Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Bahan Penutup Atap (bagian 1)

Satu hal yang sama sekali tidak boleh ketinggalan ketika kita membahas suatu bangunan adalah atap. Ya, atap mempunyai dua fungsi utama yang sangat penting. Fungsi yang pertama adalah sebagai peneduh dan pelindung bangunan. Atap melindungi bangunan dari panas matahari dan hujan. Selain itu, atap mempunyai fungsi yang tidak kalah penting dalam aspek estetika. Atap seakan-akan berfungsi sebagai mahkota pada sebuah rumah. Atap adalah elemen bangunan utama yang akan menentukan perwajahan rumah Anda.

Pada rubrik ini, beberapa saat yang lalu kita sudah pernah membahas mengenai pemilihan bahan konstruksi atap, atau kuda-kuda. Nah, saat ini kita akan bahas komponen lain yang tidak kalah penting dalam struktur atap, yaitu bahan penutup atap.

Dalam memilih bahan penutup atap, pertimbangan utama adalah bentuk atap itu sendiri. Pemilihan bentuk atap sangat dipengaruhi oleh style arsitektural yang diinginkan. Misalnya, style modern dan minimalis akan lebih cocok dengan bentuk atap datar, atap dengan kemiringan rendah, atau atap berbentuk pelana. Atap dengan kemiringan sedang lebih netral dan bisa menyesuaikan dengan style arsitektural apapun. Sementara itu, atap pelana dengan kemiringan tajam akan sangat sesuai dengan style arsitektur tropis. Sedangkan atap berbentuk perisai akan sangat cocok dengan style arsitektur tradisional, vernakular, mediteran, dan bangunan bergaya formal.

Nah, setelah menentukan bentuk atap yang sesuai dengan style bangunan yang kita inginkan, ada beberapa pertimbangan yang lain dalam memilih material penutup atap yang sesuai :

  • Bahan penutup atap harus dapat bersifat isolasi yang cukup baik terhadap panas, dingin dan bunyi
  • Harus rapat terhadap air hujan / tidak tembus air.
  • Tidak mengalami perubahan bentuk karena adanya pergantian / perubahan cuaca
  • Tidak terlalu banyak memerlukan perawatan.
  • Tidak mudah terbakar
  • Bobotnya cukup ringan dan mempunyai kedudukan yang mantap setelah di pasang
  • Tahan lama

 

Selain itu, pertimbangan pemilihan bahan penutup atap juga tergantung pada sudut kemiringan atap. Karena material tertentu mensyaratkan sudut kemiringan atap tertentu, yang terkait dengan sistem pemasangan dan sambungannya :

