Kuliah (boleh) sambil kerja ?

 

Mahasiswa itu macam-macam. Ada mahasiswa yang kuliah aja, ada pula mahasiswa yang kuliah sambil ngerjain yang lain. Ada yang sambil latihan organisasi, ada yang sambil kerja. Yang sambil kerja pun macam-macam sebabnya. Ada yang kerja karena pengin cari pengalaman, tapi ada pula yang kerja lantaran kepepet, artinya kalau nggak kerja ya nggak akan punya biaya untuk kuliah.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bijaksana kalau kita kuliah sambil kerja atau sambil berorganisasi? Apakah kerja sampingan nggak akan mengganggu prestasi kuliah?. Yang jelas, setiap orang dikaruniai waktu yang sama. tepat 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nggak lebih atau kurang sedetikpun. Sebelum bisa menjawab pertanyaan di atas ada beberapa hal memang yang harus diperhatikan.

Negatifnya kuliah sambil kerja/berorganisasi :

  • Alokasi waktu. Waktu belajar atau mengerjakan tugas jelas berkurang karena harus mengalokasikan waktu untuk bekerja sambilan atau berorganisasi. Selain kuliah dan bekerja, kita juga masih perlu mengalokasikan waktu untuk aktivitas yang lain, misalnya istirahat dan sosialisasi.
  • Alokasi tenaga. Selain waktu, tenaga juga harus dibagi-bagi antara kuliah dan pekerjaan. Sering saya denger kata-kata dari teman yang dulu kuliah sambil kerja, ‘Bagi waktu sih masih gampang, bagi tenaga yang susah’.

 

Positifnya kuliah sambil kerja/berorganisasi :

  • Dapat lebih banyak. Ketika bekerja/berorganisasi, banyak pengetahuan dan ketrampilan lain yang akan didapat, yang mungkin nggak diperoleh di bangku kuliah. Menurut Bloom, kemampuan seseorang itu ada 3 macam, yaitu kemampuan kognitif, kemampuan psikomotorik, dan kemampuan afektif. Kognitif adalah kemampuan pemahaman tentang sesuatu, psikomotorik adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu secara fisik, afektif adalah kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Di bangku kuliah aspek kognitif yang lebih banyak diasah, sementara di dunia kerja dan berorganisasi, kedua aspek terakhir yang mungkin lebih dominan.
  • Pengembangan otak kanan. Bukan rahasia, dunia pendidikan kita sangat-sangat-sangat otak kiri. Serba teratur, serba linear, berpikir in the box, dll. Nggak heran, begitu lulus, yang ada di otak kita hanya satu, mau ngelamar kerja di mana ?. Heheee, sayapun juga begitu. Nah, potensi otak kanan – kreativitas, kemampuan analitik, problem solving, keberanian mengambil resiko, entrepeneurship, berpikir out of the box. dll, akan lebih terasah ketika kita kerja sambil kuliah atau sambil berorganisasi.
  • dapat duit tambahan. Kalau sambil kerja ya mestinya bisa dapat tambahan penghasilan lah, kecuali kerja bakti, atau kerja nirlaba, atau berorganisasi.
  • networking. Dengan mencoba banyak hal, sudah pasti minimal kita akan punya banyak teman. Buat apa jumlah teman yang banyak itu? sekarang sih belum kerasa manfaatnya, ntar baru kerasa.
  • Lebih siap kerja. Bukan rahasia juga, ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah kadang tidak siap untuk diaplikasikan di luar. Dunia sekolah kita tidak menghasilkan tenaga yang siap kerja, tapi hanya siap latih.

 

Nah, kalau diliat-liat, kenapa banyak banget keuntungannya kuliah sambil kerja, sementara negatifnya cuman sedikit ?. Lha memang iya. Kalau memang bener begitu, kenapa jumlah mahasiswa yang kuliah sambil kerja atau berorganisasi cuman sedikit?

 

Harap diperhatikan, seluruh keuntungan kuliah sambil kerja di atas – kecuali dapat duit tambahan – adalah keuntungan-keuntungan jangka panjang, bahkan panjang banget, sementara kelemahan-kelemahannya adalah aspek jangka pendek yang berkaitan langsung dengan prestasi (IPK).

 

Dan, ada satu lagi fakta penting : Jarang sekali, mahasiswa yang kuliah sambil kerja, bisa mengungguli prestasi akademis (baca : IPK) mahasiswa yang cuman kuliah doang (dengan kemampuan yang sama). Itu fakta.

 

Nah, pertanyaannya jadi begini nih ? Siapkah kita mengorbankan hal-hal yang sifatnya jangka pendek, demi keuntungan jangka panjang atau jangka panjang banget? Semua tergantung budaya dan latar belakang masing-masing. Bagi mahasiswa dengan keluarga dengan latar belakang pengusaha atau wiraswasta akan jauh lebih mudah untuk memberikan penjelasan kenapa nilai-nilainya sedikit menurun karena dia kuliah sambil kerja, daripada keluarga dengan latar belakang orang tua priyayi atau pegawai negeri yang cenderung konservatif.

 

Saya termasuk yang sangat setuju bila seorang mahasiswa kuliah sambil kerja. Saya pun begitu ketika kuliah S1 dan S2 dulu. Tetapi, saya salah besar kalau mendorong mahasiswa untuk kerja sambilan secara membabi buta tanpa memperhatikan prestasi akademis. Ada beberapa trik yang bisa diambil untuk mahasiswa yang ingin kuliah sambil kerja :

satu

Kerja di bidang yang sama dengan bidang ilmunya. Ini penting sekali, karena alih-alih saling melemahkan, kadang-kadang bisa terjadi sinergi yang luar biasa yang malah bisa memberikan keuntungan bagi sisi akademiknya. Memang nggak boleh kalau kerja yang sesuai dengan bidang ilmunya ? boleh aja, tapi saya tidak anjurkan. Keuntungan kerja sambilan yang sesuai dengan bidang ilmunya misalnya :

  • Waktu latihan yang lebih banyak, pengalaman di tempat kerja akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah/ bangku kuliah.
  • Update pengetahuan, mode, dan tools yang lebih baik. Seringkali dunia kerja menggunakan software lebih baru, menggunakan pengetahuan material dan teori yang lebih baru dibandingkan di dunia kuliah yang cenderung stagnan. Buat mereka yang berkecimpung dalam bidang desain, misal arsitek, desain grafis, desainer interior, hal ini sangat penting.
  • Kedekatan dg dosen. Hampir selalu, mahasiswa yang kerja di bidang ilmu yang sama, berarti dia mendapatkan job atau order dari dosennya. Dosen juga manusia yang nggak bisa lepas dari faktor subyektif, kedekatan dengan dosen akan memberikan banyak keuntungan, walau mungkin tidak secara langsung berupa nilai yang lebih baik, tapi kemudahan akses data, kemudahan untuk bertanya tentu memberikan keuntungan tersendiri.

Dua

Buat batasan yang sangat strike antara kuliah dan kerja sambilan. Bisa batasan waktu. Misal jam 4-7 mikirin kerjaan, jam 7-10 mikirin kuliah. Pokoknya harus disiplin betul. Ketika kuliah jangan mikirin kerja, dan ketika kerja jangan mikirin tugas.

Tiga

Nilai itu ada range-nya. Nilai A di tempat saya adalah range 80 ke atas. Nah maksud saya, kalau kira-kira udah bisa masuk A di range nilai 80-85, ya nggak usah perfeksionis untuk ngejar ke range 90-95. Toh, hasilnya di IP akan sama saja. Perlu diketahui juga, bahwa hampir semua dosen di muka bumi ini (cieee… lebay deh) memakai pedoman kurva normal untuk nilainya. Kurva normal, artinya dalam setiap penilaiannya pasti ada A-nya, ada B-nya, dan ada C-nya. Artinya, kalau kira-kira udah masuk salam 25 % terbaik di kelas atau di kelompoknya, dalam artian sudah bisa masuk A, ya nggak usah mati-matian meningkatkan nilainya hingga jadi yang terbaik di kelas atau di kelompok. Ngerti ya maksud saya🙂

empat

Perbanyak komunikasi dg keluarga dan orang tua. Komunikasikan setiap hasil kuliah maupun hasil kerjaan kepada beliau yang sudah membanting tulang dan mengorbankan segalanya demi biaya kuliah kita. Komunikasi yang baik akan membuat dinamika yang baik. Orang tua dan keluarga akan menjadi rem bila kita kebablasan dalam mementingkan kerja sambilan.

lima

Jangan jadikan kerja sambilan sebagai kambing hitam, bila prestasi akademis kita turun. Kalau prestasi akademik kita turun ya brarti kita salah, jangan banyak alasan ‘lho, saya kan sambil kerja nih, sambil berorganisasi nih, bla-bla-bla’. Sudah diam saja, terus terang kepada orang tua dan perbaiki prestasi akademik dulu. Kalau perlu jangan kerja sambilan dulu sampai prestasi akademik settle kembali. IPK bisa jadi patokan. Saya nggak akan sebut angkanya karena kecenderungan IPK di tiap jurusan dan perguruan tinggi beda-beda. Yang jelas kalau IPK anda masih masuk 25-30% terbaik di angkatan anda sih, ya brarti masih oke2 aja. Tapi kalau kurang dari itu… waspadalah… waspadalah… hehehe.

enam

Realistis. Pengalaman itu penting, ilmu di luar bangku kuliah penting, networking juga penting, dapat duit tambahan juga bagus, tapi nilai dan IPK juga sangat-sangat penting. Jangan bayangkan kita seperti Bill Gates, Steve Jobs, Robert Kiyosaki, Mark Zuckerberg, dan lain-lain yang memang notabene mereka tidak lulus bangku kuliah. Kita bukan mereka, titik, dan satu banding sejuta yang bisa seperti mereka.

 

Hehehe… demikian sedikit tulisan tentang kuliah dan kerja sambilan. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga salah satu contoh susahnya disiplin ngatur waktu. Pas banyak deadline, banyak tugas… eh saya malah nulis buat blog   -_-.

 

Gambarnya tipu banget ya,… hihihii, mbaknya yang di gambar hepi-hepi aja tuh kuliah sambil kerja. Eh kerja apaan mbak?

 

Semarang, 10/10/2012

02.07 wib

Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. waw…sangat membantu tulisannya pak…

    Reply
  2. sean

     /  November 28, 2012

    saya tipe yang bekerja karena harus bayar kuliah
    saya ga berbakat arsitektur
    tapi berminat besat
    saya tidak bekerja dibidang ilmu yang sama
    time management saya payah
    prestasi akademik saya tidak begitu bagus
    saya tidak rajin
    saya tidak tekun
    saya mau jadi arsitek seperti arsitek austria yang bikin sekolah di Bangladesh

    Reply
  3. trims..

    Reply
  4. nama

     /  December 14, 2013

    Tambahan mbak, orang2 yang kaya mbak bilang itu, macam bill gates, mark zuckerberg, dll. mereka itu mengganti kuliahnya, dan pendidikanya dengan kegiatan yang selevel. Bill gates: belajar it habis2an, Henry ford( pendiri ford): belajar sains habis2an, begitu juga semuanya. Gak ada yang ongkang2 kaki tiba2 sukses.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: