Kamar Mandi di Ruang Sempit

Sesempit apapun rumah kita, seterbatas apapun space yang kita miliki, ada satu fungsi ruang dalam suatu rumah tinggal yang sangat vital dan tidak boleh dihilangkan. Anda pasti bisa menebak fungsi ruang apakah itu? Anda betul, Kamar Mandi.

Kamar mandi mempunyai 3 fungsi utama, yaitu untuk membersihkan diri (mandi), sekresi (melepas hajat), dan relaksasi. Terkadang ada di antara kita, terutama kaum hawa, yang merasa nyaman dan ingin  berlama-lama ketika berendam di bath up di kamar mandi. Untuk itu, perlu disiasati bagaimana dengan ruang yang terbatas, tetapi kita dapat mempunyai sebuah kamar mandi yang fungsional, lengkap, dan nyaman.

Jenis Kamar Mandi

Berdasarkan penggunaan airnya, kamar mandi dibedakan menjadi

  1. Kamar Mandi Basah. Pada kamar mandi basah, biasanya terdapat bak air yang selalu berisi air. Disebut kamar mandi basah, karena lantai kamar mandi jenis ini selalu basah terpercik oleh air.
  2. Kamar Mandi Kering. Kerepotan membersihkan bak air secara berkala menjadi alasan dipilihnya kamar mandi jenis ini. Bak air digantikan dengan shower atau bath up yang memiliki pemisah berupa partisi atau tirai dari area kamar mandi yang lain.

 

Persyaratan Kamar Mandi

 

Secara umum, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi supaya kamar mandi Anda tetap sehat, kering, dan tidak lembab, yaitu :

 

  1. Memperoleh sinar matahari langsung. Masuknya sinar matahari yang cukup akan membuat kamar mandi lebih cepat kering secara alami sehingga jamur, lumut, kuman, dan bakteri tidak dapat berkembang biak Untuk itu lokasi kamar mandi yang terbaik adalah yang berada di pinggir, sehingga bisa mempunyai akses langsung terhadap cahaya alami. Anda bisa memasukkan sinar matahari dengan menggunakan boven dengan kaca es, atau glassblock. Bila karena pertimbangan tertentu Anda terpaksa meletakkan kamar mandi di area tengah, Anda bisa memasukkan cahaya matahari menggunakan genteng kaca. Tentu saja bagian plafond di bawah genteng kaca tersebut harus menggunakan kaca es juga untuk meneruskan cahaya.

 

  1. Adanya sirkulasi udara. Adanya ventilasi langsung akan mengurangi kelembaban kamar mandi anda. Serkulasi udara segar dapat anda peroleh dengan penggunakan boven atau loster. Seperti halnya dengan akses terhadap cahaya matahari di atas, akses terhadap ventilasi langsung adalah syarat mutlak sebuah kamar mandi yang sehat. Apabila tidak dimungkinkan, gunakan exhaust fan yang terhubung otomatis dengan sakelar lampu. Pembuangan dari exhaust fan bisa diarahkan ke atas ke ruangan di atas plafond.

 

  1. Tempatkan vegetasi. Hal  ini bisa dilakukan untuk menambah kesegaran di area Kamar Mandi. Anda bisa memilih tanaman sirih, yang tidak hanya cantik bentuk daunnya tapi juga di kenal dapat menyerap polutan di area sekitar.

 

Selain hal-hal di atas, ada beberapa aspek teknis lainnya yang harus diperhatikan pada perencanaan kamar mandi :

  • Kemiringan lantai yang tepat. Untuk mempercepat keringnya lantai, lantai kamar mandi harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan (floor drain). Apabila kemiringan kurang maka lantai akan lebih lama kering, apabila kemiringan lantai berlebihan juga akan mengurangi kenyamanan pengguna. Cukup berikan selisih 2-3 cm antara level lantai dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Gunakan campuran pasir dan semen sebagai pembentuk kemiringan pada saat pemasangan keramik lantai.
  • Untuk menghindari terjadinya kebocoran, perhatikan betul kualitas material pasir dan semen pada saat pembuatan pasangan untuk pembuatan bak air, pemasangan keramik dinding, dan pemasangan keramik lantai pada kamar mandi yang terletak di lantai atas. Pembuatan hal-hal tersebut sebaiknya ‘sekali jadi’. Karena, apabila terjadi kebocoran akan sangat sulit penangangannya.

 

Trik membuat kamar mandi terasa luas

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membuat kamar mandi yang sempit terasa lebih lapang, antara lain :

  1. Pilihlah jenis kamar mandi kering. Hilangnya bak mandi yang digantikan oleh shower akan memberikan ruang yang terasa cukup lapang.
  2. Gunakan cermin. Selain fungsinya untuk merapikan diri sebelum keluar dari kamar mandi, cermin memiliki efek untuk membuat kamar mandi terasa jauh lebih lapang.
  3. Pilih ukuran bath up yang cukup. Biasanya orang menggunakan bath up dalam posisi duduk tegak. Untuk itu, tidak perlu menggunakan bath up yang terlalu besar atau panjang. Pilihlah bath up sepanjang 1,5m sehingga masih cukup banyak ruang yang tersisa untuk sanitair yang lain.
  4. Manfaatkan sudut ruang. Sudut ruang bisa dipergunakan untuk meletakkan wastafel ataupun closet.
  5. Gunakan wastafel jenis gantung. Wastafel jenis ini akan lebih hemat tempat bila dibandingkan dengan wastafel dengan kabinet. Bila tempat yang Anda punyai benar-benar terbatas, pilihlah wastafel yang berukuran kecil.
  6. Gunakan kabinet yang tertanam sebagian di dalam dinding untuk penyimpanan berbagai alat mandi dan kosmetik.
  7. Terakhir, gunakanlah keramik dengan motif polos. Penggunaan keramik dengan motif yang ramai akan membuat ruangan terasa lebih sempit. Untuk mempercerah suasana, anda bisa memadupadankan berbagai keramik polos dengan berbagai warna, misal sebagai border.

Nah, sekarang Anda sudah siap untuk mewujudkan kamar mandi idaman Anda.

(sumber gambar : gambarrumah.com; kabar 24.com; mobilesolusiproperti.com)

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) tulisan ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

ImageImageImageImageImage

Advertisements

Bahan Penutup Atap (bagian 3)

Pada bagian kedua yang lalu sudah kita bahas berbagai jenis bahan penutup atap, termasuk kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis material. Nah saat ini, akan kita bahas bahan penutup atap yang paling banyak digunakan. Apakah itu? Ya Anda betul, genteng jawabnya.

Genteng dengan bahan dasar tanah liat, ternyata telah dikenal di Cina dan Timur Tengah, sejak sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. Dari kedua wilayah ini, barulah genteng menyebar luas ke seluruh Asia dan Eropa. Barulah pendatang dari Eropa mengenalkan material ini ke Amerika pada abad ke-17.

Indonesia sudah mengenal material tanah liat sebelum abad ke-19, Tetapi perkembangan genteng secara pesat di Indonesia dimulai pada tahun 1920 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Balai Keramik di Bandung dan melakukan penelitian mengenai daerah-daerah yang memiliki bahan tanah liat yang bagus untuk dibuat genteng, antara lain daerah Plered, Banyuwangi, dan Kebumen. Penggunaan genteng digalakkan oleh pemerintah Hindia Belanda antara lain untuk memerangi wabah pes yang timbul pada saat itu dengan media penularan tikus yang banyak bersarang di atap rumbia yang masih banyak dipergunakan pada masa tersebut.

Hingga saat ini, genteng masihlah merupakan bahan penutup atap favorit yang paling banyak dipergunakan, karena secara umum, genteng memiliki banyak kelebihan :

  • kuat
  • cara pemasangan dan perbaikan mudah
  • insulasi panas yang baik
  • relatif tahan terhadap api

 

Secara umum, jenis-jenis genteng yang terdapat di pasaran adalah :

 

1. Genteng tanah liat

Genteng jenis ini banyak dibuat secara tradisional. Dibuat dari bahan tanah liat, dicetak, dan dibakar pada tungku tradisional. Karena proses pembuatannya dilakukan secara tradisional, genteng ini hanya memiliki kekuatan, kepresisian, dan kerapihan yang cukup. Biasanya terdapat dua jenis, ukuran yang kecil dengan kebutuhan 24 bh/m2, dengan harga Rp.750 s/d 950 per buah.  Ukuran yang lebih besar dengan kebutuhan 19 bh/m2, dengan harga Rp. 1500 per buah. Genteng jenis ini dicetak dengan berbagai bentuk sesuai khas daerah produksi masing-masing, dengan nama yang berbeda-beda, yaitu genteng kodok, genteng plentong/manthili, genteng garuda, genteng paris, dll. Untuk finishing tersedia dalam pilihan natural dan glazuur transparan. Glazuur adalah sejenis coating untuk menutup pori-pori genteng dan memberikan tampilan lebih mengkilap.

 

2. Genteng keramik

Yang disebut dengan genteng keramik, sebenarnya memiliki bahan yang sama dengan genteng tradisional, yaitu dari tanah liat. Tetapi material tanah liat pada genteng keramik disortir, dicetak, dan dipress dengan peralatan modern di pabrik besar, sehingga memiliki kekuatan, kepresisian, dan kerapihan yang tinggi. Proses pemanasan juga dilakukan hingga suhu 1200 derajad celcius, sehingga tanah liat berubah menjadi sangat keras menyerupai keramik lantai. Pilihan warna dan finishing glazuur pada genteng keramik juga jauh lebih beragam dan halus, karena dilakukan secara mekanis dengan peralatan modern. Tidak heran, harganya pun juga lebih mahal daripada genteng tradisional. Diperlukan 13-14 buah genteng / m2, dengan harga Rp.7.800 s/d Rp.8.0000 per buah. Jenis-jenis genteng keramik biasa dinamai sesuai dengan nama pabrikan masing-masing.

 

3. Genteng Beton

Genteng beton terbuat dari pasir, semen, dan Fly Ash, yang dicampur dengan air dan dicetak, lalu dikeringkan. Kekuatan genteng beton tentu dipengaruhi oleh kebersihan dan ukuran butiran pasir yang dipergunakan, serta semen sebagai bonding agent. Fly ash dibutuhkan sebagai filler untuk mengisi celah-celah di antara butiran pasir, sehingga didapatkan genteng yang lebih padat dan kuat. Genteng beton banyak terdapat di pasaran pada dua jenis bentuk. Yang pertama adalah genteng beton gelombang dan genteng beton flat. Daya tutup keduanya hampir sama, yaitu 11 buah genteng per m2 dengan harga Rp.3800 s/d Rp.4000 per buah.  Dibandingkan dengan genteng keramik, genteng beton memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihannya adalah lebih kuat dan lebih ekonomis, sementara kelamahannya adalah bobotnya yang berat sehingga membebani struktur. Finishing genteng beton biasanya dilakukan dengan cat.

 

4. Genteng Metal

Sesuai namanya, genteng metal terbuat dari lembaran metal yang dipress sehingga mempunyai pola seperti genteng. Dalam satu modul genteng metal, biasanya terdapat 2×5 pola cetakan genteng. Untuk menghilangkan permukaan metal yang mengkilap dan mengurangi daya hantar panas serta kebisingan pada waktu hujan, permukaan bagian atas genteng metal dilapisi dengan butiran pasir dan aspal yang direkatkan. Kemudian difinishing dengan cat di pabrik. Kelebihan genteng metal ini adalah bobotnya yang sangat ringan sehingga menghemat struktur, serta ukurannya yang besar sehingga mempercepat proses pemasangan. Kelemahannya adalah kemampuan insulasi panas dan kebisingan yang ditimbulkan pada waktu hujan, yang bagaimanapun juga masih belum sebaik genteng keramik dan genteng beton.

