Urban Tropical House

Padatnya permukiman di perkotaan seharusnya tidak mengurangi kualitas kehidupan msyarakat yang tinggal di sana. Hunian boleh terbatas luasnya karena harga lahan yang semakin mahal, tetapi dalam ruang yang terbatas tersebut konsep-konsep hunian yang nyaman dan sehat tidak boleh ditinggalkan. Untuk mencapai kenyamanan yang optimal respon terhadap iklim tropis mutlak harus diterapkan pada sebuah rumah tinggal. Sinar matahari yang berlimpah dan curah hujan yang tinggi adalah dua faktor utama yang tidak boleh diabaikan, bahkan harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Secara umum, ciri rumah tropis yang utama adalah sebagai berikut :

  1. Atap miring dengan teritisan yang lebar. Atap miring adalah respon yang paling logis dari curah hujan yang tinggi. Satu-satunya cara yang terbaik dalam menangani air hujan adalah dengan mengusahakan air hujan tersebut secepat mungkin sampai ke permukaan tanah, dan meresap ke dalam tanah. Teritisan yang lebar berfungsi untuk melindungi dinding dari tampias air hujan.
  2. Ventilasi alami. Selain lebih sehat daripada udara yang dikondisikan secara mekanis, penggunaan ventilasi alami jelas merupakan pilihan yang lebih ekonomis. Walaupun berada di tengah kawasan perkotaan yang beriklim panas, kita bisa menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk di dalam rumah dan halaman. Caranya adalah dengan memanfaatkan vegetasi dan sistem ventilasi silang yang tepat ukuran dan perletakannya.
  3. Penggunaan material alami.  Untuk lebih memperkuat kesan dari style tropis dan natural, pergunakanlah material alami, misalnya kayu dan batu alam. Tetapi kedua material tersebut memang memerlukan finishing dan perawatan khusus untuk melindungi dari panas matahari dan kelembapan yang tinggi.

 

Pada tulisan kali ini, kita juga akan mengulas contoh sebuah rumah dengan style tropis yang terletak di daerah Tembalang, Kota Semarang, yang menjadi tempat tinggal keluarga Bpk. M. Sahid Indraswara yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen sekaligus pengusaha properti. DI tengah style minimalis yang seakan menjadi mainstream, sang pemilik rumah tetap memilih style tropis pada huniannya. Dan pilihan tersebut adalah pilihan yang tepat, terbukti bahwa rumah tersebut tetap terasa sangat nyaman dihuni meskipun berada di tengah-tengah kota Semarang yang terkenal panas.

 

Sejak dari luar rumah, terlihat desain pembatas kavling yang sangat kuat aksen tropisnya. Rumah ini sebetulnya tidak memiliki pagar, tetapi level halaman yang lebih tinggi menyebabkan privasi area rumah tetap terjaga. Penggunaan bahan batu lempeng yang dipasang secara acak dipadu dengan tatanan vegetasi yang cantik membuat rumah tersebut tampak sangat asri dan alami. Pada area pagar tersebut juga terdapat batu-batu besar yang seakan diletakkan tanpa sengaja di situ. Untuk material pintu pagar menggunakan material besi bercat hitam yang dikombinasikan dengan potongan-potongan kayu. Satu lagi elemen yang menjadi aksen pada bagian ini adalah sebuah perahu ethnik yang dipasang di atas pagar.

 

Masuk ke dalam halaman, kita disambut dengan gemericik air dari kolam koi yang terletak persis di depan teras. Suara gemericiknya air tersebut dipercaya memiliki efek psikologis yang menenangkan. Tepi kolam juga terbentuk dari susunan batu-batu lonjong yang disusun secara acak untuk lebih memperkuat kesan alami. Carport menggunakan material batu alam andesit dengan list dari kayu. Kolom teras dilapisi dengan batu palimanan yang disusun secara miring. Bentuk miring ini adalah transformasi dari bentuk umpak pada struktur bangunan tradisional. Akses utama pada teras adalah gebyok antik yang menjadi pintu utama masuk ke dalam hunian dipadu dengan bangku antik yang terbuat dari bongkahan kayu utuh. Pada sebelah kolam terdapat tangga menuju lantai dua yang berfungsi sebagai kantor. Dinding di samping tangga ini dilapisi dengan batu alam dengan arah horizontal. Karena ruang yang terbatas, railing tangga menggunakan bahan kaca tempered dengan rangka stainless steel supaya tidak membatasi secara visual dan tetap memberikan kesam luas.

 

Naik ke lantai dua, terlihat kesan yang lebih moderen. Di lantai atas ini terdapat konsol-konsol kayu yang menyangga teritisan yang sangat lebar. Demikian lebarnya teritisan tersebut, sehingga area balkon di lantai dua tetap terlindung dari panas matahari meskipun rumah ini menghadap ke barat. Teritisan dan konsol inilah sebetulnya yang memunculkan paling besar. Material lantai mempergunakan keramik ukuran 100x100cm dengan motif yang meyerupai granit. Sementara itu, plafond menggunakan papan lambrisering yang difinishing natural. Untuk balustrade (dinding pembatas balkon, dipergunakan material kaca transparan dengan rangka stainless steel. Pada dinding terdapat replika ukiran kayu dari jaman Majapahit yang berukuran besar yang berfungsi sebagai aksen.

 

Ethnik, Tropis, Natural. Begitulah kesan utama yang dimunculkan oleh rumah tersebut. Rumah ini membuktikan, walaupun berada di area perkotaan dan berada di tengah-tengah serbuan style minimalis modern, rumah ini masih bisa terlihat menonjol dan menarik perhatian dengan style yang paling cocok dengan iklim tropis. Rumah ini juga mejadi bukti bahwa dengan lahan yang terbatas, tidak berarti semuanya harus serba kecil dan terbatas. Maka tidak berlebihan bila rumah ini saya sebut sebagai urban tropical house.

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

 

Artikel ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

 

p sahid 1

p sahid 2

p sahid 3

p sahid 4

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: