Rumah di Hook

Lahan yang terletak di hook memang menarik. Lahan dengan posisi yang terletak di sudut persimpangan jalan ini selalu menjadi incaran pertama ketika seseorang hendak membeli kavling atau rumah dalam sebuah kompleks perumahan, walaupun harga rumah di hook dapat dipastikan akan lebih mahal daripada sebuah rumah dengan kavling standar. Selain karena tanahnya yang lebih luas, beberapa pengembang memang sengaja memasang harga lebih tinggi untuk kavling yang berada di hook tersebut karena peminatnya yang demikian banyak.

Sebenarnya, apa saja sih kelebihan suatu lahan atau rumah yang terletak di hoek ? Apakah tidak ada kelemahannya ? Nah, kita bahas tuntas di sini ya.

Kelebihan-kelebihan rumah yang ada di hook antara lain adalah :

  1. Lebih indah secara estetika. Bila Anda mempunyai sebuah rumah yang berada di posisi hoek, maka rumah Anda otomatis akan mempunyai dua fasad (muka rumah). Selain itu, rumah Anda akan dapat dinikmati secara visual dari banyak arah karena posisinya yang berada di persimpangan jalan.
  2. Lebih sehat. Rumah yang berada di hook akan memiliki lebih banyak bidang yang mempunyai akses langsung dengan cahaya matahari dan udara segar dibandingkan dengan bangunan yang posisinya dijepit oleh dua bangunan lain.
  3. Akses lebih banyak. Salah satu sisi lahan dapat menjadi akses utama, sementara sisi yang lain akan menjadi akses sekunder atau akses servis. Bila Anda mempunyai kendaraan lebih dari satu pun, Anda akan dapat membangun carport di sisi lahan yang lain.
  4. Harga jual kembali lebih tinggi. Tidak hanya harga belinya yang lebih tinggi, nilai rumah yang terletak di hook pun akan tetap mempunyai nilai jual kembali yang lebih tinggi karena keuntungan posisinya dan tanahnya yang lebih luas.

 

Nah, lalu apa sajakah kelemahan suatu lahan yang berada di hook ?

  1. Biaya lebih besar. Selain harga tanahnya yang lebih mahal, bangunan rumah yang berada di hook akan memerlukan biaya finishing yang lebih besar, karena rumah tersebut akan mempunyai dua muka yang harus difinishing. Hal tersebut akan memerlukan penambahan biaya sebesar 15-20% lebih banyak, dibandingkan dengan rumah yang terletak pada posisi non hook, dengan luas yang sama.
  2. Kualitas material finishing harus lebih baik. Secara umum, kualitas finishing eksterior suatu bangunan haruslah lebih baik dan lebih kuat daripada interior bangunan, karena bagian eksterior bangunan akan terekspose langsung kepada panas dan hujan. Cat misalnya, kita tahu bahwa harga cat untuk eksterior lebih mahal daripada cat untuk interior, karena cat eksterior mempunyai formula khusus yang lebih tahan terhadap panas dan kelembaban. Demikian halnya untuk acian dinding luar. Gunakan semen dengan kualitas yang baik dan teknik aplikasi yang tepat untuk mendapatkan hasil akhir dinding luar yang lebih kuat. Bila tidak, maka pada permukaan dinding akan banyak terdapat retak rambut. Karena rumah hook memiliki jumlah fasad yang lebih banyak, otomatis akan memakan biaya pembangunan lebih banyak.
  3. Faktor keamanan. Memiliki banyak akses memang memiliki banyak keuntungan, tetapi juga ada kelemahannya, yaitu faktor pengamanan. Pada kondisi ini terdapat dilema. Bila batas kavling kita buat tinggi dan tertutup maka akan menghilangkan aspek estetika. Sebaliknya, bila batas kavling kita buat terbuka untuk memaksimalkan estetika, maka faktor keamanan yang akan dikorbankan. Solusinya, terapkan pagar dengan material yang transparan secara visual, misalnya dengan pagar besi, tetapi dengan ketinggian dan pengamanan yang cukup. Dapat juga dibantu dengan teknologi pengawasan seperti cctv.
  4. Faktor Feng Shui kurang baik. Banyak pihak berpendapat, rumah yang berada di posisi hook memiliki feng shui yang kurang baik. Berdasarkan Feng shui, rumah yang terletak di sudut diibaratkan orang bertinju dengan posisi kepala dan dada terlalu terbuka sehingga memudahkan lawan mencari celah untuk memasukkan pukulan. Berdasarkan feng shui, rumah hook bisa membuat karir Anda tidak lancar, menyebabkan keributan dalam rumah tangga, dan lainnya. Selain itu, perhitungan dan pertimbangan yang rumit berdasarkan rumus feng shui, rumah hook atau sudut yang memiliki dua sisi juga seringkali dikaitkan dengan pemilik yang akan mempunyai dua istri atau dua suami, atau juga bisa dikaitkan dengan perceraian rumah tangga. Tetapi banyak juga ahli feng shui yang berpendapat bahwa apabila didesain dengan perhitungan feng shui yang tepat maka lahan hook akan dapat memberikan banyak keuntungan.

Nah, demikian pembahasan yang cukup lengkap mengenai rumah hook. Semoga akan lebih memantabkan niat Anda untuk berburu rumah di lahan hook.

(Sumber gambar : rumahminimalis.com; firdausreni.wordpress.com)

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip

artikel ini dimuat di rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Image

Image

Advertisements

Jendela Ideal

Secara pengertian, jendela adalah elemen dari suatu bangunan yang berfungsi untuk memasukkan cahaya alami dan sirkulasi udara dari dalam dan luar bangunan. Tetapi saat ini, manfaat jendela tidak sebatas aspek fungsional seperti telah disebutkan di atas, jendela sebuah bangunan, terutama rumah tinggal, juga berpengaruh besar terhadap aspek estetika dan prestige sebuah rumah. Ada banyak pertimbangan ketika kita memilih dan merencananakan jendela untuk rumah kita, antara lain aspek kekokohan, kekuatan, keamanan, kenyamanan ketika digunakan, perawatan, dan tidak lupa aspek ekonomi atau perhitungan biaya.

 

Pertimbangan pemilihan desain jendela

 

Selain aspek-aspek yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pertimbangan lain dalam merencanakan jendela, yaitu antara lain :

 

  1. Perencanaan denah bangunan. Hampir semua jenis ruangan memerlukan dan baik bila mempunyai jendela, tetapi keterbatasan lahan menyebabkan tidak semua ruangan bisa berbatasan langsung dengan ruang luar. Bila itu terjadi, utamakan jendela untuk ruang-ruang berikut ini :
  • ruang tidur
  • dapur
  • kamar mandi dalan bentuk boven.

 

  1. Fungsi Ruangan. ini adalah salah satu pertimbangan lain yang utama. Sesuaikan desain jendela dengan ruangan tempat jendela tersebut berada. Untuk Ruang Tidur misalnya, tidak perlu jendela dalam jumlah  yang terlalu banyak, cukup sediakan satu atau dua buah jendela dengan daun jendela tunggal atau ganda. Jumlah jendela yang terlalu banyak hanya akan mengurangi privasi yang diperlukan untuk sebuah ruang tidur. Lain halnya dengan dapur, ruang duduk, dan ruang keluarga. Pada jenis ruang-ruang tersebut, Anda boleh saja memasang jendela sebanyak mungkin dengan bukaan yang selebar mungkin. Dapur memerlukan sirkulasi udara yang cukup karena fungsinya sebagai tempat memasak yang menghasilkan bau dan asap. Ruang duduk dan ruang keluarga memerlukan view yang leluasa ke ruang luar untuk menimbulkan kesan nyaman dan santai. Untuk kamar mandi, biasanya jendela berbentuk boven dengan ketinggian yang cukup sehingga aman dan memiliki privasi.

 

  1. Arah hadap jendela. Sedapat mungkin hindari jendela lebar ke arah barat. Karena dari arah tersebut akan datang radiasi panas matahari dengan jumlah besar saat sore hari. Bagi sebagian orang, jendela di arah timur lebih disukai karena memasukkan cahaya matahari pagi yang belum terlalu panas, tetapi jauh lebih aman untuk meletakkan bukaan pada arah utara dan selatan, terutama untuk bukaan-bukaan yag berukuran jendela. Apabila karena keterbatasan dan kondisi lahan tidak memungkinkan untuk menghindari penggunaan jendela pada arah barat, gunakan shading untuk mengurangi radiasi dan panas matahari. Shading dapat berupa shading horizontal yang berada di atas jendela, ataupun berupa shading vertikal yang berada di sisi kiri dan kanan jendela. Dengan adanya shading, sinar matahari yang masuk ruangan akan berupa sinar matahari tidak langsung (pantulan) sehingga kita hanya akan memperoleh cahaya matahari, tetapi tidak memperoleh radiasi panasnya. Shading bisa terbuat dari beton dengan tulangan 8mm satu lapis. Perhatikan kualitas bahan pembuat campuran untuk beton shading seperti  pasir dan semen. Gunakan semen berkualitas baik untuk memperoleh hasil akhir shading yang kuat dan tidak retak, karena beton untuk topi-topi dan shading biasanya cukup dibuat setebal 8-10cm dan tanpa balok.

 

  1. Aspek Keamanan. Hindari penggunaan jendela dengan ukuran terlalu besar pada dinding yang langsung berhubungan dengan area luar bangunan. Karena semakin besar ukuran jendela atau bukaan akan semakin sulit pula aspek pengamanannya. Pengamanan jendela yang paling mudah dan paling sering dipergunakan adalah menggunakan teralis. Bila Anda menghendaki adanya bukaan sangat lebar untuk memperkuat kontinuitas ruang luar dan ruang dalam, boleh saja, tetapi lebih baik bila diterapkan pada bukaan ke arah halaman belakang yang masih terlindung oleh pagar atau ke arah taman dalam.

 

  1. Jenis material.  Untuk material frame jendela atau kusen, pilihan material yang paling umum tersedia adalah kayu dan aluminium. Kayu masih memiliki aspek estetika yang belum tergantikan, walaupun saat ini harga kayu yang benar-benar berkualitas baik sangat mahal. Saran saya, apabila dana terbatas, pertimbangkanlah menggunakan kusen aluminium daripada memaksakan menggunakan kusen kayu dengan kualitas yang kurang baik dan bermasalah akibat muai susut kayu yang besar. Selain tahan lapuk dan tahan rayap, kusen aluminium memiliki beberapa kelebihan, yaitu muai susut akibat cuaca relatif kecil dan tidak perlu finishing. Sedangkan untuk material jendela pada umumnya menggunakan kaca bening ataupun kaca rayban setebal 3 atau 5 atau 6 mm. Untuk jendela atau bukaan yang tanpa frame atau tanpa kusen, haruslah menggunakan kaca tempered dengan tebal minimal 8mm yang jauh berharga jauh lebih mahal. Apabila kaca bening atau rayban setebal 5mm dapat diperoleh dengan harga Rp.80.000 s/d Rp.100.000,- per m2, untuk kaca tempered 8mm kita harus menyediakan anggaran sebesar Rp.350.000,- per m2 dan Rp. 550.000,- per m2 untuk kaca tempered setebal 10mm.  Sebagai solusi untuk mengurangi radiasi dan panas matahari untuk jendela-jendela yang menghadap barat adalah dengan menggunakan kaca khusus anti uv yang akan memantulkan sebagian besar radiasi panas matahari seperti yang dipergunakan pada bangunan tinggi. Alternatif lain adalah menggunakan glass block. Glass block memiliki rongga udara di tengahnya yang dapat berfungsi sebagai insulasi panas. Glass block dapat dipasang langsung dengan menggunakan campuran semen biasa dan air.

 

  1. Ukuran dan desain Jendela. Tinggi ambang atas jendela biasanya sama dengan tinggi ambang atas pintu, yaitu antara 210-220cm dari muka lantai. Pada bagian atasnya bisa ditambahkan dengan boven dengan kusen yang menyatu dengan daun jendela, atau ventilasi yang terpisah dengan menggunakan loster. Tidak ada ketentuan yang khusus untuk batas ambang bawah suatu jendela. Pada ruang  keluarga dan ruang duduk silahkan saja bila ingin membuat jendela yang menerus ke bawah hingga hampir mencapai lantai, tetapi pada ruang tidur anak, ruang belajar, dan ruang kerja, dan dapur, sebaiknya ambang bawah jendela setinggi lebih 80cm dari lantai. 80 cm adalah tinggi furniture dan bidang kerja pada umumnya. Sehingga ketinggian ambang bawah jendela yang lebih tinggi dari 80cm akan memudahkan anda untuk mengatur dan mengubah-ubah lay out perabot pada ruang-ruang dengan fungsi di atas. Anda akan dapat menempatkan credenza, meja kerja atau meja belajar, bahkan tempat tidur persis di samping jendela. Untuk lebar jendela tidak ada patokan yang pasti, umumnya sekitar 60cm s/d 80cm untuk setiap daunnya.

 

Demikian, banyak pertimbangan yang telah kita bahas untuk merencanakan jendela di rumah kita. Dengan perencanaan yang matang, kita tidak akan hanya memperoleh bukaan yang bermanfaat secara fungsional, tetapi juga akan menambah aspek estetika bagi rumah kita.

 

 

(sumber gambar : tiperumahminimalis.blogspot.com; inkivaari.blogspot.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur , FT Universitas Diponegoro

 

Image
ImageImage

Image

Kamar Mandi di Ruang Sempit

Sesempit apapun rumah kita, seterbatas apapun space yang kita miliki, ada satu fungsi ruang dalam suatu rumah tinggal yang sangat vital dan tidak boleh dihilangkan. Anda pasti bisa menebak fungsi ruang apakah itu? Anda betul, Kamar Mandi.

Kamar mandi mempunyai 3 fungsi utama, yaitu untuk membersihkan diri (mandi), sekresi (melepas hajat), dan relaksasi. Terkadang ada di antara kita, terutama kaum hawa, yang merasa nyaman dan ingin  berlama-lama ketika berendam di bath up di kamar mandi. Untuk itu, perlu disiasati bagaimana dengan ruang yang terbatas, tetapi kita dapat mempunyai sebuah kamar mandi yang fungsional, lengkap, dan nyaman.

Jenis Kamar Mandi

Berdasarkan penggunaan airnya, kamar mandi dibedakan menjadi

  1. Kamar Mandi Basah. Pada kamar mandi basah, biasanya terdapat bak air yang selalu berisi air. Disebut kamar mandi basah, karena lantai kamar mandi jenis ini selalu basah terpercik oleh air.
  2. Kamar Mandi Kering. Kerepotan membersihkan bak air secara berkala menjadi alasan dipilihnya kamar mandi jenis ini. Bak air digantikan dengan shower atau bath up yang memiliki pemisah berupa partisi atau tirai dari area kamar mandi yang lain.

 

Persyaratan Kamar Mandi

 

Secara umum, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi supaya kamar mandi Anda tetap sehat, kering, dan tidak lembab, yaitu :

 

  1. Memperoleh sinar matahari langsung. Masuknya sinar matahari yang cukup akan membuat kamar mandi lebih cepat kering secara alami sehingga jamur, lumut, kuman, dan bakteri tidak dapat berkembang biak Untuk itu lokasi kamar mandi yang terbaik adalah yang berada di pinggir, sehingga bisa mempunyai akses langsung terhadap cahaya alami. Anda bisa memasukkan sinar matahari dengan menggunakan boven dengan kaca es, atau glassblock. Bila karena pertimbangan tertentu Anda terpaksa meletakkan kamar mandi di area tengah, Anda bisa memasukkan cahaya matahari menggunakan genteng kaca. Tentu saja bagian plafond di bawah genteng kaca tersebut harus menggunakan kaca es juga untuk meneruskan cahaya.

 

  1. Adanya sirkulasi udara. Adanya ventilasi langsung akan mengurangi kelembaban kamar mandi anda. Serkulasi udara segar dapat anda peroleh dengan penggunakan boven atau loster. Seperti halnya dengan akses terhadap cahaya matahari di atas, akses terhadap ventilasi langsung adalah syarat mutlak sebuah kamar mandi yang sehat. Apabila tidak dimungkinkan, gunakan exhaust fan yang terhubung otomatis dengan sakelar lampu. Pembuangan dari exhaust fan bisa diarahkan ke atas ke ruangan di atas plafond.

 

  1. Tempatkan vegetasi. Hal  ini bisa dilakukan untuk menambah kesegaran di area Kamar Mandi. Anda bisa memilih tanaman sirih, yang tidak hanya cantik bentuk daunnya tapi juga di kenal dapat menyerap polutan di area sekitar.

 

Selain hal-hal di atas, ada beberapa aspek teknis lainnya yang harus diperhatikan pada perencanaan kamar mandi :

  • Kemiringan lantai yang tepat. Untuk mempercepat keringnya lantai, lantai kamar mandi harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan (floor drain). Apabila kemiringan kurang maka lantai akan lebih lama kering, apabila kemiringan lantai berlebihan juga akan mengurangi kenyamanan pengguna. Cukup berikan selisih 2-3 cm antara level lantai dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Gunakan campuran pasir dan semen sebagai pembentuk kemiringan pada saat pemasangan keramik lantai.
  • Untuk menghindari terjadinya kebocoran, perhatikan betul kualitas material pasir dan semen pada saat pembuatan pasangan untuk pembuatan bak air, pemasangan keramik dinding, dan pemasangan keramik lantai pada kamar mandi yang terletak di lantai atas. Pembuatan hal-hal tersebut sebaiknya ‘sekali jadi’. Karena, apabila terjadi kebocoran akan sangat sulit penangangannya.

 

Trik membuat kamar mandi terasa luas

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membuat kamar mandi yang sempit terasa lebih lapang, antara lain :

  1. Pilihlah jenis kamar mandi kering. Hilangnya bak mandi yang digantikan oleh shower akan memberikan ruang yang terasa cukup lapang.
  2. Gunakan cermin. Selain fungsinya untuk merapikan diri sebelum keluar dari kamar mandi, cermin memiliki efek untuk membuat kamar mandi terasa jauh lebih lapang.
  3. Pilih ukuran bath up yang cukup. Biasanya orang menggunakan bath up dalam posisi duduk tegak. Untuk itu, tidak perlu menggunakan bath up yang terlalu besar atau panjang. Pilihlah bath up sepanjang 1,5m sehingga masih cukup banyak ruang yang tersisa untuk sanitair yang lain.
  4. Manfaatkan sudut ruang. Sudut ruang bisa dipergunakan untuk meletakkan wastafel ataupun closet.
  5. Gunakan wastafel jenis gantung. Wastafel jenis ini akan lebih hemat tempat bila dibandingkan dengan wastafel dengan kabinet. Bila tempat yang Anda punyai benar-benar terbatas, pilihlah wastafel yang berukuran kecil.
  6. Gunakan kabinet yang tertanam sebagian di dalam dinding untuk penyimpanan berbagai alat mandi dan kosmetik.
  7. Terakhir, gunakanlah keramik dengan motif polos. Penggunaan keramik dengan motif yang ramai akan membuat ruangan terasa lebih sempit. Untuk mempercerah suasana, anda bisa memadupadankan berbagai keramik polos dengan berbagai warna, misal sebagai border.

Nah, sekarang Anda sudah siap untuk mewujudkan kamar mandi idaman Anda.

(sumber gambar : gambarrumah.com; kabar 24.com; mobilesolusiproperti.com)

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) tulisan ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

ImageImageImageImageImage

Bahan Penutup Atap (bagian 3)

Pada bagian kedua yang lalu sudah kita bahas berbagai jenis bahan penutup atap, termasuk kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis material. Nah saat ini, akan kita bahas bahan penutup atap yang paling banyak digunakan. Apakah itu? Ya Anda betul, genteng jawabnya.

Genteng dengan bahan dasar tanah liat, ternyata telah dikenal di Cina dan Timur Tengah, sejak sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. Dari kedua wilayah ini, barulah genteng menyebar luas ke seluruh Asia dan Eropa. Barulah pendatang dari Eropa mengenalkan material ini ke Amerika pada abad ke-17.

