out kita akan seperti apa nantinya. layer hitam = print agak tebal, layer abu tua = print agak tipis, layer abu muda = print tipis. du u understand ? 🙂

  • Layer 4, pakai warna yang menyolok, biasanya saya pakai warna pink (warna no.6) dengan lineweight 0,40. Biasanya saya menggunakan layer ini untuk obyek-obyek yang ketika diprint dikehendaki sangat tebal. Misalnya, kolom pada denah, balok/sloof/dak beton yang terpotong pada gambar potongan, dll.
  • Layer 5, pakai warna yang menyolok juga, biasanya saya pakai warna biru (warna no.5) dengan lineweight terserah. Biasanya saya peruntukkan bagi obyek-obyek yang tidak ingin keluar ketika di print. Misalnya, garis as dinding, dan garis-garis bantu lainnya. Yang penting untuk layer ini adalah jangan lupa untuk menyilang icon printer di layer properties managernya.

3. Jangan ‘out of scale. Di layar monitor kita bisa men-zoom hingga tingkat kedetilan yang luar biasa, hal inilah yang menyebabkan kita sering menggambar detail-detail yang tidak perlu digambar. Kenapa tidak perlu? Karena ketika diprint, detail tersebut tidak akan kelihatan. Hal ini yang biasa saya sebut ‘out of scale‘. Misalnya, arsiran dinding bata, kalau misal denah kita akan diprint dengan skala 1:200 atau lebih besar lagi (skalanya), ya tidak usah repot2 membuat garis batas bata dan plesteran dan membuat hatch arsiran dinding bata, cukup gunakan polyline dengan ketebalan kurang dari tebal dinding. Kita harus tahu dengan pasti tingkat kedetilan gambar ketika diprint nanti sehingga terhindar dari pekerjaan menggambar detail yang sia-sia.

4. Simpan obyek-obyek yang pernah digambar sebagai library, sehingga ketika lain kali anda menjumpai obyek-obyek itu lagi nggak usah susah2 nggambar ulang. Tinggal insert. Misalnya, pintu tunggal, pintu ganda, pintu gendong, zink dan meja dapur, closet, jendela tunggal, jendela ganda, pot bunga, sofa 1-2-3 seater, dll.

Di bawah ini adalah ilustrasi desain yang dibuat dengan autoCAD, untuk bangunan 1-2 lantai, biasanya saya menggunakan pendekatan desain konvensional, yaitu dimulai dengan mendesain denah dulu, terus tampak, terus potongan, terus 3D. Tapi harus diingat bahwa desain bukan proses linear, tetapi proses yang seharusnya berulang terus menerus. Maksudnya begini, ketika mendesain tampak, akan ada perubahan-perubahan yang belum terpikirkan ketika kita mendesain denah. Ketika mendesain potongan, akan ada perubahan2 pada denah dan tampak, demikian pula ketika kita membuat gambar 3D, maka akan ada perubahan-perubahan yang harus dilakukan pada gambar denah, tampak, dan potongannya. Anda akan paham maksud saya ketika melihat ilustrasi2 yang akan saya tampilkan di bawah ini. Karena ilustrasi-ilustrasi di sini, barulah hasil dari ‘satu putaran’ desain.

Pada ilustrasi desain yang ini, ada seorang teman yang meminta tolong untuk mendesain rumah tinggal di kawasan Mulawarman. Sebut saja pak R. hehehe. Dia telah membeli satu kavling + rumahnya (ready stock/sudah terbangun) pada sebuah perumahan dengan luas bangunan 125m2, 2 lantai, dengan ukuran kavling 6×24,5 m2. Lahan sempit memanjang. Problema desain muncul karena pak R ini membeli kavling lagi di sebelahnya dengan kondisi yang masih kosong. Tantangannya adalah membuat suatu desain rumah yang teritegrasi pada 2 kavling dengan kondisi satu kavling sudah terbangun, dan satu kavling masih kosong. Tambahan lagi, Pak R menghendaki style tampak yang berbeda dari tampak bangunan pada kavling yang sudah terbangun. Nah lo?. Terus ada tambahan tantangan lagi, yaitu kedua kavling levelnya tidak sama, ada perbedaan ketinggian 60-100cm. 🙂

Berikut denah eksiting lantai dasar dan denah eksisting lantai atas kavling 1 dan kavling 2 (kavling 2 yang sudah terbangun)


Lalu, yang ini adalah denah desain, denah lantai dasar dan denah lantai atas dengan desain yang telah terintegrasi dalam 2 kavling.

Berikutnya adalah tampak. Ada 2 macam tampaknya. Tampak yang pertama adalah tampak bila tampak bangunan eksisting pada kavling 2 tidak diubah. Jelek ya ? ya iya, karena pada kavling 1, pak R menghendaki style yang berbeda. Tampak yang kedua mungkin lebih baik, karena tampak bangunan eksisting pada kavling 1sudah di ‘facelift’ sehingga menyesuaikan style tampak bangunan pada kavling 1.

 

Pada desain ini saya tidak/belum membuat gambar potongan, karena ngejar waktu. Ketika pak R menelpon, dia bilang gini, ‘tolong dibuatin desain rumah di 2 kavling … bla.. bla.. bla… tapi di salah satu kavlingnya udah ada bangunannya bla… bla… bla… tapi, bla… bla.. bla… dan banyak tapi-tapi yg lain.’ ‘OK-OK, buat kapan?’, tanya saya. ‘Besok ya, karena bla-bla-bla… hehehee….’. Nah, buat mahasiswa arsitek, jangan dikira anda begadang ketika mengerjakan tugas saja, selama anda jadi arsitek, kayaknya akan sering2 begitu deh. Terima aja ya.. .:)

oia, bagi yang belum tahu, kalau anda hendak mengubah gambar CAD menjadi gambar image dalam format JPEG misalnya, jangan gunakan copy paste biasa, karena pasti akan pecah. Tapi gunakan perintah ‘plot’ dalam autoCAD. Lalu pada kotak plot dialog yang keluar, pada bagian ‘printer/plotter’ anda pilih ‘publish to web JPG’, lalu pada bagian ‘paper size’ pilihlah ukuran kertas yang sebesar-besarnya. Jangan lupa memilih ‘monochrome’ pada ‘plot style table’ bila anda menghendaki hasilnya monochrome dan pengaruran lineweight layer di atas bisa bekerja.

Lalu saya langsung aja beralih ke sofware berikutnya ya :

—-

yang kedua adalah Sketch Up.

Kalau boleh, saya mau menyebut software sketch up ini sebagai keajaiban dunia bagi anak arsitektur. Beberapa kali saya berurusan dengan berbagai macam software 3 dimensional, mulai dari AutoCAD 3D sendiri, 3D S Max, ArchiCAD, X Steel, Pro Engineer, tapi belum pernah saya jumpai software model 3D yang se-user friendly banget seperti Sketch Up ini. Dan kita akan lebih berdecak kagum lagi setelah melihat besarnya file model yang dihasilkan oleh Sketch Up, keciiiiil banget filenya. Kenapa bisa begitu? Karena Sketch Up mengambil konsep dan besaran bidang, sementara  software2 yang lain itu berkonsep ruang. Jadi bersyukurlah mahasiswa arsitektur dan arsitek2 yang hidup di era sketch up ini. Perkara hasilnya kurang riil dan agak kartun, buat saya nggak masalah, karena software ini memang bukan untuk menghasilkan graphic design, tapi hanya untuk memodelkan, mewujudkan ide, namanya juga Sketch Up. Tapi menurut saya hasil model 3D dari SU ini udah cukup untuk mengkomunikasikan ide-ide kita kepada klien.

Saya lebih nggak bisa Sketch Up dibandingkan AutoCAD. Sehingga saya tidak bisa bahas hal-hal yang terlalu teknis Sketch Up di sini, takut sesat. Tips-tips berikut hanya berdasarkan make sense belaka :

  1. Lihat tujuan pembuatan model sketch up, serta angle image yang nanti akan diambil. Kalau hanya mau ditampilkan eksterior bangunannya, nggak usah repot-repot bikin bagian dalamnya. Kalau hanya mau ditampilkan bagian depannya, bagian belakang nggak usah diolah secara detail-detail banget. Begitulah kira-kira.
  2. Kurangi pemakaian terlalu banyak obyek library 3D, misal mobil dan pohon. Pohon 3D adalah obyek yang sangat memberatkan sketch up. Bila bisa ditambahkan secara 2D, tambahkan secara 2D saja.
  3. Matikan dulu fitur-fitur yang tidak perlu, misal gunakan ‘shaded’ saja, dan jangan ‘shaded with texture’. Matikan shadow, dll.
  4. Membuat model di sketch up itu gampang, merevisinya jauh lebih sulit. Untuk itu sering2 lah save as pada tahapan-tahapan desain.
  5. ketika akan mengekspor gambar 2D, jangan lupa nyalakan lagi teksture material dan shadow ya. Kalau jatuhnya bayangan tidak sesuai harapan, anda bisa merubah intensitasnya atau jam pada window/shadow.
  6. Apa lagi ya? udah deh.

Nah berikut, hasil dari denah dan tampak CAD tadi yang dimodelkan dengan Sketch Up. Seperti saya katakan di awal, ketika kita membuat 3D, pasti banyak revisi yang harus dilakukan pada denah, tampak, dan potongan. Anda bisa lihat bedanya kan ?