  • Untuk atap yang berbentuk hampir datar (kemiringan 0-10 derajad), kita hanya mempunyai satu pilihan, yaitu menggunakan dak beton. Dak beton yang terlihat datar pun harus mempunyai kemiringan yang cukup (3-5%) supaya air bisa mengalir menuju saluran pembuangan. Kekuatan dak beton sangat bergantung pada saat proses pengecoran. Gunakan bahan campuran beton yang berkualitas baik, yaitu semen, pasir, dan kerikil, dengan perbandingan yang tepat (1 PC : 3 pasir : 5 kerikil). Pada saat proses pengeringan, dak beton tidak boleh kering terlalu cepat. Untuk itu biasanya dak beton yang habis dicor harus ditutup dengan karung basah dan disiram setiap hari. Dengan cara tersebut, proses pengeringan dan pengerasan beton akan terjadi secara kimiawi akibat bonding agent yang terkandung dalam material semen, dan bukan secara fisika akibat perubahan suhu. Bila dak beton terlalu cepat kering, maka akan terjadi retak-retak rambut yang sangat beresiko menimbulkan kebocoran di kemudian hari. Pembuatan atap dak beton haruslah sempurna dan ‘sekali jadi’, sekali saja terjadi kesalahan pada saat pengecoran atau pembuatan dak dan menimbulkan kebocoran, maka akan sangat sulit diatasi dengan metoda apapun. Untuk itu rencanakanlah dengan baik desain dak beton yang akan kita buat, sudut kemiringan, dan arah aliran air, serta saluran pembuangannya.
  • Untuk sudut atap yang kecil (kemiringan 10-25 derajad), gunakan bahan penutup atap yang berbentuk lembaran besar, misalnya seng, asbes, metaldeck (galvalume dan zincalume). Untuk tampilan yang lebih bagus dan insulasi bunyi dan panas yang lebih baik, Andabisa menggunakan bahan atap yang lain yang saat ini sedang ngetrend, yaitu yang berbahan dasar bitumen selulose. Bahan atap jenis ini banyak tersedia di pasaran dengan berbagai merek. Jangan pernah gunakan material genteng untuk sudut atap sekecil ini. Genteng mempunyai celah-celah yang cukup lebar pada sambungannya, sehingga pada sudut sekecil ini akan beresiko terjadi kebocoran karena tampias air hujan.
  • Untuk sudut kemiringan atap sedang (kemiringan 25 – 60 derajad, anda bebas untuk menggunakan material apapun sebagai bahan penutup atap. Sudut ini adalah sudut yang ‘aman’. Pertimbangan yang diambil dalam memilih jenis bahan penutup atap pada sudut kemiringan atap ini, murni berdasarkan estetika.
  • Untuk sudut kemiringan atap tajam (kemiringan 60 – 75 derajad), bahan yang dapat anda gunakan adalah sama dengan atap dengan sudut kemiringan kecil, yaitu asbes, metal deck atau metal sheet, seng, dan bitumen selulose. Anda juga bisa menggunakan sirap, baik sirap alami yang berbahan dasar kayu, ataupun sirap sintetis yang berbahan dasar fiber-cement. Seperti halnya pada sudut kemiringan atap yang kecil, pada sudut kemiringan tajam inipun, penggunaan genteng sangat tidak disarankan. Genteng tidak mempunyai mekanisme penggantung yang sesuai untuk sudut tajam tersebut, sehingga beresiko untuk jatuh atau melorot.
  • Untuk atap dengan bentuk hampir vertikal (75 – 90 derajad), pilihan kita sama seperti bentuk atap yang hampir datar, yaitu dak beton.

 

Demikian sudah kita bahas secara lengkap dan detail, berbagai pertimbangan dan alasan pada saat kita akan memilih bahan penutup atap. Nah , minggu depan akan kita bahas mengenai jenis-jenis material penutup atap itu sendiri beserta karakteristik masing-masing. Jangan sampai ketinggalan ya.

 

(sumber gambar : homeidb.com; interiorminimalis.net; gomallard.com; rumahalami.blogspot.com)

Septana Bagus Pribadi, ST, MT

Staff pengajar Jurusan Arsitektur FT Undip

*) Tulisan ini dimuat di Rubrik Bale, Harian Suara Merdeka

Image

Image

 

Image

 

Image

Image

Image

Advertisements

Maket, Season 2

II . ELEMEN ATAP

Oke, lanjut lagi tentang maketnya.

Kali ini saya akan membahas tentang atap ya. Langsung saja. Bahan-bahan yang biasa dipakai untuk atap bangunan dalam maket adalah :

1. ATAP ACRYLIC.

Di pasaran memang dijual bahan atap khusus maket dari bahan Acrylic. Sudah ada cetakan pola gentengnya dengan berbagai skala, sudah berwarna pulak. Kayak gini nih bahannya :

Tapi terus terang, saya tidak pernah menggunakan bahan atap jenis ini. kenapa ?

  • Motongnya super duper susah. pernah nyoba motong acrylic setebal 2mm? kalau belum, coba dulu sannaaa (nada iklan mie instan). Susah sekali. Lebih dari 10 tarikan cutter dengan kondisi perut kenyang belum tentu bisa terpotong. Dan dijamin, sejak hari kedua memakai bahan ini sudah ada plester yang tertempel di buku ketiga jari telunjuk anda karena lecet kena tekanan cutter.
  • Warna yang available, biasanya merah ngejreng. Mana mau arsitek dikasih warna merah ngejreng kayak gitu, jadi pasti akan diwarna lagi pakai cat. Nah kalau memang mau diwarna lagi, buat apa beli bahan yang sudah ada warnanya.
  • Harganya muahaal. (ini alasan yang utama sebenarnya, hahaaa). Kan sebagai perusahan maket yang mengutamakan profit saya harus berusahan menekan cost produksi seminimal mungkin 🙂

2. BAHAN SINGLE FACE / CORRUGATED PAPER.

Sungguh sangat beruntung bagi para maketor, di dunia packing furniture ada bahan yang dikenal dengan nama single face (kadang disebut corrugated paper). Apanya twoface yang di Batman? nggak ada hubungannya. Kalau anda iseng nyobek-nyobek kardus bekas, anda perhatikan. Bahan kardus biasanya terdiri dari dua lembar kertas coklat yang di tengahnya terdapat kertas coklat lagi yang bergelombang kayak asbes. Nah, single face persis seperti itu, tapi tanpa lapisan pinggir yang kedua.

Ini nih gambarnya.


Single face dijual dalam bentul lembaran atau gulungan. Ada yang berwarna sih. Tapi seperti saya katakan tadi, nggak mungkin mau arsitek dikasih warna-warna dasar kayak gitu. Jadi biasanya saya memilih warna coklat kardus yang nantinya bisa saya warnai sesuka saya.

Bagaimana cara pakainya sebagai atap maket?

  • Potong dulu sesuai bidang atap yang dibutuhkan. Misal atap limasan, ya berarti anda potong 4 buah berbentuk segi tiga.
  • Pola genteng yang vertikal sudah ada, terbentuk dari permukaan single face yang bergelombang. Lalu bagaimana cara membuat pola genteng horizontalnya. Gampang, anda ambil penggaris dan cutter, lalu buatlah irisan horizontal dengan jarak tertentu sesuai ukuran skala genteng pada maket anda. Irisan yang anda buat adalah pada muka bergelombangnya, bukan pada muka yang halusnya. Tapi hati-hati, jangan ditekan terlalu keras. Ingat, anda hanya perlu membuat pola horizontal, bukan memotong. Tapi kadang pola dengan potongan cutter kurang terlihat karena cutternya terlalu tajam. Bila demikian, gunakan ujung jarum (jarum apa saja, jarum pentul, jarum jahit) untuk membuat pola horizontal tadi. Dijamin anda akan cengar-cengir kegirangan melihat hasilnya.
  • Setelah seluruh bidang atap jadi, yaudah tinggal dilem membentuk atap. Jangan lupa pakai ‘lem dewa’ (lem putih hahaa). Anda masih ingat postingan saya tentang lem kemarin? lem putih ketika kering akan bersifat doft, jadi nggak keliatan kalau udah finish.

Bagaimana untuk maket yang lebih detail dengan skala yang lebih kecil, 1 : 50 misalnya? hehee, jangan kuatir. Single face di pasaran ada dua macam, ada yang gelombang kecil, ada yang gelombang besar. Dua ukuran itu kayaknya cukup deh untuk mengakomodasi berbagai skala maket.

3. SEDOTAN KECIL, SEDOTAN BESAR, PEMBOLONG KERTAS, DAN KERTAS DUPLEK.

Wah, buat apa pula kegunaan sedotan kecil (sedotan seukuran sedotan minuman kotak), sedotan besar (sedotan biasa), pembolong kertas, dan kertas duplek pada maket? Weitsss… tunggu dulu, inilah bedanya pendekar maket yang sudah advance dengan tingkat pemula (maaf ya…. songong dikiiit).