Indonesia sudah mengenal material tanah liat sebelum abad ke-19, Tetapi perkembangan genteng secara pesat di Indonesia dimulai pada tahun 1920 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Balai Keramik di Bandung dan melakukan penelitian mengenai daerah-daerah yang memiliki bahan tanah liat yang bagus untuk dibuat genteng, antara lain daerah Plered, Banyuwangi, dan Kebumen. Penggunaan genteng digalakkan oleh pemerintah Hindia Belanda antara lain untuk memerangi wabah pes yang timbul pada saat itu dengan media penularan tikus yang banyak bersarang di atap rumbia yang masih banyak dipergunakan pada masa tersebut.

Hingga saat ini, genteng masihlah merupakan bahan penutup atap favorit yang paling banyak dipergunakan, karena secara umum, genteng memiliki banyak kelebihan :

  • kuat
  • cara pemasangan dan perbaikan mudah
  • insulasi panas yang baik
  • relatif tahan terhadap api

 

Secara umum, jenis-jenis genteng yang terdapat di pasaran adalah :

 

1. Genteng tanah liat

Genteng jenis ini banyak dibuat secara tradisional. Dibuat dari bahan tanah liat, dicetak, dan dibakar pada tungku tradisional. Karena proses pembuatannya dilakukan secara tradisional, genteng ini hanya memiliki kekuatan, kepresisian, dan kerapihan yang cukup. Biasanya terdapat dua jenis, ukuran yang kecil dengan kebutuhan 24 bh/m2, dengan harga Rp.750 s/d 950 per buah.  Ukuran yang lebih besar dengan kebutuhan 19 bh/m2, dengan harga Rp. 1500 per buah. Genteng jenis ini dicetak dengan berbagai bentuk sesuai khas daerah produksi masing-masing, dengan nama yang berbeda-beda, yaitu genteng kodok, genteng plentong/manthili, genteng garuda, genteng paris, dll. Untuk finishing tersedia dalam pilihan natural dan glazuur transparan. Glazuur adalah sejenis coating untuk menutup pori-pori genteng dan memberikan tampilan lebih mengkilap.

 

2. Genteng keramik

Yang disebut dengan genteng keramik, sebenarnya memiliki bahan yang sama dengan genteng tradisional, yaitu dari tanah liat. Tetapi material tanah liat pada genteng keramik disortir, dicetak, dan dipress dengan peralatan modern di pabrik besar, sehingga memiliki kekuatan, kepresisian, dan kerapihan yang tinggi. Proses pemanasan juga dilakukan hingga suhu 1200 derajad celcius, sehingga tanah liat berubah menjadi sangat keras menyerupai keramik lantai. Pilihan warna dan finishing glazuur pada genteng keramik juga jauh lebih beragam dan halus, karena dilakukan secara mekanis dengan peralatan modern. Tidak heran, harganya pun juga lebih mahal daripada genteng tradisional. Diperlukan 13-14 buah genteng / m2, dengan harga Rp.7.800 s/d Rp.8.0000 per buah. Jenis-jenis genteng keramik biasa dinamai sesuai dengan nama pabrikan masing-masing.

 

3. Genteng Beton

Genteng beton terbuat dari pasir, semen, dan Fly Ash, yang dicampur dengan air dan dicetak, lalu dikeringkan. Kekuatan genteng beton tentu dipengaruhi oleh kebersihan dan ukuran butiran pasir yang dipergunakan, serta semen sebagai bonding agent. Fly ash dibutuhkan sebagai filler untuk mengisi celah-celah di antara butiran pasir, sehingga didapatkan genteng yang lebih padat dan kuat. Genteng beton banyak terdapat di pasaran pada dua jenis bentuk. Yang pertama adalah genteng beton gelombang dan genteng beton flat. Daya tutup keduanya hampir sama, yaitu 11 buah genteng per m2 dengan harga Rp.3800 s/d Rp.4000 per buah.  Dibandingkan dengan genteng keramik, genteng beton memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihannya adalah lebih kuat dan lebih ekonomis, sementara kelamahannya adalah bobotnya yang berat sehingga membebani struktur. Finishing genteng beton biasanya dilakukan dengan cat.

 

4. Genteng Metal

Sesuai namanya, genteng metal terbuat dari lembaran metal yang dipress sehingga mempunyai pola seperti genteng. Dalam satu modul genteng metal, biasanya terdapat 2×5 pola cetakan genteng. Untuk menghilangkan permukaan metal yang mengkilap dan mengurangi daya hantar panas serta kebisingan pada waktu hujan, permukaan bagian atas genteng metal dilapisi dengan butiran pasir dan aspal yang direkatkan. Kemudian difinishing dengan cat di pabrik. Kelebihan genteng metal ini adalah bobotnya yang sangat ringan sehingga menghemat struktur, serta ukurannya yang besar sehingga mempercepat proses pemasangan. Kelemahannya adalah kemampuan insulasi panas dan kebisingan yang ditimbulkan pada waktu hujan, yang bagaimanapun juga masih belum sebaik genteng keramik dan genteng beton.

 

Atap rumah sebagai bagian bangunan yang langsung terkena panas dan hujan tentu memerlukan perlindungan terhadap jamur. Biasanya perlindungan dilakukan dengan aplikasi cat genteng yang banyak tersedia dalam berbagai merek dan harga di pasaran. Cat genteng ini berbahan dasar air, tetapi setelah mengering akan membentuk lapisan sintetis yang kedap air. Untuk genteng yang sudah ber-glazuur, sangat tidak direkomendasikan pengaplikasian cat genteng. Selain tidak perlu karena glazuur sendiri sudah merupakan perlindungan yang sangat bagus terhadap jamur, cat yang diaplikasikan tidak akan dapat menempel dengan baik karena pori-pori material sudah tertutup oleh glazuur.

 

Nah, supaya rumah Anda jadi ganteng, pilihlah genteng yang tepat 🙂

 

(sumber gambar : forum.bebas.com; garudamandorayup.bp.com; dinomarket.com; infoarsitek.com; kaskus.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) artikel ini dimuat di rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

ImageImageImageImage

Bahan Penutup Atap (bagian 2)

Setelah pada tulisan bagian pertama yang lalu kita bahas tuntas alasan-alasan yang melatarbelakangi pemilihan berbagai bahan atap, pada tulisan ini akan kita ulas mengenai berbagai jenis bahan penutup atap itu sendiri. Langsung saja kita bahas satu persatu ya…

1. Atap ijuk dan alang-alang

Kalau Anda pernah ke Bali, pasti akan sangat familiar dengan bahan atap ijuk yang diigunakan pada arsitektur tradisional Bali. Boleh saja Anda gunakan jenis atap ini apabila ingin membuat bangunan dengan nuansa tradisional atau vernakular. Atap ijuk dibuat dari serabut palem aren. Ijuk digunakan sebagai bahan penutup atap dengan dibentuk ikatan sepanjang 120cm dan diameter 6cm. Ikatan tersebut dijepit dengan bilah bambu, lalu diikatkan ke reng. Lapisan ijuk minimal 2 lapis, semakin tebal lapisannya akan semakin lama daya tahannya. Atap ijuk dengan kualitas yang baik bisa mencapai umur hingga 30 tahun.

2. Atap Rumbia

Atap Rumbia terbuat dari helai daun rumbia yang dirangkaikan hingga berbentuk sisir lalu diikat pada sebatang tongkat atau bambu yang berfungsi sebagai reng setiap 20 cm. Atap rumbia hanya memiliki daya tahan sekitar 3-4 tahun.

Baik atap ijuk dan alang-alang mempunyai kelebihan terutama pada aspek estetika dan nuansa tradisionalnya. Kelemahannya adalah ketersediaan bahan dengan kualitas yang baik di pasaran, sistem pemasangan yang sedikit rumit, dan umur yang relatif pendek (untuk bahan atap rumbia).

3. Atap Sirap.

Sirap yang tersedia di pasaran terbuat dari 2 jenis bahan. Sirap alami yang berbahan dasar kayu dan sirap buatan yang berbahan dasar fiber-cement. Sirap kayu terbuat dari kayu kelas awet yang berserat lurus, bebas dari mata kayu dan retak. Terdapat sirap kayu kecil dengan panjang 50-60cm, lebar 7-10cm, tebal 1-3cm, dan sirap kayu besar yang berbentuk seperti papan dengan panjang 40-93cm, lebar 10-47cm, tebal 3-5mm. Sedangkan sirap buatan dari bahan fiber-cement tersedia dalam ukuran yang bermacam-macam. Cara pemasangan sirap alami dan sirap buatan hampir sama. Sirap dipasang selang-seling sebanyak 2,3, atau 4 lapis dengan dipaku pada reng. Terdapat juga sirap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah, lalu dipotong sepanjang 40cm dan diruncingkan ujungnya. Atap sirap banyak dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan style kolonial. Selain itu, seperti telah dibahas pada bagian pertama, atap sirap mempunyai kelebihan bisa dipasang pada atap dengan sudut yang hampir mendekati vertikal. Kekurangannya adalah pada aspek biaya. Atap sirap alami cukup mahal karena harus terbuat dari kayu dengan kualitas baik.

4. Atap Asbes

Asbes sering digunakan untuk bangunan berbiaya rendah. Tidak hanya karena harga materialnya yang murah. Atap asbes juga memerlukan rangka atap yang lebih jarang. Asbes langsung dipasang pada gording, sehingga tidak memerlukan usuk dan reng.

Asbes tersedia dalam 2 jenis, yaitu asbes gelombang besar dan asbes gelombang kecil. Untuk asbes gelombang besar, ukuran yang tersedia adalah panjang 100, 125, 150, 180, 210, 240, 270, 300cm, dengan lebar 108cm. Untuk asbes gelombang besar, overlap sambungan di ujung adalah 25cm, dan 8 cm di bagian tepi. Untuk asbes gelombang kecil, ukuran yang tersedia adalah 150, 180, 210, 240, 270, 300cm dengan lebar 105cm. Untuk asbes gelombang kecil, overlap sambungan di ujung adalah 25cm dan 7,5cm di bagian tepi.

5. Atap Seng dan Aluminium Gelombang

Atap seng gelombang tersedia dalam ukuran 183 x 76cm, sedangkan atap aluminium gelombang tersedia dalam ukuran 200 x 83,6cm dengan tebal 0.5, 0.7, 0.8, atau 1.0 mm. Ketika dipasang memerlukan overlap sebesar 20cm pada bagian panjang, dan 11,4 cm pada bagian tepi.

6. Atap Metaldeck

Atap jenis ini mempunyai banyak nama alias d pasaran, yaitu spandek, bondek, trimdek, kliplok, hingga galvalum dan zincalume yang sebetulnya lebih ke arah nama jenis material penyusunnya. Atap metal deck ini biasa dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan bentang atap lebar, misalnya pabrik, swalayan, dll. Tersedia dalam lebar 600mm s/d 1000mm dengan berbagai jenis profil permukaan. Panjangnya biasanya hampir tidak terbatas, karena supplier material ini dapat langsung membawa mobil yang memuat roll material ke lokasi proyek.

Atap asbes, seng, aluminium, dan metaldeck mempunyai karakter yang hampir sama. Kelebihannya adalah biaya yang hemat dan beban konstruksi yang ringan. Tapi kelemahannya juga cukup banyak, yang pertama adalah aspek estetika. Asbes dan seng sudah terlanjur identik dengan rumah bagi golongan yang kurang mampu. Yang kedua adalah atap asbes dan seluruh atap dengan bahan dasar metal mempunyai sifat meneruskan radiasi panas matahari yang cukup besar pada ruangan di bawahnya. Kelemahan lain adalah bahan metal akan berisik apabila ditimpa hujan. Bahan asbes sendiri cukup banyak dihindari, karena partikelnya yang diduga bersifat karsinogenik, yaitu menyebabkan kanker. Untuk mengatasi kelemahan berbagai jenis atap lembaran ini, lahirlah jenis atap yang berbahan dasar bitumen selulose.

Selain itu saat ini juga sudah tersedia material serupa asbes gelombang asbestos free (partikel penyebab kanker) yang terbuat dari bahan fiber-cement. Kandungan semen dalam jenis material ini menimbulkan karakteristik material yang waterproof, kuat, dan memiliki insulasi panas yang cukup baik.

7. Atap Bitumen Selulose

Jenis material atap ini, terbuat dari fiber selulosa, bitumen, dan resin, memiliki berbagai kelebihan. Atap ini lentur, sehingga mudah dibentuk menyesuaikan bentuk atap, berbobot ringan sehingga tidak membebani konstruksi bangunan, insulasi panas yang baik karena karakteristik bahan penyusunnya, tidak bising ketika ditimpa hujan, dan memiliki variasi warna yang cukup banyak. Apakah ada kelemahannya? Tentu ada, yaitu relatif lebih mahal daripada jenis atap lembaran lainnya. Tersedia dalam lembaran dengan cetakan berbentuk seperti genteng atau asbes gelombang dengan berbagai warna.

Wah, ternyata banyak juga jenis-jenis bahan penutup atap ya ? Pada tulisan mendatang yang merupakan bagian terakhir dari ulasan bahan penutup atap ini akan kita bahas berbagai jenis bahan penutup atap yang paling populer digunakan. Anda tahu bahan apa itu? Ya, tepat sekali,… Genteng.

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip Semarang.

*) artikel ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Satu hal yang sama sekali tidak boleh ketinggalan ketika kita membahas suatu bangunan adalah atap. Ya, atap mempunyai dua fungsi utama yang sangat penting. Fungsi yang pertama adalah sebagai peneduh dan pelindung bangunan. Atap melindungi bangunan dari panas matahari dan hujan. Selain itu, atap mempunyai fungsi yang tidak kalah penting dalam aspek estetika. Atap seakan-akan berfungsi sebagai mahkota pada sebuah rumah. Atap adalah elemen bangunan utama yang akan menentukan perwajahan rumah Anda.

Pada rubrik ini, beberapa saat yang lalu kita sudah pernah membahas mengenai pemilihan bahan konstruksi atap, atau kuda-kuda. Nah, saat ini kita akan bahas komponen lain yang tidak kalah penting dalam struktur atap, yaitu bahan penutup atap.

Dalam memilih bahan penutup atap, pertimbangan utama adalah bentuk atap itu sendiri. Pemilihan bentuk atap sangat dipengaruhi oleh style arsitektural yang diinginkan. Misalnya, style modern dan minimalis akan lebih cocok dengan bentuk atap datar, atap dengan kemiringan rendah, atau atap berbentuk pelana. Atap dengan kemiringan sedang lebih netral dan bisa menyesuaikan dengan style arsitektural apapun. Sementara itu, atap pelana dengan kemiringan tajam akan sangat sesuai dengan style arsitektur tropis. Sedangkan atap berbentuk perisai akan sangat cocok dengan style arsitektur tradisional, vernakular, mediteran, dan bangunan bergaya formal.

Nah, setelah menentukan bentuk atap yang sesuai dengan style bangunan yang kita inginkan, ada beberapa pertimbangan yang lain dalam memilih material penutup atap yang sesuai :

  • Bahan penutup atap harus dapat bersifat isolasi yang cukup baik terhadap panas, dingin dan bunyi
  • Harus rapat terhadap air hujan / tidak tembus air.
  • Tidak mengalami perubahan bentuk karena adanya pergantian / perubahan cuaca
  • Tidak terlalu banyak memerlukan perawatan.
  • Tidak mudah terbakar
  • Bobotnya cukup ringan dan mempunyai kedudukan yang mantap setelah di pasang
  • Tahan lama

 

Selain itu, pertimbangan pemilihan bahan penutup atap juga tergantung pada sudut kemiringan atap. Karena material tertentu mensyaratkan sudut kemiringan atap tertentu, yang terkait dengan sistem pemasangan dan sambungannya :

  • Untuk atap yang berbentuk hampir datar (kemiringan 0-10 derajad), kita hanya mempunyai satu pilihan, yaitu menggunakan dak beton. Dak beton yang terlihat datar pun harus mempunyai kemiringan yang cukup (3-5%) supaya air bisa mengalir menuju saluran pembuangan. Kekuatan dak beton sangat bergantung pada saat proses pengecoran. Gunakan bahan campuran beton yang berkualitas baik, yaitu semen, pasir, dan kerikil, dengan perbandingan yang tepat (1 PC : 3 pasir : 5 kerikil). Pada saat proses pengeringan, dak beton tidak boleh kering terlalu cepat. Untuk itu biasanya dak beton yang habis dicor harus ditutup dengan karung basah dan disiram setiap hari. Dengan cara tersebut, proses pengeringan dan pengerasan beton akan terjadi secara kimiawi akibat bonding agent yang terkandung dalam material semen, dan bukan secara fisika akibat perubahan suhu. Bila dak beton terlalu cepat kering, maka akan terjadi retak-retak rambut yang sangat beresiko menimbulkan kebocoran di kemudian hari. Pembuatan atap dak beton haruslah sempurna dan ‘sekali jadi’, sekali saja terjadi kesalahan pada saat pengecoran atau pembuatan dak dan menimbulkan kebocoran, maka akan sangat sulit diatasi dengan metoda apapun. Untuk itu rencanakanlah dengan baik desain dak beton yang akan kita buat, sudut kemiringan, dan arah aliran air, serta saluran pembuangannya.
  • Untuk sudut atap yang kecil (kemiringan 10-25 derajad), gunakan bahan penutup atap yang berbentuk lembaran besar, misalnya seng, asbes, metaldeck (galvalume dan zincalume). Untuk tampilan yang lebih bagus dan insulasi bunyi dan panas yang lebih baik, Andabisa menggunakan bahan atap yang lain yang saat ini sedang ngetrend, yaitu yang berbahan dasar bitumen selulose. Bahan atap jenis ini banyak tersedia di pasaran dengan berbagai merek. Jangan pernah gunakan material genteng untuk sudut atap sekecil ini. Genteng mempunyai celah-celah yang cukup lebar pada sambungannya, sehingga pada sudut sekecil ini akan beresiko terjadi kebocoran karena tampias air hujan.
  • Untuk sudut kemiringan atap sedang (kemiringan 25 – 60 derajad, anda bebas untuk menggunakan material apapun sebagai bahan penutup atap. Sudut ini adalah sudut yang ‘aman’. Pertimbangan yang diambil dalam memilih jenis bahan penutup atap pada sudut kemiringan atap ini, murni berdasarkan estetika.
  • Untuk sudut kemiringan atap tajam (kemiringan 60 – 75 derajad), bahan yang dapat anda gunakan adalah sama dengan atap dengan sudut kemiringan kecil, yaitu asbes, metal deck atau metal sheet, seng, dan bitumen selulose. Anda juga bisa menggunakan sirap, baik sirap alami yang berbahan dasar kayu, ataupun sirap sintetis yang berbahan dasar fiber-cement. Seperti halnya pada sudut kemiringan atap yang kecil, pada sudut kemiringan tajam inipun, penggunaan genteng sangat tidak disarankan. Genteng tidak mempunyai mekanisme penggantung yang sesuai untuk sudut tajam tersebut, sehingga beresiko untuk jatuh atau melorot.
  • Untuk atap dengan bentuk hampir vertikal (75 – 90 derajad), pilihan kita sama seperti bentuk atap yang hampir datar, yaitu dak beton.

 

Demikian sudah kita bahas secara lengkap dan detail, berbagai pertimbangan dan alasan pada saat kita akan memilih bahan penutup atap. Nah , minggu depan akan kita bahas mengenai jenis-jenis material penutup atap itu sendiri beserta karakteristik masing-masing. Jangan sampai ketinggalan ya.

 

(sumber gambar : homeidb.com; interiorminimalis.net; gomallard.com; rumahalami.blogspot.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) Tulisan ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Image

 

Image

 

Image

Image

Image

Ventilasi Alami

Kenyamanan termal adalah suatu kondisi yang dialami oleh manusia akibat pengaruh dari lingkungannya. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban udara. Pada sebuah rumah tinggal, ketiga hal tersebut dapat dikondisikan dengan dua macam cara, yaitu secara alami dan buatan. Dengan desain pengkondisian udara alami yang tepat, maka sebetulnya kita tidak memerlukan AC di rumah. Dengan adanya ventilasi alami akan diperoleh kenyamanan termal dan kenyamanan udara. Kenyamanan udara adalah tersedianya udara yang segar, bersih dan tidak berbau.