Nah, proses selanjutnya kita harus tahu, akan diapakan gambar 3D kita. Kalau tujuan akhirnya adalah membuat gambar artist impression yang akan dijadikan brosur promosi atau dicetak besar, dibingkai, dan digantung di kantor pemasaran, maka saya sarankan anda berhenti membaca sekarang, dan silahkan bertanya-tanya kepada org lain yg ahli dalam software graphic design, misal 3D S Max, atau Vray, karena saya nggak bisa, heheehe. Tapi kalau 3D anda hanya untuk pengumpulan tugas, asistensi dengan dosen, atau dengan klien sekalipun, silahkan teruskan membaca, karena saya akan share gimana cara membuat image dari model Sketch Up yang agak kartun tadi bisa tampil lumayan dengan software berikut.

—-

yang ketiga adalah Photoshop.

Seperti halnya Sketch Up, saya tidak terlalu bisa Photoshop (nah trus, bisanya apa? hahahaa). Nah, photoshop gunanya untuk menambahkan obyek-obyek 2 dimensi ke dalam gambar image yang udah dihasilkan oleh sketch up tadi. Langsung aja ya :

  1. Dengan ‘magic wand tool‘ yang kayak tongkat penyihir itu, select langit pada image 3D. Isikan ‘tolerance‘ yang sedeng saja (10-15), terlalu besar maka bidang selection anda akan makan yang lain, terlalu kecil makan akan meninggalkan warna putih di perbatasan antar bidang yang di-sellect. Trus, copy paste kan ke dalam image langit yang anda pilih. Anda harus punya banyak-banyak koleksi gambar langit. Gogling aja, banyak kok. Nah terus dg ‘magic wand tool’ lagi pilihlah potongan gambar image anda pada file langit tadi, pada dialog box di kanan bawah select layer langit yang asli, copy, lalu pastekan ke dalam file image 3D anda. Bingung ya? coba sendiri aja deh, saya juga bingung njelasin proses begitu dengan kata-kata kayak gini. hhehee. Learning by doing ya.
  2. Trus dengan proses yang sama, masukkan background. Anda harus punya library file background. Bisa dibuat dari image pohon yang diblurkan.
  3. Selain background, gambar yang baik katanya harus punya foreground. Nah, pasang saja satu foreground di atas, dan satu foreground di bawah. Pasang di tempat yang nggak menutupi gambar utama.
  4. Pasang vegetasi lain sebagai penghias, lihat di bagian tamannya ya.
  5. Pasang pelengkap yang lain, misal orang atau mobil.
  6. Lakukan layer/flatten image supaya semua gambar jadi satu layer
  7. Lalu supaya gambar anda nggak terlalu plain, gunakan filter/render/lighting effect
  8. selesai….

Kabar gembiranya adalah urusan poles-memoles gambar tersebut bisa dilakukan dalam waktu sangat singkat, nggak lebih dari 10 menit 🙂

gambar-gambar berikut adalah ilustrasi dari urutan proses di atas

gambar dari Sketch up di atas, ditambah dengan gambar langit ini :

menjadi :

terus, ditambah dengan pohon background ini :

menjadi ini :

terus ditambah dengan foreground, dan satu-dua tanaman di taman, kalau untuk publik building tambahi orang sebanyak mungkin ya,  :

dan gambar2 vegetasi dari sini :

menjadi kayak gini nih :

terus finishing terakhir dengan render lighting pada photoshop, keliatan bedanya bukan :

cukup lumayan bukan untuk kerjaan satu malam ? hehehee

—-

Nah begitulah, sedikit tulisan mengenai 3 software dasar yang harus dikuasai oleh mhs arsitektur atau seorang arsitek. Sekali lagi… ini basic lho yaaa. Yang belum menguasai, silahkan kuasai 3 software tersebut dan dosbing/klien anda akan tersenyum senang. Yang sudah menguasai, silahkan tingkatkan terus hingga ke tingkat mahir, dan ajari yang lain yaa.

Di dunia ini, ada 2 hal yang tidak akan berkurang sedikitpun walaupun diberikan terus menerus kepada orang lain yang memerlukan. Yaitu harta dan ilmu 🙂

Septana Bagus Pribadi

16 oktober 2012 / 22.08 wib

Ada revisi dikit nih, untuk desainnya 🙂

 

 

 

mau jadi arsitek yang kayak apa?

apa iya sih seluruh mahasiswa jurusan arsitektur itu mau jadi arsitek semua kalau udah lulus ntar? Dihitung kasar aja, jumlah mahasiswa di jurusan tempat saya mengajar kira-kira 200 orang per angkatan, berarti dalam 5 tahun aja, sudah ada 1000 orang lulusan yang ‘siap jadi arsitek’. Itu baru dari Undip, belum ditambah dengan PTN dan PTS yang lain yang ada jurusan arsitekturnya. Di pulau jawa aja ada berapa belasan, puluhan mungkin?.  Apa iya semuanya mau jadi arsitek ?