 

Atap rumah sebagai bagian bangunan yang langsung terkena panas dan hujan tentu memerlukan perlindungan terhadap jamur. Biasanya perlindungan dilakukan dengan aplikasi cat genteng yang banyak tersedia dalam berbagai merek dan harga di pasaran. Cat genteng ini berbahan dasar air, tetapi setelah mengering akan membentuk lapisan sintetis yang kedap air. Untuk genteng yang sudah ber-glazuur, sangat tidak direkomendasikan pengaplikasian cat genteng. Selain tidak perlu karena glazuur sendiri sudah merupakan perlindungan yang sangat bagus terhadap jamur, cat yang diaplikasikan tidak akan dapat menempel dengan baik karena pori-pori material sudah tertutup oleh glazuur.

 

Nah, supaya rumah Anda jadi ganteng, pilihlah genteng yang tepat 🙂

 

(sumber gambar : forum.bebas.com; garudamandorayup.bp.com; dinomarket.com; infoarsitek.com; kaskus.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) artikel ini dimuat di rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

ImageImageImageImage

Bahan Penutup Atap (bagian 2)

Setelah pada tulisan bagian pertama yang lalu kita bahas tuntas alasan-alasan yang melatarbelakangi pemilihan berbagai bahan atap, pada tulisan ini akan kita ulas mengenai berbagai jenis bahan penutup atap itu sendiri. Langsung saja kita bahas satu persatu ya…

1. Atap ijuk dan alang-alang

Kalau Anda pernah ke Bali, pasti akan sangat familiar dengan bahan atap ijuk yang diigunakan pada arsitektur tradisional Bali. Boleh saja Anda gunakan jenis atap ini apabila ingin membuat bangunan dengan nuansa tradisional atau vernakular. Atap ijuk dibuat dari serabut palem aren. Ijuk digunakan sebagai bahan penutup atap dengan dibentuk ikatan sepanjang 120cm dan diameter 6cm. Ikatan tersebut dijepit dengan bilah bambu, lalu diikatkan ke reng. Lapisan ijuk minimal 2 lapis, semakin tebal lapisannya akan semakin lama daya tahannya. Atap ijuk dengan kualitas yang baik bisa mencapai umur hingga 30 tahun.

2. Atap Rumbia

Atap Rumbia terbuat dari helai daun rumbia yang dirangkaikan hingga berbentuk sisir lalu diikat pada sebatang tongkat atau bambu yang berfungsi sebagai reng setiap 20 cm. Atap rumbia hanya memiliki daya tahan sekitar 3-4 tahun.

Baik atap ijuk dan alang-alang mempunyai kelebihan terutama pada aspek estetika dan nuansa tradisionalnya. Kelemahannya adalah ketersediaan bahan dengan kualitas yang baik di pasaran, sistem pemasangan yang sedikit rumit, dan umur yang relatif pendek (untuk bahan atap rumbia).

3. Atap Sirap.

Sirap yang tersedia di pasaran terbuat dari 2 jenis bahan. Sirap alami yang berbahan dasar kayu dan sirap buatan yang berbahan dasar fiber-cement. Sirap kayu terbuat dari kayu kelas awet yang berserat lurus, bebas dari mata kayu dan retak. Terdapat sirap kayu kecil dengan panjang 50-60cm, lebar 7-10cm, tebal 1-3cm, dan sirap kayu besar yang berbentuk seperti papan dengan panjang 40-93cm, lebar 10-47cm, tebal 3-5mm. Sedangkan sirap buatan dari bahan fiber-cement tersedia dalam ukuran yang bermacam-macam. Cara pemasangan sirap alami dan sirap buatan hampir sama. Sirap dipasang selang-seling sebanyak 2,3, atau 4 lapis dengan dipaku pada reng. Terdapat juga sirap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah, lalu dipotong sepanjang 40cm dan diruncingkan ujungnya. Atap sirap banyak dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan style kolonial. Selain itu, seperti telah dibahas pada bagian pertama, atap sirap mempunyai kelebihan bisa dipasang pada atap dengan sudut yang hampir mendekati vertikal. Kekurangannya adalah pada aspek biaya. Atap sirap alami cukup mahal karena harus terbuat dari kayu dengan kualitas baik.

4. Atap Asbes

Asbes sering digunakan untuk bangunan berbiaya rendah. Tidak hanya karena harga materialnya yang murah. Atap asbes juga memerlukan rangka atap yang lebih jarang. Asbes langsung dipasang pada gording, sehingga tidak memerlukan usuk dan reng.

Asbes tersedia dalam 2 jenis, yaitu asbes gelombang besar dan asbes gelombang kecil. Untuk asbes gelombang besar, ukuran yang tersedia adalah panjang 100, 125, 150, 180, 210, 240, 270, 300cm, dengan lebar 108cm. Untuk asbes gelombang besar, overlap sambungan di ujung adalah 25cm, dan 8 cm di bagian tepi. Untuk asbes gelombang kecil, ukuran yang tersedia adalah 150, 180, 210, 240, 270, 300cm dengan lebar 105cm. Untuk asbes gelombang kecil, overlap sambungan di ujung adalah 25cm dan 7,5cm di bagian tepi.

5. Atap Seng dan Aluminium Gelombang

Atap seng gelombang tersedia dalam ukuran 183 x 76cm, sedangkan atap aluminium gelombang tersedia dalam ukuran 200 x 83,6cm dengan tebal 0.5, 0.7, 0.8, atau 1.0 mm. Ketika dipasang memerlukan overlap sebesar 20cm pada bagian panjang, dan 11,4 cm pada bagian tepi.

6. Atap Metaldeck

Atap jenis ini mempunyai banyak nama alias d pasaran, yaitu spandek, bondek, trimdek, kliplok, hingga galvalum dan zincalume yang sebetulnya lebih ke arah nama jenis material penyusunnya. Atap metal deck ini biasa dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan bentang atap lebar, misalnya pabrik, swalayan, dll. Tersedia dalam lebar 600mm s/d 1000mm dengan berbagai jenis profil permukaan. Panjangnya biasanya hampir tidak terbatas, karena supplier material ini dapat langsung membawa mobil yang memuat roll material ke lokasi proyek.

Atap asbes, seng, aluminium, dan metaldeck mempunyai karakter yang hampir sama. Kelebihannya adalah biaya yang hemat dan beban konstruksi yang ringan. Tapi kelemahannya juga cukup banyak, yang pertama adalah aspek estetika. Asbes dan seng sudah terlanjur identik dengan rumah bagi golongan yang kurang mampu. Yang kedua adalah atap asbes dan seluruh atap dengan bahan dasar metal mempunyai sifat meneruskan radiasi panas matahari yang cukup besar pada ruangan di bawahnya. Kelemahan lain adalah bahan metal akan berisik apabila ditimpa hujan. Bahan asbes sendiri cukup banyak dihindari, karena partikelnya yang diduga bersifat karsinogenik, yaitu menyebabkan kanker. Untuk mengatasi kelemahan berbagai jenis atap lembaran ini, lahirlah jenis atap yang berbahan dasar bitumen selulose.

Selain itu saat ini juga sudah tersedia material serupa asbes gelombang asbestos free (partikel penyebab kanker) yang terbuat dari bahan fiber-cement. Kandungan semen dalam jenis material ini menimbulkan karakteristik material yang waterproof, kuat, dan memiliki insulasi panas yang cukup baik.

7. Atap Bitumen Selulose

Jenis material atap ini, terbuat dari fiber selulosa, bitumen, dan resin, memiliki berbagai kelebihan. Atap ini lentur, sehingga mudah dibentuk menyesuaikan bentuk atap, berbobot ringan sehingga tidak membebani konstruksi bangunan, insulasi panas yang baik karena karakteristik bahan penyusunnya, tidak bising ketika ditimpa hujan, dan memiliki variasi warna yang cukup banyak. Apakah ada kelemahannya? Tentu ada, yaitu relatif lebih mahal daripada jenis atap lembaran lainnya. Tersedia dalam lembaran dengan cetakan berbentuk seperti genteng atau asbes gelombang dengan berbagai warna.

Wah, ternyata banyak juga jenis-jenis bahan penutup atap ya ? Pada tulisan mendatang yang merupakan bagian terakhir dari ulasan bahan penutup atap ini akan kita bahas berbagai jenis bahan penutup atap yang paling populer digunakan. Anda tahu bahan apa itu? Ya, tepat sekali,… Genteng.

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip Semarang.

*) artikel ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Satu hal yang sama sekali tidak boleh ketinggalan ketika kita membahas suatu bangunan adalah atap. Ya, atap mempunyai dua fungsi utama yang sangat penting. Fungsi yang pertama adalah sebagai peneduh dan pelindung bangunan. Atap melindungi bangunan dari panas matahari dan hujan. Selain itu, atap mempunyai fungsi yang tidak kalah penting dalam aspek estetika. Atap seakan-akan berfungsi sebagai mahkota pada sebuah rumah. Atap adalah elemen bangunan utama yang akan menentukan perwajahan rumah Anda.

Pada rubrik ini, beberapa saat yang lalu kita sudah pernah membahas mengenai pemilihan bahan konstruksi atap, atau kuda-kuda. Nah, saat ini kita akan bahas komponen lain yang tidak kalah penting dalam struktur atap, yaitu bahan penutup atap.

Dalam memilih bahan penutup atap, pertimbangan utama adalah bentuk atap itu sendiri. Pemilihan bentuk atap sangat dipengaruhi oleh style arsitektural yang diinginkan. Misalnya, style modern dan minimalis akan lebih cocok dengan bentuk atap datar, atap dengan kemiringan rendah, atau atap berbentuk pelana. Atap dengan kemiringan sedang lebih netral dan bisa menyesuaikan dengan style arsitektural apapun. Sementara itu, atap pelana dengan kemiringan tajam akan sangat sesuai dengan style arsitektur tropis. Sedangkan atap berbentuk perisai akan sangat cocok dengan style arsitektur tradisional, vernakular, mediteran, dan bangunan bergaya formal.

Nah, setelah menentukan bentuk atap yang sesuai dengan style bangunan yang kita inginkan, ada beberapa pertimbangan yang lain dalam memilih material penutup atap yang sesuai :

  • Bahan penutup atap harus dapat bersifat isolasi yang cukup baik terhadap panas, dingin dan bunyi
  • Harus rapat terhadap air hujan / tidak tembus air.
  • Tidak mengalami perubahan bentuk karena adanya pergantian / perubahan cuaca
  • Tidak terlalu banyak memerlukan perawatan.
  • Tidak mudah terbakar
  • Bobotnya cukup ringan dan mempunyai kedudukan yang mantap setelah di pasang
  • Tahan lama

 

Selain itu, pertimbangan pemilihan bahan penutup atap juga tergantung pada sudut kemiringan atap. Karena material tertentu mensyaratkan sudut kemiringan atap tertentu, yang terkait dengan sistem pemasangan dan sambungannya :