Sebelum mulai merancang suatu bangunan, terutama rumah tinggal, sebaiknya sudah dinentukan terlebih dahulu sistem ventilasi utama yang akan digunakan. Apakah ventilasi alami atau ventilasi buatan. Karena hasil desain bangunan untuk kedua jenis sistem pengkondisian udara tersebut bisa sangat berbeda satu sama lain.

Hal-hal apa sajakah yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan pengkondisian udara di dalam rumah secara alami ?

1. Orientasi Bangunan.

Radiasi matahari adalah penyebab utama tingginya suhu di dalam rumah. Sebisa mungkin hindari banyak bukaan di arah timur dan barat. Apabila tidak bisa dihindari, bisa diupayakan adanya barrier terhadap radiasi panas matahari, terutama matahari sore di arah barat. Barrier bisa berupa tanaman atau vegetasi, atau elemen bangunan berupa sun shading. Sun shading berupa elemen vertikal (sirip) atau elemen horizontal (topi-topi/over hang).

2. Perbanyak bukaan.

Bukaan atau ventilasi udara yang dianjurkan adalah paling tidak sebesar 15% dari luas lantai bangunan.

3. Atur letak bukaan.

Ventilasi udara haruslah berada di kedua sisi bangunan atau ruangan. Tidak akan banyak manfaatnya apabila bukaan hanya berada di salah satu sisi bangunan.  Udara luar tidak akan bisa masuk ke dalam rumah bila tidak ada lubang yang lain untuk jalan keluar udara. Jadi, harus dihindari memanfaatkan seluruh kavling hingga ke belakang. Sisakan sedikit bagian kavling di belakang rumah yang terbuka hingga ke atas, supaya terjadi ventilasi silang. Dalam satu ruangan pun, sebaiknya, jendela/bukaan tidak berada pada sisi yang sama. Misalkan suatu bidang dinding mempunyai jendela di sisi sebelah kiri, sebaiknya bidang dinding yang berseberangan mempunyai jendela di sisi kanan. Dengan konfigurasi seperti ini, diharapkan seluruh bagian rumah/ ruangan akan tersentuh oleh aliran udara.

Jenis-Jenis Ventilasi Alami.

Menurut cara membukanya, ventilasi alami ada 2 macam. Yaitu ventilasi alami yang terbuka permanen, ataupun ventilasi alami temporer yang dapat dibuka dan ditutup. Sebaiknya, sebuah rumah mempunyai keduanya. Ventilasi permanen untuk menjamin pertukaran udara minimal setiap hari, ventilasi temporer untuk difungsikan apabila memerlukan kondisi penghawaan yang lebih baik, misalnya ketika jumlah penghuni rumah sedang banyak, atau ketika cuaca sangat panas. Nah lalu apa saja jenis-jenis ventilasi alami, baik permanen ataupun temporer ?

  1. Jendela biasa.
  2. Jendela boven. Boven biasanya berada di atas kusen, bisa menjadi satu atau terpisah. Boven ada beberapa macam, ada boven yang mempunyai daun seperti jendela biasa, ada boven yang diisi dengan 2 bilah kaca yang menyisakan celah udara di antaranya seperti yang banyak dipakai di kamar mandi, atau boven yang yang diisi dengan ram kayu. Ram kayu berguna untuk faktor keamanan, yaitu supaya tidak ada orang yang bisa menerobos masuk melalui lubang boven.
  3. Jalusi/krepyak. Adalah bilah-bilah kayu yang terpasang permanen di kusen. Celah-celah di antara bilah-bilah inilah yang akan menjadi lubang untuk aliran udara alami.
  4. kaca naco. Kaca naco adalah jendela yang kacanya dibagi menjadi beberapa segmen dan mempunyai mekanisme yang bisa digerakkan membuka dan menutup. Kaca naco mempunyai kelemahan berupa faktor keamanan yang tidak terlalu baik. Selain itu, kaca naco termasuk kurang ekonomis.
  5. Loster. Loster adalah sebutan untuk ornamen yang mengisi lubang ventilasi di dinding. Kegunaan loster sama seperti ram, yaitu untuk memperkecil ukuran lubang karena faktor keamanan. Loster sendiri terbuat dari berbagai macam bahan :
  • Loster kayu. Seperti halnya kusen, loster kayu memerlukan finishing. Finishing loster kayu bisa mempergunakan cat kayu, politur, atau melamin.
  • Loster beton. Biasanya berharga paling murah. Loster beton pun mempunyai kualitas yang bermacam-macam. Ada yang halus, ada yang kasar. Ada yang mempunyai satu sisi, ada yang mempunyai 2 sisi. Loster beton terbuat dari campuran semen, air, dan pasir yang dipress. Kekuatan loster beton tentu tergantung kekuatan dan banyaknya semen yang menjadi campurannya. Finishing loster beton biasanya hanya menggunakan cat tembok biasa.
  • Loster keramik. Loster keramik cocok bagi rumah yang bergaya unik dan etnik. Loster keramik tidak memerlukan finishing lagi.
  • Loster tanpa pengisi. Ada juga loster yang hanya merupakan lubang di tembok saja, dan tidak diisi dengan bahan pengisi apapun. Syaratnya adalah lubang tersebut tidak mempunyai lebar lebih dari 15 cm. Pertimbangannya adalah faktor keamanan.

Dengan memaksimalkan penggunaan ventilasi alami, kita paling tidak akan mengurangi penggunaan AC. Tidak perlu bicara terlalu jauh mengenai penghematan energi pemanasan global, dengan mengurangi pemakaian AC, tentu akan mengurangi tagihan listrik kita setiap bulan bukan ?

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

Artikel ini diterbitkan di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

1189556_detailh99

arsitektur

f6509a0c45ada580a951fcc3b2973b9c

gambar-14

Bolig for livet, Velux www.velux.com

images

jendela

living-area

rumah-sehat-tanpa-gerah

Sehat-dan-Hemat-dengan-Jendela-Ramping_thumbnaildetail

Memilih Bahan Konstruksi Dinding (Bagian 1)

 

Dewasa ini kita mengenal berbagai macam material yang bisa dipergunakan sebagai bahan konstruksi dinding. Selain batu-bata yang sudah dipergunakan sejak jaman kolonial, saat ini tersedia batako, beton ringan, beton pra cetak, dan berbagai material alternatif lainnya. Bahkan bambu plester dan styrofoam sudah mulai dipergunakan sebagai material penyusun dinding, walaupun masih sebatas proyek percontohan. Tentu masing-masing material di atas mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Kita perlu mengetahui sifat masing-masing material untuk dapat memperoleh aspek manfaatnya secara optimal. Kita bahas satu-satu ya…

Pembahasan ini kita batasi pada material yang berfungsi sebagai bahan pengisi dinding (non struktural). 