Arsitek sendiri termasuk profesi purba, artinya sudah ada sejak jaman dahulu kala, sejak jaman empu sendok belum lahir mungkin. hehehe..Tapi saat ini sih, profesi arsitek sudah jauh berkembang dalam lingkup yang sangat luas.

Meminjam istilah kolega saya, pak Budi Sudarwanto, ketika kami berusaha memetakan profil lulusan, setelah selesai kuliah nanti, lulusan sarjana arsitektur akan tersebar sebagai :

  1. Arsitek Profesional. Nah, mungkin ini yang bisa disebut sebagai ‘arsitek beneran’, tapi jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 15-20% dari jumlah lulusan. Mereka nanti yang akan berkarya sebagai arsitek profesional, baik bekerja sendiri ataupun bekerja pada sebuah biro konsultan arsitektur. Tetapi harus diingat, bahwa lulusan sarjana arsitektur belum diakui sebagai seorang arsitek dalam dunia arsitek profesional. Setelah lulus, mereka harus magang dulu selama 2 tahun pada sebuah konsultan yang diakui, barulah setelah itu mengikuti semacam ujian atau sertifikasi yang diadakan oleh asosiasi arsitek, dalam hal ini, IAI (ikatan arsitek indonesia). Sertifikasi sangat penting di sini, karena hampir seluruh tender atau lelang untuk pekerjaan perencanaan, mensyaratkan keanggotaan asosiasi bagi tenaga ahli pada seluruh peserta lelang/tenderya. Kalau mau tahu lebih banyak, tanya-tanya aja ke IAI yaa. Buat yang nggak akan menempuh jalur ini sih nggak usah mikirin hal-hal yang kayak gitu. hehee. Saya aja enggak.
  2. Arsitek Peneliti/employee.  Adalah lulusan arsitektur yang bekerja pada instansi tertentu, yang ketika mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, masih menggunakan sebagian besar basic ilmunya sebagai arsitek. Misalnya lulusan arsitek yang bekerja di LIPI, atau lulusan arsitek yang bekerja di bank sebagai analis properti, bekerja di developer, bekerja di kontraktor, dll. Bagi mereka yang bekerja di instansi seperti ini, biasanya sertifikasi dari asosiasi tidak diperlukan. Yang penting perusahaan puas dengan kinerja dan hasil kerja mereka. habis perkara.
  3. Arsitek Akademisi. Nah, ini adalah arsitek yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, misalnya sebagai tenaga pengajar atau dosen. Jumlahnya tentu tidak banyak, karena daya tampung tenaga pengajar atau dosen tentu terbatas. Bagi yang termasuk dalam kelompok ini, sertifikasi dari asosiasi tidaklah terlalu penting. Yang penting baginya adalah berusaha terus menerus mengupdate ilmu pengetahuannya tentang dunia arsitektur, serta menempuh jenjang pendidikan formal sesuai dengan bidang ilmunya hingga tahap Strata 2 dan Strata 3. Bagaimana bila ada pengajar yang nyambi menjadi arsitek profesional? Buat saya sih tak mengapa, karena dg nyambi tersebut justru ilmu dan pengalamannya akan selalu update dan dapat ditularkan kepada anak didiknya. Tentu ada batasannya, yaitu jangan sampai tugas mengajarnya yang jadi sambilan. hehehee
  4. Arsitek Birokrat. Beberapa lulusan sarjana arsitektur yang saya kenal ada pula yang bekerja di pemerintahan, misal di Kementrian PU, Dinas Tata Kota, Pemkot atau Pemda tertentu. Oke-oke saja, bagus malah. Selama kuliah arsitektur kita dibekali kemampuan untuk menganalisis data dan masukan serta memecahkan masalah. Hal itu bisa menjadi bekal seorang sarjana arsitektur untuk berkecimpung di pemerintahan. Semoga dengan bekal itu, anda akan menjadi birokrat yang baik, dan sanggup untuk memecahkan berbagai masalah fisik, infrastruktur, dan bahkan sosial yang sudah sangat berat membebani masyarakat saat ini.
  5. Arsitek Wirausaha. Yang saya sebut sebagai arsitek wirausaha di sini, adalah arsitek yang nantinya akan punya usaha sendiri, dan sama sekali tidak berminat untuk menjadi karyawan orang lain. Yang kayak gini ini yang harus diperbanyak nih. Jadi kalau bisa begitu lulus yang ada di pikirannya jangan cuman ngelamar kerja aja, tapi gimana caranya supaya bisa bikin lapangan kerjaan buat orang lain. (kalau ngelamar istri sih iya… hehehe). Usaha apa aja?. Boleh berhubungan dengan ilmu arsitektur, tidak pun tak mengapa. Anda bisa menjadi developer, kontraktor, penulis buku-buku tentang arsitektur, menjadi produsen atau distributor bahan bangunan, mendirikan agen real estate, dll. dll. Mau yang nggak ada hubungannya dengan arsitektur sama sekali ya silahkan saja, bikin usaha kuliner, bikin usaha fotocopian dan printing, usaha konveksi. Terserah saja, hidup hidup anda sendiri kok, ya terserah, yang penting halal dan membawa manfaat buat orang banyak.

 

Nah, bukan tidak ada maksudnya saya membuat tulisan singkat ini. Kebetulan dalam rangka Dies Natalis ke 50 Jurusan Arsitektur Undip akan diadakan semuah Seminar Nasional dengan tema ‘Borderless Architecture. Apa maksudnya? Kami ingin menunjukkan potret seorang arsitek dalam arti seluas-seluasnya, bukan hanya dalam arti sempit seorang arsitek yang hanya berperan sebagai ‘tukang desain bangunan’, tapi berbagai aspek dan profesi yang berkaitan dengan dunia arsitektur yang bisa menjadi tempat pilihan untuk berkarya bagi seluruh lulusan sarjana arsitektur. Jadi silahkan googling ttg seminar itu, investasikan uang untuk beli tiketnya, dan beritahu seluruh kenalan anda yang tertarik dengan yang namanya arsitek atau arsitektur. Bila ingin info lebih lanjut, silakan follow saja twitter @BorderlessArch.

Membangun di Lahan Sempit

Tingginya kebutuhan tanah membuat luas kavling yang diperuntukkan bagi hunian semakin lama semakin mengecil. Harga tanah yang melonjak tidak terkendali juga membuat daya beli tanah untuk tempat tinggal semakin menurun. Apabila 5-10 tahun yang lalu masih sering kita jumpai kavling tanah dengan luas diatas 200m2, maka saat ini kebanyakan kavling yang dijual untuk rumah tinggal berukuran kurang dari itu, bahkan kurang dari 100m2. Tidak hanya mengecil, tingginya harga tanah di tepi jalan menyebabkan lebar muka depan tanah yang akan menjadi fasad (bagian muka bangunan) juga menyempit. Kalau dahulu lebar ideal suatu rumah tinggal berkisar 9-10m, saat ini semakin banyak ditemui kavling dengan lebar hanya 6m, bahkan 5m. Nah bagaimanakah cara menyiasati fenomena tersebut ? Bagaimanakah cara kita mendesain sebuah rumah tinggal yang masih bisa dianggap ideal dalam sebuah lahan yang relatif sempit ?

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan bila ingin mendesain di lahan sempit, yaitu :

  1. Pencahayaan dan ventilasi alami. Walaupun lahan terbatas, prinsip yang paling penting dari suatu rumah tinggal yang sehat harus diperhatikan. Yaitu setiap ruang tidur dan kamar mandi harus memperoleh akses langsung terhadap cahaya dan ventilasi alami. Untuk itu sisakan sebagian kecil di sudut belakang lahan sebagai area terbuka. Penggunaan taman dalam yang mempunyai bukaan menerus hingga ke lantai atas dan atap bangunan berupa void juga bisa memberikan cahaya dan udara alami bagi ruang tidur atau kamar mandi yang berada di tengah-tengah bangunan. Untuk faktor keamanan bisa dengan menutup bagian atas void tersebut dengan teralis.
  2. Membuat denah atau penataan ruang yang kontinyu, untuk memberikan kesan luas. Misalnya, antara ruang tamu dan ruang keluarga serta ruang makan tidak perlu diberi sekat dengan tembok permanen. Bila menghendaki privasi, bisa menggunakan furniture / sketsel sebagai sekat.
  3. Membuat ruang multi fungsi. Misalnya ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga, memanfaatkan ruang di bawah tangga sebagai Kamar Mandi atau gudang, memanfaatkan batas antara dapur dan ruang keluarga menjadi pantry yang berfungsi sebagai ruang makan. Memanfaatkan ruang di bawah atap sebagai Kamar Tidur atau Ruang Kerja, dll.
  4. Membuat zoning fungsi pada hunian secara vertikal. Biasanya fungsi ruang pada sebuah rumah tinggal yang dibangun di lahan sempit (tanah di bawah 100m2) adalah sebagai berikut.
  • Lantai dasar : Carport, Ruang Tamu yang sekaligus berfungsi sebagai Ruang Keluarga, Dapur dengan pantry, Kamar Mandi atau Gudang di bawah tangga.
  • Lantai atas : Ruang Duduk/Ruang TV, Ruang Tidur Utama, Ruang Tidur Anak, Kamar Mandi.
  • Sebagian lantai atas bisa ditutup dengan dak beton yang bisa sekaligus mewadahi fungsi Ruang Pembantu, K Mandi Pembantu, Tempat Cuci dan Tempat Jemur.
  1. Membuat jendela atau bukaan selebar mungkin pada arah yang tidak terkena panas / radiasi matahari (arah utara dan selatan). Bukaan yang lebar akan memberikan kesan luas pada suatu ruangan.
  2. Mempergunakan taman kering. Sesedikit apapun, taman tetap diperlukan untuk memberikan kesan sejuk sekaligus berfungsi untuk mengalirkan cahaya dan udara alami. Taman kering atau bahkan taman vertikal yang menempel dinding bisa menjadi solusi karena tidak memerlukan banyak tempat.
  3. Pilih cat dengan warna terang, tetapi tetap lembut dan tidak menyolok, seperti warna putih, krem, atau peach. Warna yang terang akan memberikan kesan lebih luas.
  4. Bila area di bawah tangga tidak dimanfaatkan sebagai k mandi atau gudang, pilihlah tangga dengan konstruksi yang ringan. Tangga adalah salah satu elemen yang paling banyak memberikan konstribusi terhadap kesan sempit suatu ruangan. Pilihlah tangga metal dengan railing yang berupa kisi-kisi atau transparan. Dimensi-dimensi sebuah tangga yang nyaman seperti pernah dimuat di artikel Bale terdahulu tetap harus diperhatikan. Jangan mengorbankan kenyamanan tangga untuk menghemat ruang. Ujung-ujungnya kita hanya akan memperoleh tangga yang terlalu curam, tidak nyaman, dan bahkan berbahaya.
  5. Pilihlah perabot yang tepat. Perabot dengan style yang simpel dan minimalis, akan membuat ruangan berkesan lebih lega.
  6. Last but not least, gunakan cermin pada ruang keluarga atau ruang tamu. Penggunaan cermin adalah salah satu cara paling efektif untuk memberikan kesan luas pada suatu ruangan.

 

Untuk rumah dengan lahan super sempit, bisa digunakan sistem rumah bertingkat 2,5 lantai. Level paling bawah difungsikan sebagai semi basement yang hanya berisi carport, k mandi, dan gudang atau ruang pembantu. Lantai dua diperuntukkan bagi fungsi-fungsi ruang publik, yaitu ruang tamu terbuka, ruang makan, dan pantry. Sementara seluruh ruang tidur dan kamar mandi terletak di lantai tiga. Denah terlampir adalah contoh desain untuk rumah yang dibangun di atas tanah berukuran 40m2, dengan lebar lahan hanya 3,5m.

 

Desain fasad (sisi muka bangunan) sangat mempengaruhi penampilan sebuah rumah yang dibangun di lahan yang sempit. Tampak bangunan yang simpel, modern, dan minimalis akan lebih cocok diterapkan pada bangunan dengan muka kecil. Hindari garis-garis dan pola vertikal, serta perbanyak garis-garis horizontal untuk menyamarkan muka bangunan yang sempit. Penggunaan material yang bertekstur atau bercorak seperti batu alam misalnya, selain memberikan nilai estetis yang lebih tinggi, juga akan lebih memberikan kesan lebih luas pada muka bangunan.

 

Bila kita memiliki lahan yang relatif sempit, untuk memenuhi kebutuhan ruang, mau tidak mau kita akan membangun secara vertikal, mungkin hingga 2 bahkan 3 lantai. Perhatikan kekuatan struktur bangunan. Ukuran besi tulangan harus cukup. Gunakan besi tulangan dengan diameter minimal 12mm untuk kolom-kolom utama. Pilihlah semen dengan kualitas yang baik dan teruji, dengan campuran yang cukup. Karena semen adalah salah satu faktor penentu kekuatan struktur beton untuk rumah bertingkat.

 

Demikian ulasan mengenai desain rumah tinggal pada lahan yang terbatas. Jadi jangan berkecil hati bila Anda mempunyai lahan yang relatif sempit. Dengan desain yang matang, rumah idaman Anda masih tetap dapat terwujud ! (sumber gambar : aguscwid.com; digsdigs.com; greenlandscape.blogspot.com; inforumahdanbangunan.blogspot.com; pelauts.com; sanyartspace.com)

 

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) Tulisan asli yang dikirim ke redaksi Harian Suara Merdeka untuk dimuat dalam rubrik Bale, harian Suara Merdeka, Minggu 14 Okt 2012 hal 17.

Kuliah (boleh) sambil kerja ?

 

Mahasiswa itu macam-macam. Ada mahasiswa yang kuliah aja, ada pula mahasiswa yang kuliah sambil ngerjain yang lain. Ada yang sambil latihan organisasi, ada yang sambil kerja. Yang sambil kerja pun macam-macam sebabnya. Ada yang kerja karena pengin cari pengalaman, tapi ada pula yang kerja lantaran kepepet, artinya kalau nggak kerja ya nggak akan punya biaya untuk kuliah.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bijaksana kalau kita kuliah sambil kerja atau sambil berorganisasi? Apakah kerja sampingan nggak akan mengganggu prestasi kuliah?. Yang jelas, setiap orang dikaruniai waktu yang sama. tepat 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nggak lebih atau kurang sedetikpun. Sebelum bisa menjawab pertanyaan di atas ada beberapa hal memang yang harus diperhatikan.

Negatifnya kuliah sambil kerja/berorganisasi :

  • Alokasi waktu. Waktu belajar atau mengerjakan tugas jelas berkurang karena harus mengalokasikan waktu untuk bekerja sambilan atau berorganisasi. Selain kuliah dan bekerja, kita juga masih perlu mengalokasikan waktu untuk aktivitas yang lain, misalnya istirahat dan sosialisasi.
  • Alokasi tenaga. Selain waktu, tenaga juga harus dibagi-bagi antara kuliah dan pekerjaan. Sering saya denger kata-kata dari teman yang dulu kuliah sambil kerja, ‘Bagi waktu sih masih gampang, bagi tenaga yang susah’.

 

Positifnya kuliah sambil kerja/berorganisasi :

  • Dapat lebih banyak. Ketika bekerja/berorganisasi, banyak pengetahuan dan ketrampilan lain yang akan didapat, yang mungkin nggak diperoleh di bangku kuliah. Menurut Bloom, kemampuan seseorang itu ada 3 macam, yaitu kemampuan kognitif, kemampuan psikomotorik, dan kemampuan afektif. Kognitif adalah kemampuan pemahaman tentang sesuatu, psikomotorik adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu secara fisik, afektif adalah kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Di bangku kuliah aspek kognitif yang lebih banyak diasah, sementara di dunia kerja dan berorganisasi, kedua aspek terakhir yang mungkin lebih dominan.
  • Pengembangan otak kanan. Bukan rahasia, dunia pendidikan kita sangat-sangat-sangat otak kiri. Serba teratur, serba linear, berpikir in the box, dll. Nggak heran, begitu lulus, yang ada di otak kita hanya satu, mau ngelamar kerja di mana ?. Heheee, sayapun juga begitu. Nah, potensi otak kanan – kreativitas, kemampuan analitik, problem solving, keberanian mengambil resiko, entrepeneurship, berpikir out of the box. dll, akan lebih terasah ketika kita kerja sambil kuliah atau sambil berorganisasi.
  • dapat duit tambahan. Kalau sambil kerja ya mestinya bisa dapat tambahan penghasilan lah, kecuali kerja bakti, atau kerja nirlaba, atau berorganisasi.
  • networking. Dengan mencoba banyak hal, sudah pasti minimal kita akan punya banyak teman. Buat apa jumlah teman yang banyak itu? sekarang sih belum kerasa manfaatnya, ntar baru kerasa.
  • Lebih siap kerja. Bukan rahasia juga, ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah kadang tidak siap untuk diaplikasikan di luar. Dunia sekolah kita tidak menghasilkan tenaga yang siap kerja, tapi hanya siap latih.

 

Nah, kalau diliat-liat, kenapa banyak banget keuntungannya kuliah sambil kerja, sementara negatifnya cuman sedikit ?. Lha memang iya. Kalau memang bener begitu, kenapa jumlah mahasiswa yang kuliah sambil kerja atau berorganisasi cuman sedikit?

 

Harap diperhatikan, seluruh keuntungan kuliah sambil kerja di atas – kecuali dapat duit tambahan – adalah keuntungan-keuntungan jangka panjang, bahkan panjang banget, sementara kelemahan-kelemahannya adalah aspek jangka pendek yang berkaitan langsung dengan prestasi (IPK).

 

Dan, ada satu lagi fakta penting : Jarang sekali, mahasiswa yang kuliah sambil kerja, bisa mengungguli prestasi akademis (baca : IPK) mahasiswa yang cuman kuliah doang (dengan kemampuan yang sama). Itu fakta.

 

Nah, pertanyaannya jadi begini nih ? Siapkah kita mengorbankan hal-hal yang sifatnya jangka pendek, demi keuntungan jangka panjang atau jangka panjang banget? Semua tergantung budaya dan latar belakang masing-masing. Bagi mahasiswa dengan keluarga dengan latar belakang pengusaha atau wiraswasta akan jauh lebih mudah untuk memberikan penjelasan kenapa nilai-nilainya sedikit menurun karena dia kuliah sambil kerja, daripada keluarga dengan latar belakang orang tua priyayi atau pegawai negeri yang cenderung konservatif.