  • Untuk atap yang berbentuk hampir datar (kemiringan 0-10 derajad), kita hanya mempunyai satu pilihan, yaitu menggunakan dak beton. Dak beton yang terlihat datar pun harus mempunyai kemiringan yang cukup (3-5%) supaya air bisa mengalir menuju saluran pembuangan. Kekuatan dak beton sangat bergantung pada saat proses pengecoran. Gunakan bahan campuran beton yang berkualitas baik, yaitu semen, pasir, dan kerikil, dengan perbandingan yang tepat (1 PC : 3 pasir : 5 kerikil). Pada saat proses pengeringan, dak beton tidak boleh kering terlalu cepat. Untuk itu biasanya dak beton yang habis dicor harus ditutup dengan karung basah dan disiram setiap hari. Dengan cara tersebut, proses pengeringan dan pengerasan beton akan terjadi secara kimiawi akibat bonding agent yang terkandung dalam material semen, dan bukan secara fisika akibat perubahan suhu. Bila dak beton terlalu cepat kering, maka akan terjadi retak-retak rambut yang sangat beresiko menimbulkan kebocoran di kemudian hari. Pembuatan atap dak beton haruslah sempurna dan ‘sekali jadi’, sekali saja terjadi kesalahan pada saat pengecoran atau pembuatan dak dan menimbulkan kebocoran, maka akan sangat sulit diatasi dengan metoda apapun. Untuk itu rencanakanlah dengan baik desain dak beton yang akan kita buat, sudut kemiringan, dan arah aliran air, serta saluran pembuangannya.
  • Untuk sudut atap yang kecil (kemiringan 10-25 derajad), gunakan bahan penutup atap yang berbentuk lembaran besar, misalnya seng, asbes, metaldeck (galvalume dan zincalume). Untuk tampilan yang lebih bagus dan insulasi bunyi dan panas yang lebih baik, Andabisa menggunakan bahan atap yang lain yang saat ini sedang ngetrend, yaitu yang berbahan dasar bitumen selulose. Bahan atap jenis ini banyak tersedia di pasaran dengan berbagai merek. Jangan pernah gunakan material genteng untuk sudut atap sekecil ini. Genteng mempunyai celah-celah yang cukup lebar pada sambungannya, sehingga pada sudut sekecil ini akan beresiko terjadi kebocoran karena tampias air hujan.
  • Untuk sudut kemiringan atap sedang (kemiringan 25 – 60 derajad, anda bebas untuk menggunakan material apapun sebagai bahan penutup atap. Sudut ini adalah sudut yang ‘aman’. Pertimbangan yang diambil dalam memilih jenis bahan penutup atap pada sudut kemiringan atap ini, murni berdasarkan estetika.
  • Untuk sudut kemiringan atap tajam (kemiringan 60 – 75 derajad), bahan yang dapat anda gunakan adalah sama dengan atap dengan sudut kemiringan kecil, yaitu asbes, metal deck atau metal sheet, seng, dan bitumen selulose. Anda juga bisa menggunakan sirap, baik sirap alami yang berbahan dasar kayu, ataupun sirap sintetis yang berbahan dasar fiber-cement. Seperti halnya pada sudut kemiringan atap yang kecil, pada sudut kemiringan tajam inipun, penggunaan genteng sangat tidak disarankan. Genteng tidak mempunyai mekanisme penggantung yang sesuai untuk sudut tajam tersebut, sehingga beresiko untuk jatuh atau melorot.
  • Untuk atap dengan bentuk hampir vertikal (75 – 90 derajad), pilihan kita sama seperti bentuk atap yang hampir datar, yaitu dak beton.

 

Demikian sudah kita bahas secara lengkap dan detail, berbagai pertimbangan dan alasan pada saat kita akan memilih bahan penutup atap. Nah , minggu depan akan kita bahas mengenai jenis-jenis material penutup atap itu sendiri beserta karakteristik masing-masing. Jangan sampai ketinggalan ya.

 

(sumber gambar : homeidb.com; interiorminimalis.net; gomallard.com; rumahalami.blogspot.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) Tulisan ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Image

 

Image

 

Image

Image

Image