Batu Bata

Batu bata adalah material yang mungkin paling lama dikenal dan hingga saat ini paling jamak dipergunakan sebagai bahan pengisi dinding. Sebelum ditemukannya sistem struktur rangka, yang mengandalkan kekuatan balok dan kolom sebagai penopang kekuatan struktur, batu bata dipergunakan sebagai bahan pembuat struktur dinding pendukung (tanpa kolom dan balok). Karena kekuatan sistem struktur dinding pendukung bertumpu pada penampang dinding, untuk mendapatkan lebar dinding yang cukup, maka batu bata disusun secara melintang dengan panjang batu bata pada lebar dinding. Itulah yang disebut dengan dinding satu bata. Sedangkan teknik penyusunan batu bata yang kita kenal saat ini disebut dengan dinding setengah bata. Hal tersebut dimungkinkan karena batu bata pada saat ini hanya sebagai material pengisi dinding.

Untuk memperoleh permukaan yang halus dan kekuatan dinding yang lebih baik, pasangan batu bata dilapisi dengan plester dan aci di kedua sisinya. Plester dan aci juga berfungsi untuk menahan rembesan air dari luar.

Dinding batu bata mempunyai kelebihan sebagai berikut :

  • Memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap kekakuan struktur
  • Merupakan insulasi yang baik terhadap panas dan suara.
  • Mudah dalam pengaplikasian berbagai macam finishing, seperti cat dan wallpaper
  • Mudah dalam penempelan furniture dan aksesoris.

 

Tetapi dinding batu bata juga mempunyai beberapa kelemahan

  • Bahan bata yang mempunyai ukuran tidak presisi
  • Waktu pengerjaan yang lama
  • Stok material di pasaran tergantung musim, karena sebagian besar masih diproduksi secara tradisional.

 

Kualitas dan kekuatan dinding pasangan batu bata tergantung pada beberapa aspek :

  1. Kekuatan batu bata sebagai material penyusun. Kita mengenal berbagai jenis batu bata di pasaran. Mulai dari yang berukuran kecil hingga besar, mulai dari yang mempunyai permukaan yang halus hingga kasar. Pilihlah batu bata yang cukup kuat (tidak mudah patah) dan mempunyai tingkat kekasaran permukaan yang sedang. Permukaan yang terlalu halus akan mempengaruhi daya rekat antara batu bata dan adukan. Di pasaran memang tersedia batu bata dengan permukaan yang sangat halus yang diperuntukkan bagi dinding batu bata ekspose.
  2. Teknik penyusunan bata. Susunlah bata secara selang-seling untuk mendapatkan kekuatan yang optimal. sebaiknya jangan gunakan batu bata yang telah patah, kecuali patahan setengah yang memang diperlukan untuk bagian tepi. Dalam sekali pemasangan, batu bata maksimal bisa dipasang hingga ketinggian 1m. Setelah itu pemasangan harus dilakukan di bagian dinding yang lain untuk memberikan kesempatan bagi pasangan untuk mengering.
  3. Gunakan jidar (acuan) dengan bahan aluminium untuk mendapatkan pemasangan bata yang lebih presisi. Pemakaian jidar dengan kayu sebaiknya dihindari karena tidak terjamin kelurusannya. Teknik pemasangan bata sangat mempengaruhi tebal tipisnya plesteran. apabila pemasangan bata presisi, maka plesteran akan bisa lebih tipis, yang berarti lebih menghemat bahan, juga sebaliknya. Jidar harus di lot dengan timbangan/bandul karena menjadi acuan secara vertikal. Untuk mendapatkan acuan horizontal dipergunakan benang yang diikatkan di antara 2 jidar vertikal. Acuan benang biasanya diperoleh dengan selang yang berisi air untuk memperoleh posisi vertikal yang sama dengan hukum fisika bejana berhubungan. Jangan lupa, bekalilah tukang dengan water pas untuk mengukur kedataran batu bata yang dipasang. Memang pasangan batu bata tidak akan kelihatan setelah dinding diplester dan diaci, tetapi pemasangan yang lebih baik tentu akan bisa memberikan kekuatan dinding yang lebih baik.
  4. Kekuatan material pasangan. Material untuk pasangan bata menggunakan campuran semen dan pasir yang telah diayak. Gunakan campuran semen : pasir sebesar 1:3 untuk trasraam dan campuran 1:4 atau 1:5 untuk dinding biasa. Dinding trasraam terdapat di kamar mandi, dan bagian bawah dari seluruh dinding dengan jarak 50cm dari sloof. Karena memiliki semen lebih banyak, campuran trasraam ini lebih kedap air daripada adukan pasangan dinding biasa. Fungsinya untuk mencegah rembesan air dari dalam tanah masuk ke dalam dinding. Gunakan semen yang berkualitas baik serta pasir yang bersih. Ada cara mudah untuk mengetahui kualitas pasir. Celupkan saja segenggam pasir ke dalam air. Semakin keruh air yang diperoleh, berarti kualitas pasir semakin jelek karena bercampur lumpur dan tanah.
  5. Plesteran. Pasangan bata dilapisi dengan plesteran setebal 2-3cm. Bahan plesteran sama seperti pasangan, yaitu capuran semen dan pasir ayak. Untuk plesteran bisa mempergunakan campuran dengan semen yang lebih sedikit daripada pasangan, yaitu dengan perbandingan 1:5 atau 1:6 antara semen dengan pasir. Seperti halnya pasangan, kualitas semen dan pasir akan sangat mempengaruhi kualitas plesteran yang dihasilkan. Oh ya, jangan lupa untuk membasahi dinding bata yang akan diplester, supaya pengeringan kedua material yang berbeda tersebut bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan.
  6. Acian. Sebagai lapisan terakhir untuk mendapatkan permukaan dinding yang halus, dinding bata dilapisi dengan acian setebal 3-5mm. Bahan acian adalah semen yang dicampur dengan air. Tentu saja kualitas semen lah yang paling menentukan kualitas acian. Seperti halnya plesteran, jangan lupa untuk membasahi dinding yang telah diplester dengan air, supaya acian tidak terlalu cepat kering. Apabila acian terlalu cepat mengering akan terjadi retak-retak rambut pada permukaan dinding. Tunggu plesteran hingga 3-4 hari sampai mengering betul, barulah bisa dilakukan aplikasi finishing seperti cat dan wallpaper.

Demikianlah sedikit tips untuk memperoleh kualitas dinding rumah yang baik. Penting untuk mengikuti langkah-langkah pemasangan dinding bata secara benar, karena bila terjadi kesalahan dalam pemasangan dinding bata, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain membongkar dinding tersebut bukan ? Semoga bermanfaat.

 ImageImage

 

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

(Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip)

Tulisan Untuk Rubrik Bale, Suara Merdeka