 

Saya termasuk yang sangat setuju bila seorang mahasiswa kuliah sambil kerja. Saya pun begitu ketika kuliah S1 dan S2 dulu. Tetapi, saya salah besar kalau mendorong mahasiswa untuk kerja sambilan secara membabi buta tanpa memperhatikan prestasi akademis. Ada beberapa trik yang bisa diambil untuk mahasiswa yang ingin kuliah sambil kerja :

satu

Kerja di bidang yang sama dengan bidang ilmunya. Ini penting sekali, karena alih-alih saling melemahkan, kadang-kadang bisa terjadi sinergi yang luar biasa yang malah bisa memberikan keuntungan bagi sisi akademiknya. Memang nggak boleh kalau kerja yang sesuai dengan bidang ilmunya ? boleh aja, tapi saya tidak anjurkan. Keuntungan kerja sambilan yang sesuai dengan bidang ilmunya misalnya :

  • Waktu latihan yang lebih banyak, pengalaman di tempat kerja akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah/ bangku kuliah.
  • Update pengetahuan, mode, dan tools yang lebih baik. Seringkali dunia kerja menggunakan software lebih baru, menggunakan pengetahuan material dan teori yang lebih baru dibandingkan di dunia kuliah yang cenderung stagnan. Buat mereka yang berkecimpung dalam bidang desain, misal arsitek, desain grafis, desainer interior, hal ini sangat penting.
  • Kedekatan dg dosen. Hampir selalu, mahasiswa yang kerja di bidang ilmu yang sama, berarti dia mendapatkan job atau order dari dosennya. Dosen juga manusia yang nggak bisa lepas dari faktor subyektif, kedekatan dengan dosen akan memberikan banyak keuntungan, walau mungkin tidak secara langsung berupa nilai yang lebih baik, tapi kemudahan akses data, kemudahan untuk bertanya tentu memberikan keuntungan tersendiri.

Dua

Buat batasan yang sangat strike antara kuliah dan kerja sambilan. Bisa batasan waktu. Misal jam 4-7 mikirin kerjaan, jam 7-10 mikirin kuliah. Pokoknya harus disiplin betul. Ketika kuliah jangan mikirin kerja, dan ketika kerja jangan mikirin tugas.

Tiga

Nilai itu ada range-nya. Nilai A di tempat saya adalah range 80 ke atas. Nah maksud saya, kalau kira-kira udah bisa masuk A di range nilai 80-85, ya nggak usah perfeksionis untuk ngejar ke range 90-95. Toh, hasilnya di IP akan sama saja. Perlu diketahui juga, bahwa hampir semua dosen di muka bumi ini (cieee… lebay deh) memakai pedoman kurva normal untuk nilainya. Kurva normal, artinya dalam setiap penilaiannya pasti ada A-nya, ada B-nya, dan ada C-nya. Artinya, kalau kira-kira udah masuk salam 25 % terbaik di kelas atau di kelompoknya, dalam artian sudah bisa masuk A, ya nggak usah mati-matian meningkatkan nilainya hingga jadi yang terbaik di kelas atau di kelompok. Ngerti ya maksud saya 🙂

empat

Perbanyak komunikasi dg keluarga dan orang tua. Komunikasikan setiap hasil kuliah maupun hasil kerjaan kepada beliau yang sudah membanting tulang dan mengorbankan segalanya demi biaya kuliah kita. Komunikasi yang baik akan membuat dinamika yang baik. Orang tua dan keluarga akan menjadi rem bila kita kebablasan dalam mementingkan kerja sambilan.

lima

Jangan jadikan kerja sambilan sebagai kambing hitam, bila prestasi akademis kita turun. Kalau prestasi akademik kita turun ya brarti kita salah, jangan banyak alasan ‘lho, saya kan sambil kerja nih, sambil berorganisasi nih, bla-bla-bla’. Sudah diam saja, terus terang kepada orang tua dan perbaiki prestasi akademik dulu. Kalau perlu jangan kerja sambilan dulu sampai prestasi akademik settle kembali. IPK bisa jadi patokan. Saya nggak akan sebut angkanya karena kecenderungan IPK di tiap jurusan dan perguruan tinggi beda-beda. Yang jelas kalau IPK anda masih masuk 25-30% terbaik di angkatan anda sih, ya brarti masih oke2 aja. Tapi kalau kurang dari itu… waspadalah… waspadalah… hehehe.

enam

Realistis. Pengalaman itu penting, ilmu di luar bangku kuliah penting, networking juga penting, dapat duit tambahan juga bagus, tapi nilai dan IPK juga sangat-sangat penting. Jangan bayangkan kita seperti Bill Gates, Steve Jobs, Robert Kiyosaki, Mark Zuckerberg, dan lain-lain yang memang notabene mereka tidak lulus bangku kuliah. Kita bukan mereka, titik, dan satu banding sejuta yang bisa seperti mereka.

 

Hehehe… demikian sedikit tulisan tentang kuliah dan kerja sambilan. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga salah satu contoh susahnya disiplin ngatur waktu. Pas banyak deadline, banyak tugas… eh saya malah nulis buat blog   -_-.

 

Gambarnya tipu banget ya,… hihihii, mbaknya yang di gambar hepi-hepi aja tuh kuliah sambil kerja. Eh kerja apaan mbak?

 

Semarang, 10/10/2012

02.07 wib