  • Sedotan kecil dan besar untuk membuat bubungan. Ya bubungan. Maketor sejati tidak akan puas hanya dengan bidang atap doang tanpa bubungan. Jadi, anda potong sedotan kecil atau sedotan besar itu (sedotan kecil untuk maket skala besar, sedotan kecil untuk maket skala besar) sesuai panjang bubungan pada atap maket anda. Lalu anda BELAH 3/4 nya. Belah? ya, dibelah, karena bubungan yang berbentuk lingkaran sempurna akan jelek dan sulit ditempel pada bagian atas pertemuan bidang atap. Oia, jangan sembarangan memilih sedotan ya. jangan yang murah dan warna warni itu, tapi pilihlah yang agak mahal yang warna putih. Bulatnya akan lebih sempurna. Kalau sedotan kecil dari mana? seperti saya katakan di atas tadi, belilah minuman kotak banyak-banyak.
  • Pembolong kertas buat apa ?. Ya tentu untuk membolongi kertas. Ya, tapi kertasnya yang udah dibolongi buat apa? Bukan kertas yang sudah dibolonginya yang akan kita pakai. Tapi sisa-sisa nya berupa kertas bulet-bulet kecil yang biasanya tersimpan di bawah pembolong kertas itu. Buat apa kertas-kertas berbentuk lingkaran dengan diameter 5-6mm itu? ya untuk menutup ujung bubungan yang pakai sedotan besar tadi? memangnya anda pernah lihat bubungan rumah bolong gitu ? enggak kan ?. Lalu kalau bubungannya pakai sedotan yang kecil bagaimana nutupnya, kan kebesaran kalau pakai kertas limbah pembolong tadi. Sedotan yang kecil cukup anda sumbat dengan lem putih. beres.
  • Kertas duplek. Kertas duplek untuk membuat lisplank. hehehe. (maketor advance po rak?). ya tinggal dipotong saja sesuai skala yang diperlukan, tempel dengan lem putih.

4. CAT PILOX

Kalau maket anda monochrome warna coklat, ya nggak perlu dicat. (dindingnya pakai duplex coklat). Tapi, kalau anda menghendaki warna lain, gunakan cat pilox. Jangan cat kuas ya. Modal dikit laah. Setelah model atap anda tertempel dan lem mengering sempurna. Tinggal finishing akhir aja dengan cat pilox. Bagian ngecat atap inilah yang luar biasa menyenangkan. Menyenangkan karena memang hasilnya akan berubah jadi bagus sekali. Dan kedua, biasanya saya memasang atap adalah benar-benar pada bagian terakhir suatu proses pembuatan maket. Artinya kalau saya sudah memasang atap, artinya ya maket saya sudah hampir selesai, dan tinggal menunggu invoice nya tentu saja. Hahaa.

5. ACRYLIC TIPIS.

Saya tidak pernah mau mempergunakan sampul mika sebagai bahan atap-atap yang transparan, misal skylight, canopy polycarbonate, dll. Kenapa? sampul mika terlalu tipis, dan nanti jadinya pasti melengkung walaupun sedikit. Nggak elite banget. Jadi, rogohlan kocek sedikit, belilah bahan acrylic yang paling tipis. Saya lupa, 0,5mm kali ya? tapi yang jelas jauh lebih tebal daripada mika sampul buku itu, dan bentuknya tidak akan menjadi deformasi.

Kalau polycarbonate biasanya ada garis-garisnya kan? nah semoga anda belum membuang jarum yang anda pakai untuk membentuk pola horizontal pada atap tadi. Dengan jarum itulah anda akan membuat pola garis-garis polycarbonate tadi. Kurang kerjaan ? nggak… worth it kok.

Okeee… sekian dulu ya. Wah jarang nih posting sekaligus 2 malam berturut-turut. Jangan kuatir, episode maket masih banyak,